This Story Will Be Remake

This Story Will Be Remake
Chapter 53. Drama Keluarga



"Adikku."


"Adikku, bangun."


Terdengar samar suara yang memanggil sosok gadis yang tengah terikat dalam penjara bawah tanah. Dengan kedua rantai di tangan, kaki, hingga kepalanya, gadis itu bangun sambil membuka matanya perlahan.


Pandangannya perlahan-lahan kembali, dan mulai melihat jelas sosok yang memanggilnya dengan sebutan adik itu. "Kakak?" Ucap gadis itu menanggapi panggilan tadi. "Syukurlah kamu sadar adikku, Cristya. Kakak sangat khawatir saat kamu pingsan tadi." Ucap sosok itu setengah menangis sambil mengusap kepala Cristya.


"Melihat situasi sekitar, Cristya mulai paham apa yang telah terjadi. Mengapa dirinya bisa dikurung di tempat seperti ini, dan munculnya keberadaan seseorang yang mengaku kakak nya. "Apa maksudnya ini? Lepaskan aku!" Cristya langsung membentak dengan suara lantang dan mengerahkan seluruh tenaganya untuk bisa terlepas dari rantai itu.


Bunyi gesekan rantai yang terpasang terdengar sangat nyaring hingga membuat orang itu terkejut. "Cristya! Beraninya kamu membentak kakakmu seperti ini? Padahal aku sangat mengkhawatirkan mu." Cristya menatap tajam wajah kakaknya seakan siap menerkam kapanpun dia bisa. Bahkan kakaknya juga terkejut tidak percaya, gadis kecil yang dulunya sangat penakut bisa berekspresi seperti itu.


"Cristya. Ku mohon, kamu harus ingat siapa kita ini sebenarnya." Kakaknya berusaha menenangkan Cristya dengan bersikap lembut. Di saat itu, muncul seorang lagi yang nampaknya jauh lebih muda dari pada Cristya. "Kak Cristya jangan marah. Aku rindu kakak, ingin bermain bersama lagi." Ucapnya sambil memegang baju belakang kakak tertua nya.


Penampakan adik Cristya sempat membuat Cristya syok. Beberapa tahun sebelumnya adiknya masih lah nampak seperti manusia. Namun sekarang jangankan manusia, bahkan penampakan nya jauh lebih parah dari hewan. Terdapat mata tambahan di dahinya, tiga buah ekor berwarna hitam pekat, hingga kedua tangannya yang sangat panjang, bahkan melebih tinggi tubuhnya.


"Si-Sira. Apa yang terjadi denganmu?" Tanya Cristya yang tampaknya tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. "Ayah dan kak Dio bilang aku terlihat cantik jika seperti ini, bagaimana menurut kakak?" Sira menjawab demikian dengan senyuman di wajahnya seakan benar-benar memercayai bahwa ia terlihat sangat cantik.


"Jangan menganggapnya aneh, Cristya. Kamulah yang aneh mengapa menentang perkataan ayah kita. Mengapa kamu sampai berbuat sejauh ini." Dio selaku kaka tertua diantara mereka mulai memarahi Cristya cukup keras. Air matanya mengering, dan kuku jarinya yang panjang mendekap Sira dengan lembut.


"Dimana ibu kalian?" Cristya bertanya dengan nada datar, dan nampaknya itu memancing amarah Dio hingga menampar Cristya sangat keras. "Ibu kami? Bukankah beliau juga ibumu? Ibumu sudah menjalankan tugas mulianya dengan baik. Beliau sudah rela berkorban demi kita anak-anaknya, bisa-bisanya kamu berkata seperti itu!"


"Menjalankan tugas dengan baik? Apakah membumi hanguskan ibukota itu kalian anggap mulia? Aku juga tidak pernah mengharapkan hal seperti ini terjadi!" Cristya membalas bentakan kakaknya tanpa ragu sedikitpun. Suasana di sekitar penjara itu mulai terasa sunyi.


"Kamu akan mati di penjara busuk ini. Inilah akibatnya jika menentang perintah ayah. Ayo, Sira." Dio mengakhiri perdebatan itu dan mulai mengajak adiknya untuk pergi. "Satu hal lagi. Kami berdua ini bukanlah produk gagal seperti mu. Selama ada kami, tidak ada siapapun di dunia ini yang bisa menghentikan ayah." Tepat ketika Dio hendak keluar dari ruangan itu, ia mengatakan sesuatu yang membuat Cristya terdiam begitu mendengarnya.


