This Story Will Be Remake

This Story Will Be Remake
Chapter 36. Misi Perburuan Selesai



Penyiksaan itu berjalan lambat demi membuat Arin merasakan setiap inci rasa sakit saat tubuhnya dihancurkan. Tak ada yang bisa gadis itu lakukan selain meraung pilu ketika punggungnya terus disayat-sayat. Bergerak sedikit saja, maka benda kecil itu akan semakin menghujam dagingnya dengan kejam. Darahnya menganak sungai dan membuat tanah berwarna merah tua.


Jeritan Arin terhenti ketika tubuhnya hanya menyisakan leher hingga kepala. Requaza tersenyum dingin dan menghancurkan sisa tubuh itu dan melenyapkannya.


"Selamat tinggal." Sebuah salam perpisahan dingin terbawa angin menuju tempat yang jauh.


Senjata-senjata kecil dan keji serta boneka besar pun, sabit milik kepala akademi menghilang. Yang tersisa hanya seorang pria tua yang memandang sendu pada tubuh salah satu muridnya. Dia melangkah pelan mendekati jasad yang dikenalnya karena gadis itu cukup sering dibicarakan para guru dan sering kali keluar-masuk ruang guru untuk membantu.


Jasad milik gadis cantik itu di masukkan kedalam sihir bernama Storage milik Requaza. Setelah tersimpan aman, pria tua itu meninggalkan tempat penuh darah itu demi menuju puncak bukit.


---


Keadaan di puncak dipenuhi oleh beberapa siswa yang menggotong siswa lain yang masih pingsan. Mereka diantar masuk kedalam kastil. Diantara para siswa itu, hanya ada satu guru yang mengarahkan sembari dia memeriksa para murid yang terluka. Pada orang itulah Requaza mendekat untuk mendapat informasi dengan jelas.


Guru itu mendongak dan memberi salam kepada Kepala Akademi setelah menyuruh beberapa murid membawa gadis kecil yang baru saja diperiksanya. Dia terkejut akan kedatangan sang Kepala Akademi, karena dia berpikir bantuan akan datang paling tidak satu jam lagi.


"Apakah ada korban? Dimana bedebah anjing itu?!" Requaza menatap sekilas pada gadis kecil yang di pindahkan menggunakan tandu yang dibuat dengan bahan seadanya.


Si guru memucat untuk beberapa saat ketika di ingatkan dengan pengalaman traumatis itu. Dia mengambil nafas untuk menenangkan diri dan menceritakan secara singkat apa yang terjadi. "Mosnter itu berhasil dikalahkan oleh Reinhard, tetapi pria itu terluka parah dan hampir kehabisan mana."


Requaza mengangguk. Terluka parah dan kehabisan mana bisa disebut keberuntungan. Pria itu melawan si monster anjing seorang diri saat normalnya monster itu ditaklukan oleh sekumpulan orang dengan circle tertentu. Dia mengalihkan tatapannya dan menangkap sosok pria berjasa yang di tandu oleh murid lain untuk memasuki kastil. Dadanya naik turun dengan lemah, matanya tertutup rapat, dan tak ada gerakan lain, seperti tengah berdiri di ambang kematian.


"Baiklah, aku akan mengobati Reinhard." Kepala akademi kembali mengalihkan tatapannya pada guru di depannya. "Lalu gadis yang baru saja di tandu, kenapa lukanya bisa seperti itu?"


Si guru menatap pada gadis yang masih dalam perjalanan menuju kastil. Dia satu-satunya siswa dengan luka paling parah. "Monster itu muncul entah dari mana dan menyerang gadis malang itu. Dia sangat mungil dan terlihat begitu lemah. Namanya, Arin Harast."


'Jadi dia yang Ricardo maksud. Untung saja bukan dia yang menjadi sasaran si monster burung.' Requaza diam-diam menghela nafas lega. Dia tak menggubris si gadis mungil itu karena ada guru lain yang akan menolongnya, sementara dia sendiri akan mengurus Reinhard.


