
"Itulah jawabannya? Maksudnya?" Loretta kebingungan dengan perkataan Loman.
"Monster pembawa malapetaka di labirin Gallahan yang ada di selatan, menurut saksi mata adalah seekor Nephthys." Loretta mulai berfikir kalau itu terlalu mengada-ada. "Kamu berfikir kalau Arin adalah si malapetaka itu hanya karena membawa beberapa helai burung? Sudahlah, ayo pergi."
Loretta mulai berjalan meninggalkan Loman. Loman mengikuti dengan masih memikirkan soal semua itu. Menghilangnya malapetaka yang bersamaan dengan munculnya Arin tanpa identitas, adanya beberapa helai bulu Nephthys pada Arin, serta beberapa kemampuan Arin yang tidak seharusnya dimiliki oleh anak seusia nya.
'Apa itu semua memang benar sekedar kebetulan?' Loman mulai berusaha untu tidak terlalu mengambil pusing hal itu. Apapun kenyataannya, benar seperti perkataan Loretta. Arin tetaplah Arin, apapun itu.
---
"Taraa... Kami sudah membawakan beberapa camilan dan minu-..." Loretta dengan tiba-tiba membuka keras pintu ruangan tepat Arin dan Cristya berada. Namun ia langsung terkejut karena melihat situasi dimana Cristya tampak terduduk dilantai sementara Arin berdiri tepat di depannya. "Apa aku datang di waktu yang tidak tepat?"
Loman menyusul melihat semua itu, namun Arin kini membantu Cristya untuk kembali berdiri. 'Untuk sekarang lebih baik hentikan pembahasan ini. Aku akan berbicara berdua lagi dengan Cristya untuk menjelaskan semuanya karena Loman dan Loretta masih belum mengetahui identitas ku.' Pikir Arin sambil mengatakan bahwa tidak ada yang terjadi.
"Nih silahkan dinikmati." Sambil meletakkan minuman dan beberapa camilan di atas meja, mereka semua memulai suasana dengan menyantap minuman terlebih dahulu. Saat mulai meneguk, Loretta entah kenapa merasakan bahwa suasana hati senior nya sedang tidak enak, dan juga tampak hening karena tidak ada yang berbicara apapun.
"Oh iya master, tahu tidak? Tadi Loman mengatakan sesuatu yang sangat konyol." Loman terkejut begitu mendengar Loretta mengatakan hal itu. "Hey, tunggu-..." Peringatan Loman ia abaikan dan kembali menceritakan inti dari percakapan mereka saat membeli makanan tadi.
"Tadi Loman memikirkan sesuatu yang sangat bodoh dan mengatakan kalau master itu adalah monster. Sepertinya otaknya sudah mulai mengecil ya, aaahahaha." Niat hati Loretta ingin menghibur, malah mendapat respon yang bertolak belakang. Arin dan Cristya sampai sedikit menyemburkan minuman yang hendak mereka telan.
Loretta pun kebingungan dengan hal itu dan mulai bertanya-tanya ada apa. 'Wah. Aku tahu kalau Loman itu cukup cerdas, tapi tidak menyangka akan ketahuan secepat itu.' Arin mulai melihat Loman dengan perlahan, berusaha melihat reaksinya saat itu. Sedikit berbeda dengan Cristya, reaksinya hanya menunjukkan keterkejutan nya saja. Hanya saja minuman yang ia pegang sampai ia lepaskan hingga terjatuh.
"Ah, apa perkataanku tadi ada yang salah?" Ternyata setelah perkataan konyol itu, suasana malah terasa lebih berat dari sebelumnya. Arin menghela napas dan menyerah pada situasi. Ia membulatkan tekad untuk memberitahu mereka sekarang, walau tidak menjamin apakah mereka akan menerima kenyataan ini.
"Sebenarnya Loretta, apa yang Loman katakan itu benar adanya." Dengan sangat cepat Loretta langsung menghampiri Arin dan menggenggam kedua tangannya dengar erat. "Wah sudah ku duga master ini hebat! Keren! Sangat menakjubkan! Ternyata monster pun bisa jadi sosok secantik ini ya. Kyaaa. Master memang hebat!"
