
"Sial... Apa tadi aku melakukan kesalahan?" Arin bertanya pada dirinya sendiri sambil merebahkan tubuhnya di kasur, sambil berusaha mengingat lagi perasaan saat circle hitamnya keluar. Karena cara yang gadis itu gunakan sudah tepat dan tidak berbeda dengan Loman, maka Arin beranggapan bahwa kesalahan itu berasal dari dirinya sendiri.
Arin mulai bangkit dari dari kasurnya dan mulai membalik lembar demi lembar buku yang berkaitan tentang circle. Tentu saja dengan harapan ia menemukan jawaban mengapa tidak bisa mendapat circle lebih tinggi.
"Hm? Inikan?" Ucapnya saat menemukan bahwa dibuku akademi juga terdapat sebuah cerita yang pernah ia temui sebelum bertemu dengan Ricardo. "Ternyata legenda tentang pahlawan ini cukup terkenal juga."
Lembaran kisah itu Arin simak dengan seksama. Tidak jauh berbeda dengan yang sebelumnya hanya saja ada beberapa detail yang baru Arin ketahui. "Makhluk kuno yang saat itu membantu sang pahlawan, mendapat julukan Divine Beast. Ini terlalu keren jika hanya cerita khayalan."
Seketika Arin teringat bahwa ia memang beberapa kali bertemu dengan monster yang levelnya sangat tinggi. Harpie sendiri juga termasuk evolusi langka yang hampir menjadi legenda. Dengan modal cerita pahlawan itu, ia mencoba untuk mencari tingkatan dari levelnya itu.
"Arin?" Terdengar sapaan tepat ketika Arin membuka pintu kamarnya. "Ah, Senior Cristya. Sedang apa kemari?" Tanya gadis itu sambil menutup pintu kamarnya.
"I-ini. Aku membawakan camilan. Aku membeli ini tadi, dan sepertinya terlalu banyak, hehe." Cristya sedikit menjulurkan sebungkus makanan dengan ragu.
'Cristya selalu berpura-pura membenarkan kacamatanya saat gugup. Lucu sekali.' Pikir Arin sambil menutup mulutnya untuk menahan tawa. "Baiklah terimakasih. Sebenarnya aku ingin pergi menuju perpustakaan. Apa senior mau ikut?"
Ajaknya seakan menghilangkan rasa malu yang tadi menyelimuti wajahnya. Cristya mengangguk dengan semangat dan mulai berjalan bersama Arin menuju perpustakaan.
---
"Memangnya apa yang ingin Arin cari?" Tanya Cristya begitu mereka sampai dan memulai mencari buku. "Aku hanya penasaran akan tingkatan para monster yang ada."
Begitu mendengar hal itu, Cristya langsung menyeret tangan Arin menuju ke suatu tempat di perpustakaan itu. "Aku tahu dimana tempatnya." Tidak butuh waktu lama untuk sampai ditempat yang Cristya maksud. Begitu sampai disana, kebetulan ia menemukan tangga kecil yang digunakan untuk mengambil buku yang lokasinya tidak bisa dijangkau oleh murid lain.
"Coba buku ini." Cristya mengambil sebuah buku begitu berhasil menggapainya dengan tangga kecil itu. Sepertinya Cristya memang mengetahui apa yang Arin cari. Buku itu memang berisi beberapa informasi tentang monster yang ada di dunia ini.
"Hm. Jadi ini silsilah monster di dunia ini." Arin menemukan bahwa puncak dari monster terkuat adalah mereka yang mendapatkan julukan Sanctuary Beast, dan satu tingkat dibawahnya adalah Arch Beast.
'Saat ini aku adalah Harpie. Tapi sebelum berevolusi, aku ada ditahap Arch Nephthys. Apakah itu selevel dengan Arch Beast?' Arin mulai berusaha untuk mengambil kesimpulan dengan mengaitkan dirinya.
"Apakah informasi itu yang ingin Arin ketahui?" Terlihat Cristya sudah turun dari tangga itu dan ikut menyimak apa yang Arin baca. "Ah, iya benar. Sanctuary Beast ini, apa manusia bisa mengalahkannya?"
Penjelasan Cristya sedikit membuat Arin lega karena sepertinya ia cukup kuat untuk bertahan. "Berapa banyak orang di dunia ini yang memiliki circle putih?" Arin bertanya lagi, namun kali ini hanya untuk memastikan siapa saja orang yang perlu ia waspadai.
