
Dua gadis itu saling berhadapan di tengah arena pelatihan dengan pelatih yang ada di tengah dan teman sekelas yang lain membentuk lingkaran mengelilingi mereka. Arin tersenyum ramah, tetapi di dalam hati sedikit kesal karena gadis itu tanpa sebab mencari masalah dengannya sedangkan Loretta tersenyum miring seakan merendahkan.
"Duel akan dimulai. Kalian diperbolehkan menggunakan beladiri atau sihir, juga penggunaan mana. Pihak yang menyerah atau tidak dapat melanjutkan pertarungan akan dianggap kalah." Pelatih bersiap memberi aba-aba.
Peraturan duel di Akademi Luxirous sedikit unik. Logo pada seragam telah diberi sihir tingkat tinggi. Dimana begitu kedua pihak memutuskan berduel, akan muncul kubah penghalang yang akan menahan peserta duel. Dengan kubah ini, sihir atau mana yang dikeluarkan tidak akan mengenai para penonton di luar arena.
"Loretta Sterna menantang duel Arin Harast!" Loretta memegang logo pada seragamnya.
"Arin Harast dengan senang hati menerima tantangan." Arin menjawab dan melakukan hal yang sama.
Segera, lapisan transparan muncul mengelilingi area pertandingan seluas seratus meter. Membuat kedua gadis itu terkurung.
Loretta mengeluarkan circle-nya yang berwarna coklat dengan dengung yang mengikuti. Gadis itu memasang kuda-kuda bertarung.
Karena lawannya sudah bersiap, Arin ikut mengeluarkan circle-nya. Walaupun tatapan meremehkan sudah menghujaninya sejak tadi, kini bahkan beberapa orang menahan tawa.
Loretta mengalirkan sihir yang menyelimuti kedua tangannya. Setelah sihir keluar, circle perlahan menghilang.
'Berarti circle akan muncul hanya saat hendak mengeluarkan sihir ya,' pikir Arin.
Arin menyadari bahwa hal itu semacam peningkatan kemampuan fisik. Dia masih tidak bergerak sedikitpun karena masih berusaha mengamati lawannya.
Loretta mengambil langkah pertama dengan langsung menerjang kedepan untuk mendekati Arin. Pukulan demi pukulan Loretta lancarkan secara penuh sehingga memaksa Arin mundur. Arin hanya fokus untuk menghindari itu dan membiarkan dirinya tertekan.
'Cukup mudah menghindari ini. Aku bisa bergerak 100 kali lebih cepat. Tapi bukankah itu akan terlihat sangat aneh?' Arin membiarkan dirinya terdesak, sembari memikirkan balasan yang tak akan membuat orang curiga.
'Dengan kecepatan seperti ini tak mungkin bisa menghindar. Apa baik-baik saja menahan dengan tangan? Supaya terlihat seperti pertarungan, mungkin tak apa terpukul satu kali,' pikir Arin cepat ketika kali ini serangan Loretta menyasar wajahnya.
Loretta tersenyum manakala serangannya ditangkis dengan tangan oleh Arin. Walaupun bukan wajah, tetapi dampak serangannya sudah cukup membuat Loretta puas.
Arin terdorong jauh kebelakang dan masih harus berguling beberapa kali. Rasa nyeri timbul di telapak tangan kanannya setelah serangan itu. Darah mulai mengalir dari celah kukunya. Dia tak mengira dampak pukulan yang dialiri sihir bisa sebesar itu.
Arin mengedarkan pandangannya. Banyak teman sekelasnya yang tertawa melihatnya terluka, bahkan beberapa nampak bersemangat. Berharap dirinya akan jadi jauh lebih mengenaskan lagi. Dengan keadaan seramai ini, dimana semua mata terarah padanya, mustahil dia bisa menggunakan passive skill ultraspeed regeneration untuk menyembuhkan lukanya.
Gadis berambut perak itu bangkit dengan perlahan. Matanya menatap penasaran pada serangan apa lagi yang akan digunakan gadis itu.
Loretta mengambil sikap berbeda, tangan kirinya mencengkeram pergelangan tangan kanan dengan telunjuk yang terarah pada lawannya.
'Ah, posisi itu, mirip seperti hendak menembakkan sesuatu,' tebak Arin.
Tak ingin mengulangi kesalahan seperrti terakhir kali, Arin meniru Loretta yang mengalirkam sihir pada kedua tangannya. Hanya saja kali ini gadis itu menyelimuti tangan kirinya alih-alih kedua tangan karena tangan kanannya sedang terluka. Dia sedikit memodifikasi tiruannya dengan memanjangkan sihir pada tangan kirinya menyerupai bilah pedang. Saat itulah circle Arin terlihat memudar dari warna abu-abu pekatnya, bahkan agak transparan.
