This Story Will Be Remake

This Story Will Be Remake
Chapter 14. Putra Keluarga Duke



Semakin lama Arin menimba ilmu, semakin banyak yang di pelajarinya. Berbeda dari hari pertama ketika dirinya tidak mengerti apa-apa, sekarang dia bisa mengangkat sedikit derjatnya karena dia menyerap ilmu lebih cepat dari teman sekelasnya.


Walaupun lingkup pertemanannya masih sama, diantara dua laki-laki yang bagaikan api dan air. Setiap hari libur, ketiganya akan menghabiskan hari bersama. Entah untuk bermain dan mengunjungi berbagai tempat atau hanya tidur di bawah pohon.


"Bagaimana jika besok pergi ke kota?" Will menumpu kepalanya di meja kantin, matanya berbinar penuh penantian.


"Jikat Arin mau, aku tidak keberatan," balas Loman setengah peduli.


Karena akademi ini terletak di ibukota, tentu saja akan ada banyak hal yang menarik. Membuat Arin teringat semua hal yang dia lihat setelah melewati gerbang ibukota bersama Ricardo.


"Tentu saja harus! Kita akan melihat ibukota dari ujung sampai ke ujungnya lagi." Arin menepuk tangannya karena merasa senang.


Karena gadis itu antusias, mereka akhirnya menyusun rencana untuk hari libur mereka. Pagi hari di gerbang sekolah disepakati sebagai tempat berkumpul. Sekarang mereka tinggal menunggu.


Sayangnya takdir suka bermain-main dengan rencana manusia. Arin tak mood untuk tersenyum karena pagi ini sudah menunggu selama tiga puluh menit tapi tak melihat batang hidung dari salah satu temannya. Dia sadar mereka lupa mengatakan jam tepatnya. Kalau begini jam sepuluh juga termasuk pagi.


Arin mengedarkan pandang. Beberapa petugas keamanan berseragam rapi berpatroli dan beberapa siswa seperti dirinya bergerombol keluar dari akademi dengan tawa masing-masing. Arin semakin merasakan suasana hatinya jatuh dan memastikan akan memarahi dua laki-laki itu.


'Aku merasa seperti tertipu.' Arin berjalan menjauhi gerbang.


Di tengah halaman sekolah terdapat kolam yang cukup besar. Gunanya memang untuk menarik perhatian ketika memasuki sekolah jadi tak heran dia langsung duduk di tepi kolam.


Air dalam kolam ini keluar dari pancuran setinggi dua setengah meter yang dibuat dengan indah. Paling atas sendiri tempat dimana air keluar dan turun kebawah melalui wadah-wadah cekung dengan ukuran semakin kebawah semakin besar. Wadah-wadah itu disangga oleh empat punggung kuda.


"Anak burung?"


Arin menoleh kesamping dan menemukan pemuda yang tak dikenalnya. 'Astaga, kali ini siapa lagi?' pikir Arin yang mulai merasa kesal dengan panggilan itu.


"Tidak sopan!" ucap Arin dengan nada agak tinggi sambil menatap ke arah laki-laki itu.


Mereka tak pernah bertemu. Paling tidak Arin tak pernah mengingat wajahnya. Namun, warna logo pada pin di dada kirinya memiliki motif garis berwarna merah.


Arin merubah sikap dalam sekedipan mata. Dia berdiri dan membungkuk pada senior tingkat dua di depannya. "Senior, maaf jika aku berkata kasar."


Pemuda itu tersenyum. Sepertinya nada tinggi Arin tak menganggunya. Ia berjalan mendekat. Kemudian tangan kanannya terangkat untuk membelai rambut Arin. "Indah sekali. Ini pertama kalinya aku melihat rambut perak seperti ini."


Dia tersenyum, tetapi tatapan matanya yang menusuk membuat Arin tak nyaman. 'Ada apa dengan anak ini? Dia sedang menggoda? Dia memang tampan dan berkarisma, tapi dengan kepercayaan diri seperti ini siapa yang tak jijik? Bukan tidak mungkin jika dia juga mesum.'


"Maaf. Aku hanya berniat menggodamu." Pemuda itu berdeham begitu menyadari tatapan Arin. 


Sejak dia manusia pun, Arin memang tak bisa menutupi raut wajahnya jika merasa jijik. Keadaan menjadi canggung begitu pria itu meminta maaf.