"Hmmm. Aku tidak tahu. Tapi di Kerajaan kita sendiri setidaknya terdapat 5 orang. Duke Lancelot, Duke Whites, Count Raven, kepala akademi kita yaitu tuan Requaza, dan yang terakhir adalah Raja di kerajaan ini, Leon Pixiss." Jelas Cristya.
'Pixiss? Apa dia ayah dari pangeran mesum itu?' dengan nama-nama itu, setidaknya Arin bisa menjamin hidupnya akan aman selama tidak berurusan dengan mereka. "Ah iya, satu lagi. Bagaimana dengan Divine Beast? Monster itu berada di tingkat mana?"
Seakan tak tahu apa-apa, Arin menanyakan itu dengan raut wajah polos. Cristya terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan itu. "Arin. Divine Beast itu tidak berada dalam rantai kehidupan manapun. Karena keberadaannya saja sebuah kemustahilan untuk dikalahkan. Mereka hanya berdiam diri dan menjaga kestabilan di dunia ini, bahkan ada beberapa wilayah yang memuja mereka."
Mendengar jawaban bahwa ada wilayah yang memuja para Divine Beast itu, artinya pada era sekarang, keberadaan mereka masih ada. Artinya mereka sosok yang jauh lebih berbahaya daripada manusia dengan circle putih. Arin menutup buku itu dan mengembalikannya ke tempat semula. Namun raut wajahnya sedikit terlihat resah.
"Apa kamu takut akan mereka? Jangan khawatir. Mereka itu makhluk berakal. Jadi tidak akan menyeran tanpa alasan." Cristya sepertinya sedikit salah paham mengira bahwa Arin ketakutan. Ia berusaha menghibur gadis itu sambil menepuk pelan pundaknya. 'Karena mereka memiliki akal itulah, mengapa mereka berbahaya.' Pikir Arin sambil memandang tajam Cristya.
"Ah tapi sang pahlawan tidak kalah kuat kok. Pahlawan itu sanggup berhadapan dengan para Divine Beast, seperti dalam legenda. Karena itu, apa ya..." Cristya tampak berusaha mengingat sesuatu.
Jika dipikir pikir, sebenarnya memang aneh. Mengapa para Divine Beast itu mau bekerja sama dengan manusia untuk melawan dewa? Bahkan jika dia adalah Pahlawan sekalipun, tidak mungkin bisa sebanding.
"Ah aku ingat. Sang pahlawan itu, adalah pemilik circle pelangi." Kali ini cerita yang Cristya ucapkan benar-benar terdengar seperti dongen anak yang digunakan untuk menidurkan anaknya. "Anu, senior. Tidakkah senior berfikir cerita itu terlalu dilebih lebihkan?"
"Hmmm. Entah." Mendengar jawaban seperti itu, terlihat jelas bahwa Cristya sendiri tidak mengetahuk kejelasan cerita itu. "Sudahlah, ayo kita kembali." Arin kembali memasang wajah senyumnya dan mengajak Cristya kembali ke asrama mereka.
---
"Terimakasih sudah mau menemaniku, senior." Arin membungkukkan kepalanya dengan perasaan lega karena berhasil mengetahui semuanya. "Tidak apa. Ah, jangan lupa memakan kuenya."
Lagi-lagi gadis itu mulai membenarkan kacamatanya. Sepertinya memang tidak mudah menghilangkan rasa malu di saat seperti ini. "Tentu saja. Suatu saat jika aku butuh bantuan, tolong bantu aku lagi ya senior. Karena senior memiliki pengetahuan yang cukup tinggi akan monster. Dan jangan lupa untuk camilannya lagi. Hehe."
Arin memalingkan wajahnya dan mulai membuka pintu kamarnya. Cristya terdiam sejenak setelah mendengar itu. "Itu karena, ayahku menciptakan monster." Gumam Cristya terdengar pelas di telinga Arin, tetapi terasa samar karena Cristya mengatakan itu dengan suara pelan dan sambil menundukkan kepalanya.
"Ada senior?" Tanya Arin yang terhenti didepan pintu karena merasa gadis itu mengatakan sesuatu. "Tidak ada. Sampai bertemu lagi, Arin." Ucap Cristya yang akhirnya pergi meninggalkan Arin.