
"Silahkan." Ucapnya membuat Cristya memasuki ruangan itu. Tatapan Loman dan Loretta masih mengarah pada seniornya itu karena merasa kebingungan. "Apa tidak masalah jika mereka ada disini?"
Cristya seakan keberatan karena Loretta dan Loman juga disana membuatnya semakin khawatir. Jarak antara Arin dengan Cristya tidak bisa dibilang jauh, sehingga Cristya mengucapkan hal itu seakan berbisik. "Baiklah. Ayok kita keluar sebentar, Loretta."
"Okeey. Apa sekalian mau membeli sesuatu?" Loman dan Loretta sepertinya mendengar suara kecil Cristya, dan memilih untuk pergi dengan sendirinya. Begitu mereka keluar dan menutup rapat pintu, suasana entah kenapa menjadi sangat hening.
---
"Hei. Kenapa melamun begitu? Jangan bilang kamu sedang memikirkan master lagi." Loretta berjalan disamping Loman sambil memasang ekspresi tidak suka dengan diamnya Loman. "Tidak, bukan itu."
Jawaban Loman yang singkat itu tidak membuat rasa penasaran Loretta hilang. Sepanjang perjalanan mereka membeli makanan, Loretta sedikit mencuri pandangan pada wajah Loman yang tampak aneh karena terlalu fokus. "Haah. Apa kamu segitu nya ingin tahu?"
Loretta hanya mengangguk dengan matanya yang berbinar-binar. "Apa kamu masih ingat pertarungan pertama mu dengan Arin?" Wajah Loretta langsung berubah seketika sambil mengangkat kedua tangannya membentuk sayap dan memasang kuda-kuda aneh. "Kamu mengejek ya? Sekarang setelah mendapat berkah dari dewa, kekuatanku ini setara dengan pahlawan, hiyyaaat."
Loman tanpa pikir panjang langsung mengalirkan sihirnya pada jari telunjuknya dan menyentil dahi Loretta hingga memerah. Kepala Loretta sampai terdorong ke belakang, dan mulai menutupi dahinya sambil menahan air mata. "Hiks."
"Kamu ini ya. Padahal aku serius bercerita. Yah, intinya senjata yang Arin gunakan saat melawan mu, aku melihatnya lagi ketika kita tertimpa reruntuhan." Jelas Loman yang sebisa mungkin mengambil inti agar pembicaraan mereka cepat selesai.
"Senjata? Maksudnya bulu itu? Memang kenapa jika itu terlihat lagi?" Masih dalam posisi berjongkok, Loretta penasaran apa yang aneh dengan itu. "Ah, itu berarti-..." Ketika ia menyadarinya, Loman dengan cepat memotong pembicaraan mereka. "Benar. Artinya Arin saat itu sebenarnya sudah sadar dan membuat senjata bulunya ikut menahan reruntuhan."
Tanpa disadari, mereka berdua berhenti melangkahkan kaki karena keanehan itu. Sebenarnya mereka sudah tahu sekuat apa Arin, namun mengapa ia sampai harus berpura-pura pingsan. "Sebenarnya aku juga melihat hal yang sama saat sedang bermain dengan Tia."
Untuk kedua kalinya, Loman kembali menyentil dahi Loretta. "Kenapa di kepalamu isinya hanya bermain saja?" Loretta pun tidak bisa lagi menahan tangisnya dan berteriak pada Loman, "aku juga serius. Gelang yang Tia gunakan juga sehelai bulu yang Arin gunakan. Sama persis. Bahkan sampai sulit melihat bedanya. Hiks, hiks."
Melihat Loretta yang sampai seperti itu, Loman tampaknya terlalu berlebihan. Ia merendahkan bahunya dan mengusap lembut kepala Loretta sambil meminta maaf. "Sudah, nanti akan aku obati." Tangis Loretta pun mereda, entah karena memang ia tahan atau karena kelembutan Loman yang meredakan nya. Mereka pun melanjutkan pembicaraan tadi.
"Loretta. Jika saja, Arin adalah sosok yang berbeda jauh dari yang kita bayangkan. Apa yang akan kamu lakukan?" Pertanyaan Loman terdengar tidak masuk akal. Tapi jika ia sampai bertanya begitu, artinya Loman sudah mencapai sebuah kesimpulan.