Kini Cristya seorang saja yang tertinggal dalam penjara yang menyiksanya itu. Rantai yang mengekang tubuhnya juga bukanlah rantai biasa. Terdapat sihir selevel circle jingga, sehingga tidak mudah dilepas begitu saja. "Hanya dua. Monster terkuat yang dimiliki ayah hanya ada dua. Aku harus memberitahu Arin terlebih dahulu. Tapi, bagaimana caranya?" Cristya meneteskan air matanya karena merasa tidak berdaya dengan situasi yang kini dihadapinya.


---


"Tidak bisa. Sepertinya mustahil Cristya kembali patuh pada ayah. Dia sudah tidak dibutuhkan." Jawab Dio sambil membungkukkan badannya, diikuti oleh Sira. "Tidak apa, kita biarkan saja. Ambil batu ini lalu telan." Pria tua itu melemparkan masing-masing satu buah batu itu pada Dio dan Sira. Kedua orang itu langsung menelannya tanpa berkata apapun.


"Jika sesuai rencana, seharusnya sebentar lagi kerajaan Luxirous akan kedatangan tamu dari Avantheim. Mereka akan datang kemari guna membahas acara pertandingan antar kerajaan dimana sekolah terbaik di tiap kerajaan akan saling beradu kemampuan. Misi kalian selanjutnya adalah, membunuh utusan dari kerajaan Avantheim."


"Baik, ayah." Jawab Dio dan Sira dengan kompak menerima permintaan pria tua itu. Pria itu melangkah perlahan menuju mereka, kemudian memeluk mereka dengan lembut. "Setelah rencana ku selesai, kita pasti akan hidup bersama. Bersama dengan ibu kalian, dan juga Cristya. Ayo kita wujudkan itu bersama-sama." Pria itu membelai rambut kedua anaknya dengan lembut. Dengan kata-kata manisnya dan penuh harapan, ia berhasil mengambil hati kedua anaknya itu.


Kedatangan utusan dari kerajaan tetangga yang akan berlangsung satu bulan lagi, akan menjadi hari penentuan apakah rencananya berhasil atau tidak.


---


"Loretta!" Loman berteriak ke arah Loretta sambil mendekatinya. Nafas Loman terasa berat akibat berlari dari asrama laki-laki di tengah malam begini. "Dimana Arin?" Ucap Loman sambil memerhatikan sekitar untuk mencari keberadaan gadis itu. Namun karena saat itu situasi masih sangat panik dan seluruh murid perempuan berhamburan keluar, Loman kesulitan mencari keberadaan Arin.


"Sebenarnya aku menemukan ini." Ucap Loretta sambil menunjukkan sepucuk surat. Melihat Loretta menyerahkan itu, ia sudah memiliki firasat bahwa Arin sudah tidak berada disini lagi. "Jangan bilang-..."


Loman mengambil surat itu dan membukanya perlahan. Dalam surat itu, tertulis sebuah lokasi yang sudah Arin berikan tanda. Lokasi yang menunjukkan wilayah Duke Whites, dan berbatasan dengan hutan tempat labirin Elleanor berada. "Bagaimana ini?"


Loretta meminta pendapat Loman sambil berbisik, karena situasi saat ini hanya mereka berdua yang paling mengetahuinya. Ia menggenggam lengan baju Loman. Terasa bahwa saat itu tangan Loretta bergetar akibat ketakutan. Air matanya juga berlinang, sambil berusaha menahan suara isak tangisnya. Bukan karena kejadian yang membahayakan ini, melainkan sesuatu yang bisa saja terjadi pada Arin.


"Tenanglah, Arin tidak selemah itu." Ucap Loman sambil membelai lembut kepala Loretta. Loman menuntun Loretta menuju kursi yang bisa mereka gunakan sebagai tempat istirahat. Ia merendahkan pundaknya agar kepala Loretta bisa bersandar dengan nyaman.


"Aku punya rencana. Semoga saja ini berhasil." Ucap Loman, sambil menatap bulan yang bersinar terang, namun tidak bersama gemerlap nya bintang-bintang di langit.