This Story Will Be Remake

This Story Will Be Remake
Chapter 01. Desa Manusia



"Dahulu kala, ketika dunia dilanda peperangan selama ratusan tahun. Peperangan yang dilakukan oleh para ras dewa, membuat dunia yang penuh kehidupan menjadi medan perang. Hampir tidak ada air bersih. Berhasil menumbuhkan beberapa jenis tanaman pangan pun merupakan hasil yang luar biasa. Bahkan menemukan hewan untuk diburu rasanya mustahil."


"Pada situasi itu, manusia hanya bisa pasrah akan perang yang bukan buah dari perbuatan mereka. Hingga muncullah sosok yang mereka sebut 'Pahlawan.' Atas kehendak Tuhan Yang Agung, seorang manusia yang memiliki rasa keadilan tinggi mendapat wahyu dan petunjuk agar menghentikan perang tersebut. Untuk melakukan hal itu, 'sang Pahlawan' bekerja sama dengan beberapa makhluk suci yang konon kekuatannya setara dengan ras malaikat ataupun iblis. Pada akhirnya peperangan berhasil dihentikan, dan kehidupan dunia mulai membaik."


"Benar-benar cerita yang berakhir bahagia. Aku masih sedikit tak percaya jika benar-benar telah masuk ke dunia fantasi ini. Padahal sudah berada disini selama 12 tahun," pikir si gadis kecil.


Gadis kecil itu tengah berjalan menuju sebuah desa sambil memegang buku yang diambilnya dari orang yang hampir mencelakainya. Isinya mengenai orang yang disebut sebagai Pahlawan. Dia menggenggam buku itu erat-erat selepas membacanya, kemudian melamun sambil terus berjalan.


Di otaknya kini hanya berisi apa yang akan dia lakukan setelah mencapai desa. Masih jelas di ingatannya mengenai kehidupannya yang dulu. Dia adalah salah satu mahasiswi teladan di Universitas Sayap Bangsa, salah satu universitas paling top di negaranya. Sehingga dia paham betul akan kebutuhan manusia paling dasar, yaitu kebutuhan pokok. Dan, untuk memenuhi kebutuhan pokok tersebut pertama-tama dia harus mendapat uang.


"Apa coba mengemis dengan tampang imut saja? Tidak, itu akan sangat menyedihkan. Satu-satunya cara adalah bekerja. Tapi itu cukup merepotkan. Lagi pula apakah ada pekerjaan yang bisa dilakukan seorang anak perempuan sepertiku? Walau aku sebenarnya cukup kuat, aku tidak bisa menunjukkan hal itu begitu saja." Gadis kecil itu bergumam, lagi-lagi bicara pada dirinya sendiri.


Sepanjang sisa perjalanannya digunakan untuk merenung, memikirkan berbagai hal dan kemungkinan. Hingga perjalanan jauh yang ditempuhnya dengan berjalan menggunakan kaki kecilnya tak terasa. Tahu-tahu, sudah berada di depan gerbang sebuah desa.


Pada pintu masuk desa yang berupa gerbang besar dan tinggi terdapat beberapa orang memegang senjata, yang sebagian besar adalah tombak yang sederhana.


"Apakah mereka penjaga di desa ini?" Gadis itu bergumam di dalam hati, sengaja tak mengeluarkan suara agar tidak disangka gila.


Seorang gadis kecil, dengan langkah mantap menuju gerbang dan dengan pakaian yang agak aneh; hanya sehelai kain coklat yang menutupi rambut dan tubuhnya hingga diatas lutut, sontak mengundang mata warga yang tengah mengantri untuk masuk desa.


"Budak?"


"Pemgemis?"


"Anak buangan?"


Orang-orang mulai berbisik membicarakan gadis itu. Dengan pakaian minim dan bahkan tak layak disebut pakaian, mulai banyak spekulasi yang mereka lontarkan.


Gadis itu sama sekali tak menggubrisnya. Langkahnya masih tetap sama.


Salah satu dari jajaran yang dianggapnya senagai penjaga gerbang datang menghampirinya. Pria itu berucap dengan suaranya yang berat, "Hei nak, siapa namamu dan ada urusan apa disini?


Ah, nama. Gadis itu tak menyangka akan melupakan hal dasar tapi juga penting dalam kehidupan manusia. Dia sama sekali belum memutuskan siapa namanya.


