This Story Will Be Remake

This Story Will Be Remake
Chapter 38. Dibalik Kematian Arista



Semua orang berkumpul untuk acara pemakaman Arista Lancelot, putri pertama dari keluarga Duke Lancelot yang tewas akibat serangan monster kelas atas. Tidak ada yang mengetahui ataupun melihat kejadian itu. Selain Kepala Akademi yang menyaksikan serta menyingkirkan si monster dengan kedua tangannya sendiri. 


Semua orang menampakkan kesedihan mereka mendengar kabar duka itu. Teman-temannya, para guru, serta keluarga Duke berkumpul dan memberikan tangkai bunga pada peti mati tempat tubuh kaku Arista di baringkan.


Dengan banyaknya suara tangis yang terdengar, hanya Arin yang tidak menunjukkan setitik kesedihan apapun. Ia menunduk, agar wajah datarnya tak bisa dilihat oleh siapapun. 


Dalam proses pemakaman, ada satu hal yang tak terduga terjadi. Putra pertama Duke Lancelot, tidak menghadiri pemakaman adiknya. Hal itu baru disadari para hadirin ketika namanya disebut untuk meletakkan bunga pada peti Arista. 


Dengan tidak hadirnya putra pertama Duke, kegaduhan terpicu untuk mempertanyakan dimana keberadaannya. Bahkan Duke dan Duchess sendiri tampak kebingungan. 


Tak berselang lama setelah itu, terdengar langkah kaki yang cukup nyaring, melangkah dengan tenang menuju peti Arista. 


"Bukankah itu putra pertama Duke Lancelot? Mengapa ia baru datang?"


"Bagaimana bisa keluarga Duke bertindak seenaknya seperti ini?"


Muncul berbagai opini dari para bangsawan yang hadir. Namun bisikan-busikan itu sama sekali tak digubria oleh Putra Tertua Duke. 


Begitu sampai di depan peti, tangan Putra Tertua Duke terulur dan membukanya dengan paksa. Membuat kegaduhan ketika penutup peti menghantam lantai. 


"Apa yang kamu lakukan Aslan?" Duke Lancelot yang melihat aksi konyol putanya sendiri tak bisa menahan dirinya lagi dan membentak. Ia langsung berdiri dan berjalan menuju tempat putranya berdiri.


"Apa kamu tidak tahu malu melakukan hal segila ini didepan peti adikmu sendiri?"


Aslan hanya merespon dengan menatap wajah ayahnya. Matanya penuh akan riak kesedihan dan sesuatu yang membara, kemarahan. Kedua tangannya mengepal di samping tubuhnya ketika ia berbicara, "Apa ayah tidak penasaran, siapa makhluk bodoh yang sudah membunuh adikku?"


"Apa maksud perkataanmu?" Pertanyaan yang diajukan Putra Tertua Duke memang terdengar aneh. Karena fakta bahwa pelaku pembunuhan Arista sudah dibunuh oleh Kepala Akademi, Requaza, benar adanya. 


"Tenanglah, Tuan Aslan. Akulah yang sudah membunuh monster biadab itu." Requaza turut membantu untuk meredakan amarah Aslan, mengingat saat ini bukanlah situasi yang pas untuk hal itu. 


"Aku tahu. Aku sudah tahu. Tapi, setidaknya izinkan aku untuk terakhir kalinya menyelidiki apakah monster yang sudah membunuh adikku benar-benar mati." Raut wajahnya kini terlihat sendu dengan air mata yang bergulir turun, membuat kedua orang yang tadinya hendak menghentikan putra Duke itupun terdiam. 


Aslan kembali melanjutkan tujuannya datang kesana dan meratapi adiknya yang kini berbaring diam tanpa bergerak, bahkan sebatas naik-turunnya dada tanda bahwa seseorang masih bernafas. Taburan bunga kecil memenuhi bagian dalam peti itu, terutama diantara lehernya untuk menutupi bekas luka yang ada. 


Lelaki itu mengambil sehelai rambut Arista, kemudian mengeluarkan sebuah botol kecil. Botol itu terlihat aneh karena bukan botol seperti biasanya. "Ini akan menunjukkan siapa pembunuhnya. Kalau memang dia sudah mati, maka tidak akan ada rekasi sama sekali. Ayah tidak keberatan bukan?"


Ucapan dari lelaki itu membuat Duke terdiam. Perlikau putranya memang tidak sopan, tapi jauh dalam lubuk hatinya, ia mengharapkan dapat menghukum orang yang sudah membunuh satu-satunya putri yang dia punya.