"Oh, benar. Tuan Kyle kan?"


"Wah, ternyata rumor tentang wajah tampan putra Duke Whites benar adanya."


"Siapa yang bersamanya itu? Sepertinya tidak asing."


Bisikan yang terdengar hingga telinga Arin itu berasal dari tiga perempuan asing yang berjalan menuju gerbang. 


Namun Kyle tak menggubris perbincangan seru sekelompok gadis itu. Dia masih menatap Arin.


Mulut Arin terbuka. Dia terkejut dengan fakta bahwa pemuda di depannya ini adalah putra seorang Duke. Dia menoleh dan masih tak percaya.


"Pfft! Apa-apaan ekspresi terkejut mu itu? Kamu benar-benar orang yang menarik," ucap laki-laki itu sambil menutup mulutnya yang tertawa.


'Terserahlah. Entah angin apa yang akan menerjang dan masalah apa yang akan datang.' Arin tersenyum canggung menanggapi Kyle yang masih terkikik.


"Siapa namamu? Gadis berambut perak?" Kini nada dari laki-laki itu lebih sopan dibanding sebelumnya. Seakan gelar bahwa dia ini benar-benar dari keluarga duke bukan hisapan jempol belaka. "Nama saya Arin Harast. Siswa tahun pertama." Balas Arin dengan sopan sambil membungkukkan kepalanya.


"Tidak perlu formal begitu. Panggil saja namaku." Ucapnya sambil duduk pada pinggiran kolam itu. Arin masih terdiam melihat tingkahnya. Entah mengapa, firasatnya mengatakan harus menjauhi orang itu.


"Aku sedang menunggu kedua temanku. Kami berencana akan pergi ke kota untuk jalan-jalan." Melihat Arin yang menjawab seperti itu sambil berdiam diri, membuat Kyle sedikit merasa kecewa. "Kemarilah.. Duduk di sebelahku."


Ucapan Kyle tidak mendapat respon dari Arin. Ia hanya menatap Kyle dengan tatapan kosong, yang mungkin saja mengartikan kalau Arin sebenarnya tidak berniat untuk berurusan dengannya.


Kyle terdiam beberapa saat sambil memikirkan bagaimana caranya agar dapat menarik minat Arin padanya. Dan akhirnya muncul sebuah ide yang langsung mengubah raut wajahnya.


"Lihatlah.." Kyle mengeluarkan circle birunya yang berukuran kecil ditelapak tangannya. Kemudian ia arahkan pada genangan air kolam yang tepat berada dibelakangnya. Seketika saat itu air di kolam itu terangkat oleh circle itu hingga seolah-olah Kyle sedang memegang bola air ditangannya.


Kemudian masih dengan circle yang sama, ia membekukan bola air itu hingga menjadi es. "Bagaimana? Keren bukan?" Tanya Kyle dengan ekspresi percaya diri berharap Arin akan terpukau dengan triknya itu.


'Bukankah, itu biasa saja?' Itulah yang Arin pikirkan saat melihat kepercayaan dirinya yang terlampau tinggi. Namun sebisa mungkin Arin tidak ingin menambab jumlah musuh dalam akademi itu, dan memilih untuk menuruti keinginannya.


"Wah.. Benar-benar hebat, senior kyle." Sambil bertepuk tangan kecil, Arin memuji apa yang dilakukan seniornya itu. Melihat Arin seperti itu, entah kenapa Kyle malah terdiam sambil melihat Arin dengan teliti.


Kyle bangkit dari tempat duduknya, dan mulai mendekati Arin perlahan. Perubahan sikapnya yang drastis itu sedikit membuat Arin gelisah. "Se-senior? Sedang apa-" Belum selesai Arin berbicara, kini ia sudah berada tepat didepannya.


Perbedaan tinggi diantara mereka itu membuat Arin harus mengangkat sedikit dagunya agar bisa melihat wajah Kyle dengan jelas. Kini wajah datarnya itu perlahan turun dan berhenti tepat disebelah kepala Arin. Mengatakan sepatah kalimat yang berbunyi, "hey Arin... Seberapa indah wujud aslimu itu?"


Dengan sangat terkejut, Arin terdiam seribu bahasa. 'Apakah orang ini sudah mengetahuinya?'