"Aku tidak peduli, karena master tetaplah master. Tapi jika sampai kamu berkata demikian, apakah?" Sepertinya Loretta tidak berusaha membantah pemikiran Loman
"Apa yang pertama terpikirkan saat melihat bulu itu? Loretta?" Kali ini pertanyaan dari Loman membuat gadis itu berfikir keras. Bulu yang sangat indah dan pertama kali ia melihat seperti itu, namun terasa tidak asing. "Entahlah. Bisa saja itu sejenis burung hias. Atau jika berasal dari monster, mungkin bulu Nephthys."
"Benar. Itulah jawabannya."
---
Arin mengangguk pelan sambil melihat Cristya yang mulai mengulurkan kedua tangannya. "Genggam lah." Perintahnya pada Arin. Tanpa pikir panjang, Arin pun menggenggam nya sambil memerhatikan apa yang mau Cristya lakukan hingga seserius itu.
Dengan sangat tiba-tiba, Cristya langsung menyalurkan dan memberikan banyak sekali mana nya pada Arin. Tentu hal ini membuat Arin terkejut bukan main. "Senior? Apa yang senior lakukan?"
Hal ini tidak berlangsung lama. Setelah Cristya selesai menyalurkan hingga setengah dari total mana yang ia miliki, suasana kembali hening. Arin masih kebingungan dengan apa yang sudah senior nya lakukan, namun di sisi lain sepertinya Cristya juga terkejut. 'Mengapa tiba-tiba anak ini memberi ku mana yang besar? Apakah ada sesuatu yang akan terjadi? Tapi sebelumnya saat aku menyalurkan mana ku pada Tia tidak ada apapun.' pikir Arin sambil berusaha mencari jawaban dari tindakan Cristya.
"Anu, senior?" Cristya terbangun dari lamunannya. Karena sesuatu yang ia harapkan tidak terjadi, nampaknya ia harus menjelaskannya sendiri. "Sebenarnya, mana milik manusia tidak bisa terhubung dengan mana milik monster."
'Ah, ternyata ingin memberitahu tentang ini. Untung saja mana ku bisa terhubung dengan manusia walaupun aslinya monster.'
"Namun, itu tidak berlaku pada Homunculus. Itu sebabnya monster yang sudah menghancurkan ibukota itu bisa menggunakan sihir milik manusia." Suara Cristya mulai bergetar ketakutan saat mengatakan hal itu. "Iya, itu memang hal di luar dugaan." Arin memejamkan mata sambil mengangguk menandakan ia setuju dengan ucapan senior nya.
Namun hal yang ingin Cristya ungkapkan bukanlah hal itu. Dan apa yang saat ini ia takutkan bukanlah pada sosok makhluk itu. "Se-sebenarnya. Arin, mana ku juga menolak saat aku salurkan pada manusia. Itu artinya a-aku juga-..."
Pembicaraan Cristya terhenti karena gemetar ketakutan. Arin berusaha mencerna perkataan itu perlahan. 'Mana milik Cristya tidak bisa terhubung dengan orang lain? Tunggu dulu. Berarti-...'
"Senior itu, Homunculus?" Cristya mengangguk pelan begitu Arin menyadarinya. Wajah Arin saat itu sebenarnya tidak menunjukkan ekspresi yang berlebihan, tapi entah kenapa Cristya tidak berhenti gemetaran.
"Ah, aku mengerti senior. Senior ketakutan karena telah mengungkapkan identitas asli senior padaku ya." Cristya masih berdiam diri tidak menunjukkan pergerakan apapun. "Ah i-iya. Itu benar."
Terlihat bahwa ucapan itu terlalu dipaksakan. Arin mulai bangkit dari tempat duduknya dan berdiri di hadapan Cristya. "Ada hal lain yang senior takutkan ya?" Arin mengatakan hal itu dengan senyum di wajahnya. Namun entah kenapa, kali ini senyumnya itu berbeda dengan yang selama ini terlihat.
Arin memejamkan matanya, berusaha mengatur ulang ekspresi nya kembali karena Cristya sudah sangat ketakutan hingga ingin menangis.
"Apa yang senior takutkan sekarang adalah karena mana milik senior yang pasti menolak mana manusia, malah tidak menunjukkan penolakan sama sekali dengan mana milikku ya."
Dengan nada lembut seperti itu, Cristya langsung terjatuh dari tempat duduknya dan berusaha untuk menjauhi Arin. Namun kedua kakinya terasa lumpuh karena ketakutan yang berlebih. "A-arin. Kamu ini, sebenarnya apa?"