"Baiklah. Aku mulai." Begitu Aslan memasukkan rambut Arista, botol itu kini bereaksi dengan mengeluarkan cahaya yang samar.


'Menemukan pelaku pembunuhan? Berarti aku? Bagaimana jika aku benar ketahuan?' walau berfikir demikian, Arin tetap terlihat santai karena Requaza yang melihat secara langsung kematian Arista pasti akan berpihak padanya. 


Setelah beberapa saat menunggu, cahaya dari botol itu meredup, kemudian hilang. Tidak terjadi apapun, dan suasana kembali hening seperti sedia kala. Hanya saja raut wajah Aslan tampak berubah. 


"Dia! Dia pelakunya! Salah satu guru yang ikut saat misi perburuan itu!" Aslan yang tiba-tiba berteriak membuat semua yang ada disana terkejut. Tentu yang paling terkejut adalah Requaza, karena dialah yang paling tau dalang pembunuhan itu. 


Tanpa basa basi, Aslan langsung mengeluarkan lima circlenya. Cokelat, biru, ungu, dan dua merah.


'Ini dia.' Melihat itu, Arin segera bersiaga agar bisa mengantisipasi serangan yang akan Aslan arahkan. 


Begitu ke-lima circlenya telah siap, dengan cepat ia langsung menuju pelaku yang sudah membunuh Arista. Hanya saja, arah yang ia tuju bukanlah tempat Arin berada namun barisan para guru yang saat itu tengah menghadiri upacara pemakaman.


'Hah? Targetnya bukan aku?' Arin segera melirik arah tujuan Aslan untuk mengetahui orang yang ia incar. 


"Tunggu sebentar tuan Aslan…!" Requaza juga berusaha mengejar Aslan. Kepanikan mulai terjadi dan seluruh tamu, serta murid yang ada langsung berhamburan berusaha menyelamatkan diri mereka.


"Arin, ayo kita menyingkir juga." Loman langsung menarik tangan Arin untuk segera menepi diikuti oleh Loretta. 


"Awas!"


"Menghindar!"


Para guru yang merasa terancam dengan kedatangan tiba-tiba Aslan membuat mereka berlari secara terpisah. Hanya ada seorang yang berdiam diri saat itu. Orang itu mengeluarkan ke-enam circlenya dan langsung membentuk barrier. 


"Kamu yang sudah membunuh adikku!" Kalimat itu Aslan lontarkan pada guru yang tengah menggunakan barrier. Ketika debu-debu yang muncul akibat benturan kekuatan mereka menghilang, akhirnya terlihat jelas siapa guru yang ia maksud. 


"I-itu, guru Reinhard?" Loretta membuka penuh matanya seakan tak percaya jika memang Reinhard lah pelakunya.


Guru yang dimaksud tampak tenang ditengah gentingnya situasi tersebut. "Tenanglah, Tuan Aslan. Bukan aku pelakunya. Mari kita bicarakaan dengan kepala dingin."


"Cih." Aslan langsung melompat menjauh begitu seluruh serangannya berhasil ditahan oleh Reinhard.


Requaza yang berhasil menyulu Aslan kini berdiri tepat disamping Reinhard. 


"Jadi orang itu pelakunya?" Aura yang menakutkan muncul dibalik Aslan.


Duke Lancelot yang baru saja tiba, seakan tampak terbawa emosi begitu putranya menuduh Reinhard sebagai pelaku dibalik kematian putrinya. "Mundurlah anakku… Aku akan memastikan sendiri kematian orang itu dengan kedua tanganku."


Requaza menelan ludahnya sendiri begitu Duke Lancelot berkata demikian. Mau dilihat bagaimanapun, Duke Lancelot merupakan salah satu keluarga dengan kekuatan serang terbesar setelah Duke Whites. 


"Bukan Reinhard pelakunya. Aku yang menjamin hal itu atas namaku dan juga seluruh kehormatan yang aku punya." Dengan sedikit harapan, Requaza berharap bahwa hal itu setidaknya cukup untuk menghentikan kesalahpahaman.


Sayangnya ucapan Requaza tidak didengar oleh Duke Lancelot. "Minggir."


Hanya itu yang ia ucapkan sambil menatap tajam Requaza. Ia mulai mengeluarkan seluruh circlenya dengan circle tertinggi berwarna putih. 


"Aku tidak akan pergi." Requaza juga ikut mengeluarkan seluruh circlenya, dimana warna tertinggi yang ia miliki juga berwarna putih. Itu adalah suasana paling menegangkan yang pernah Arin lihat.


"Apa jadinya jika kedua circle putih saling bertarung?" Gumamnya.