"Terima ini!" Loretta menembakkan cahaya biru yang terlihat seperti tetesan air raksasa.
Ketika cahaya biru itu semakin dekat dengannya, Arin menangkis dengan pedang sihirnya. Peluru biru itu meledak seketika. Ledakan yang dihasilkan tidak besar tetapi cukup membuat Arin mundur beberapa langkah. Tapi gadis pirang itu belum puas dengan satu peluru, dia terus menembakkan peluru selanjutnya.
Teman sekelas yang menonton semua itu terpukau. Khususnya pada pertahanan yang Arin buat. Tak ada yang pernah menyangka si circle hitam mampu menangkis peluru dari gadis berbakat seperti Loretta.
"Apa mungkin gerakan seperti itu bisa dilakukan oleh circle hitam?"
"Itu bisa dilakukan jika menyelimuti seluruh tubuh dengan sihir, bagaimana bisa?"
"Nggak masuk akal! Gimana dia masih bisa bertahan?"
Bisikan demi bisikan terdengar dari mereka yang menonton. Banyak yang penasaran bagaimana gadis Harast itu bisa sehebat ini.
Loman memikirkan banyak hal dalam otaknya. Sejak Loretta mengajukan duel, dia khawatir Arin akan berakhir dengan mengenaskan dalam waktu singkat. Namun melihat perkembangan duel hingga saat ini, tak pelak dia merasa takjub. Dirinya saja akan kesulitan bila bergerak seperti itu.
Loretta mulai kewalahan. Rasa kesal mulai merayapinya. Kini dia mengganti jari telunjuknya dengan telapak kanan. Gadis itu mengeluarkan bola energi besar dan memperkuatnya dengan mana.
Arin membulatkan mata. Energi sebesar itu sudah cukup untuk membuat seseorang cedera parah. Gadis itu melirik pelatih yang tak berniat melakukan apapun dan menghela nafas.
Bola energi itu melesat cepat setelah ditembakkan. Semua teman sekelas yang menonton panik karena ini bukan serangan main-main. Jika ada korban jiwa, maka yang akan terkena dampaknya tidak hanya Loretta tetapi satu kelas. Semua orang kompak menatap pelatih yang menguap, yang membuat pria tua itu malu.
'Yah. Kurasa tak masalah jika kalah. Itu akan membuatnya puas.' Arin menggunakan sisa sihirnya untuk menambah aura pedangnya agar lebih kuat.
Ketika bola besar itu mendekat, Arin mengangkat tangannya untuk menebas energi sihir itu.
Bola itu meledak dengan suara yang keras pun dengan kilatan cahaya yang membutakan, membuat semuanya menutup mata. Energi yang terpecah tertahan oleh kubah sehingga tak ada yang terluka di luar arena. Sementara Loretta dan pelatih sudah lebih dulu melindungi diri dengan sihir mereka.
Arin tanpa persiapan. Dia terhempas jauh hingga mungkin keluar arena kalau saja tak ada kubah pelindung yang menahannya.
Saat kilatan cahaya hilang, semua orang membuka mata dan sedikit kasihan pada Arin yang jatuh tengkurap. Kepala dan beberapa bagian tubuhnya terluka dan mengeluarkan darah. Mengenaskan sekali.
Penghalang perlahan memudar karena duel telah berakhir. Satu persatu siswa mulai bangun dari keterkejutan mereka. Beberapa anak menghampiri Loretta dan hanya satu orang yang menghanpiri Arin, Loman.
"Istirahatkan Arin dan Loretta di ruang perawatan. Mereka dibebaskan dari kelasku untuk hari ini." Pelatih itu menghela nafas.
Loretta melayangkan pandangan pada Arin. Sulit mempercayai apa yang baru saja terjadi. Gadis berambut pirang itu mengeluarkan circle miliknya untuk melihat berapa sisa energi sihir yang dipunya.
'Padahal serangan tadi menggunakan kekuatan penuh sampai-sampai warna circleku memudar dan menjadi transparan. Semua sihir yang kupunya sudah hampir kugunakan, tapi bagaimana bisa dihalau oleh nya yang hanya circle hitam?' Otak Loretta berusaha menganalisa duelnya barusan.
Loretta mengeluarkan decihan dan berjalan sendiri meninggalkan ruang praktik.