Arin membuka sedikit celah matanya dan menatap langit biru diatasnya ketika dia sudah tak merasakan orang itu mengawasi. 'Sial sekali bertemu dengannya. Circle kuningnya itu benar-benar mengerikan. Kloning yang memiliki skill serta level yang setingkat denganku bisa dihancurkan menggunakan Wind Cutter. Merepotkan.'


Mungkin karena waktu itu si pria tua terlalu marah, dia tak menggubris jika yang di basminya adalah kloning. Terlebih lagi pria itu tak menyadari jika kloning itu miliknya, jadi Arin melemparkan kenangan menyebalkan itu jauh-jauh.


---


Derit pintu kayu mengisi ruangan yang sunyi dimana seorang gadis tengah terbaring tak berdaya di atas tempat tidur. Selimut menutupi hingga dagu dan dadanya naik-turun dengan teratur.


Pemuda di depan pintu itu mendekat dengan pelan, tak ingin membuat gadis itu bangun dan menganggu pemulihannya. Dia mendudukkan diri di pinggiran kasur dan menatap wajah ayu si gadis. "Bagaimana kondisimu, Arin?"


'Suara ini… Will kah? Kira-kira ada apa ya?' Arin bergumam dalam pikirannya. Baru satu hari setelah penyerangan itu dan dia sedang berpura-pura menjadi gadis lemah, mana bisa dia pulih secepat itu. Jadi, Arin mendengarkan Will dengan menutup mata seakan-akan masih pingsan. 


"Maaf karena gagal melindungimu." Kalimat itu terucap penuh dengan penyesalan.


Hati Arin sedikit merasa sakit karena nada sendu Will. Tidak, gadis itu tak menyalahkan pemuda bersurai merah di depannya. Wajar bagi pemuda itu tak bisa melindunginya, sudah untung jika dia tak mati dalam serangan. 


"Tapi jangan khawatir, aku akan menjadi lebih kuat. Cukup kuat hingga bisa melindungimu."


Benak Arin dipenuhi dengan perasaan yang aneh. 'Melindungi' adalah kata yang cukup asing di telinga Arin sejak dia berada di dunia ini. Sejak dia keluar dari cangkang telur yang begitu gelap, hanya dia yang bisa melindungi dirinya sendiri. Tak akan ada yang peduli padanya selain dirinya sendiri dan sekarang mendengar ucapan Will, dia begitu terharu dan merasa bersyukur mempunyai keluarga baru dan teman-teman barunya.


Arin berpikir untuk membuka matanya dan berterimakasih pada Will ketika sesuatu menginterupsinya. Sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya dengan pelan. Arin tak cukup bodoh untuk tak mengetahui apa yang sedang dilakukan si rambut merah padanya. Namun sentuhan itu begitu halus dan tak menuntut, menghadirkan perasaan asing yang anehnya tak terlalu menganggunya.


Bibir Will tetap di sana dan tak bergerak untuk beberapa saat. Dia tersenyum dan menjauhkan diri. Sinar mentari senja yang menyorot dari jendela memandikan Arin dalam cahaya kuning yang membuatnya semakin mempesona. Will mengangkat tangannya untuk merapikan poni Arin dan beranjak pergi.


Arin membuka matanya dengan lebar setelah mendengar suara pintu yang ditutup. Dia terduduk dan menyentuh bibirnya dengan perasaan berdebar-debar yang masih tertinggal.


'Siapa yang melakukan pelecehan pada siapa?!' Arin mengacak rambut putihnya dengan kesal. 'Dimana hati nuranimu, Arin bodoh!'


Tak cukup dengan rambutnya, Arin kembali berbaring dan berguling-guling di atas kasur. Wajahnya memerah entah karena malu, kesal, atau bahkan dua-duanya. Tapi mengingat kata-kata Will, membuat pipinya semakin bersemu.


Andai saja Arin menyadari jika hari itulah untuk terakhir kalinya dia mendengar suara Will, dia pasti tak akan membiarkan pemuda itu pergi dan memaksanya untuk duduk diam di ruangan menemaninya. Jika saja dia tahu, kalau itu adalah pesan terakhir Will untuknya.