'Kurasa baik-baik saja menggunakan nama lamaku. Aku hanya akan mengatakan kalau namaku Arin dan datang ke desa ini untuk mencari uang, juga keterangan tambahan kalau aku sebatang kara,' begitulah rencana yang sudah tersusun rapi di kepala gadis itu.


"Nama saya-"


"Kyaa!" Gadis itu menjerit alih-alih memperkenalkan diri. Tangannya sibuk menghalangi kain yang melindungi bagian pribadinya agar tak tersibak.


Setelah angin sialan itu pergi, kini yang tersisa adalah rasa panik dan malu. Tentu saja karena didepannya ada seorang pria tua yang sedari tadi menatapnya.


'Apa dia melihatnya? Lagi pula jika terlihat pun aku hanya gadis berusia 12 tahun kan? Kuharap pria tua ini bukan pedofil,' pikir gadis itu sambil perlahan berusaha menatap mata penjaga itu untuk melihat ekspresinya. Penjaga itu hanya diam tanpa bergerak sedikit pun. Alis tajamnya tidak mengerut dan wajah sangarnya masih sama.


"Hahaha, begitu ya." Penjaga itu tertawa, membuat gadis kecil di depannya terkejut karena tak ada aba-aba.


"Jadi namamu Kia? Apa yang dilakukan gadis kecil ditempat seperti ini?" ucap penjaga itu sambil tersenyum, yang memudarkan sedikit wajah gaharnya.


Sementara itu Kia merutuk dengan kesal. Dia mendapat nama baru hanya karena angin hampir menyibak kainnya yang mana merupakan kejadian yang sangat memalukan. Namun, untung saja pria tua itu terlihat seperti tidak menyadarinya.


"Sa-saya ingin masuk desa. Karena saya ini yatim piatu, saya ingin mencari pekerjaan di desa." Gadis itu, atau sebut saja Kia, kembali mengatakan apa yang tadi dia susun di kepala.


"Pekerjaan?" Pria tua itu mengamati Kia dengan wajah ragu.


Gadis mungil di depannya ini mungkin hanya memiliki tinggi sekitar 110 cm. Matanya yang cerah memiliki iris berwarna kuning. Rambut sepunggung nya yang putih atau mungkin lebih pas kalau disebut perak. Usianya mungkin dua belas tahun atau dibawahnya.


Usai melakukan pengamatan sekilas, penjaga itu tersenyum dan mengelus kepala gadis itu. "Baiklah nona Kia, aku akan membantu untuk mencari pekerjaan yang cocok untukmu,"


"Maaf Pak Penjaga, bukan Kia, tapi Arin. Nama saya Arin." Koreksinya sembari mengikuti pria tua itu.


"Begitu?" Pria tua itu tertawa. "Baiklah nona Arin, kamu bisa memanggilku Ricardo."


Ketika melewati gerbang desa, hal pertama yang menarik minat Arin adalah keramaian. Ini pertama kalinya dia melihat banyak sekali manusia di dunia ini. Walaupun tidak bisa dibandingkan dengan kehidupannya dulu, dimana kota tempat tinggalnya merupakan salah satu kota yang memiliki populasi penduduk terpadat di Bumi. Namun, gaya bangunan yang megah ala era pertengahan, pakaian menawan yang berlipat-lipat, serta tingkah laku warganya membuat Arin tertarik.


"Bagaimana? Keren bukan? Desa ini berada di wilayah Count Raven. Count dan Countess Raven sangat memerhatikan wilayah-wilayahnya seperti yang kamu lihat," jelas Ricardo.


"Hmm, indah sekali." Arin menyetujui sambil sesekali melirik Ricardo tanpa sepengetahuannya.


Tidak ada hal yang aneh pada Ricardo. Bahkan auranya terasa tidak berbeda jauh dengan orang lainnya. Hanya saja Arin merasa familiar dengannya. Sesaat Arin seperti merasa pernah bertemu dengan Ricardo di suatu tempat.


'Apa aku pernah bertemu sebelumnya? Tapi sebelum ini, aku masihlah seekor monster.' Pikir Arin yang merasakan kejanggalan itu. Karena tidak bisa mengingatnya dengan jelas, Arin mengabaikan itu dan kembali menyusul langkah Ricardo.