'Sifat mu sekarang ini berbeda jauh dengan saat kita pertama bertemu tahu.' Arin mulai kewalahan mendengar ocehan Loretta. Di sisi lain, Loman memang tampak terkejut, tapi reaksinya cukup biasa lagipula dia memang orang pertama yang berhasil menyadari ini dengan sendirinya. "Ternyata memang begitu ya." Ucap Loman sambil mengambil kembali minumannya dan meletakkannya di meja.
"Yah, kurang lebih begitu. Tapi dia juga memberitahu sesuatu yang sangat mengejutkan." Ucap Arin sambil menceritakan secara detail apa yang mereka bicarakan berdua.
"Apa hal yang penting itu?" Loman berkata demikian sambil menarik Loretta kembali agar Arin memiliki ruang untuk bercerita. Dengan memasang wajah cemberut, kali ini Loretta menuruti tingkah Loman.
"Sebenarnya senior Cristya, adalah Homunculus. Namun sepertinya dia berbeda dengan Homunculus lainnya yang tampak kejam. Itu sebabnya senior tidak berbahaya. Senior juga-... " Belum sempat Arin berbicara, Loman langsung memotong pembicaraannya.
"Arin. Keberadaannya saja sudah cukup membahayakan. Kamu bilang kalau melihat senior Cristya saat Homunculus menyerang wilayah ayahku bukan? Bukankah itu pasti ulahnya?" Pernyataan Loman ini membuat Arin terdiam. Namun itu tidak berarti bahwa ia akan menyerah begitu saja.
"Lalu bagaimana denganku? Loman, apa kamu tahu sudah berapa banyak nyawa manusia yang aku bunuh?" Sesaat Loman, Cristya, dan Loretta merinding. Warna mata Arin yang berubah menjadi mata monster itu mengeluarkan aura intimidasi yang sangat kuat hingga tidak bisa membuat mereka bertiga bergerak sedikitpun.
"Jika memang kalian ingin membuat keputusan sepihak hanya karena berbeda ras, maka kita sudah i sekarang juga." Ancaman Arin kali ini benar-benar mengenai hati Loman. Ia sadar bahwa secara tidak langsung Arin ingin memutus pertemanan mereka jika Loman masih berniat membesarkan masalah Cristya. Ia berusaha menahan sebisa mungkin amarahnya pada Cristya yang sudah menghancurkan sebagian dari wilayahnya.
"Maaf." Hanya kata itu yang keluar dari mulutnya sambil menundukkan kepala. Cristya merasa lega sekaligus kebingungan, karena tindakan Arin yang membelanya sampai seperti itu benar-benar tanpa tujuan yang jelas.
"Tidak bisakah kita berusaha saling menerima? Aku yakin tidak akan ada masalah ke depannya jika kita tetap mempertahankan hubungan ini." Arin menghilangkan aura nya dan mengembalikan senyum di wajahnya.
"Lalu, apa yang ingin kamu lakukan sekarang, Arin?" Kali ini mereka melangkah maju dan mulai memasuki diskusi akan keberadaan Homunculus ini. Tentu dalam pembahasan kali ini, mereka hanya bisa mengandalkan informasi dari Cristya yang merupakan salah satu dari mereka.
"Koneksi ku dengan lainnya sudah terputus. Artinya sekarang aku sudah dibuang. Aku tidak tahu dimana dan kapan para Homunculus lainnya akan menyerang. Yang aku tahu hanya satu. Pencipta dari kami Homunculus, adalah ayahku."
Itu merupakan sebuah petunjuk yang amat penting. Dengan adanya bekal seperti itu, akan sangat mudah bagi mereka mencari tahu keberadaan Homunculus itu lebih lanjut. "Berarti sekarang masalahnya ada satu ya?" Ucap Arin yang kini telah mencapai akhir dari diskusi mereka.
"Benar. Sejauh ini, semua orang yakin kalau Cristya adalah seorang anak yatim piatu." Ucapan Loman menandakan bahwa mereka kembali pada jalan buntu. Walau sudah diketahui bahwa pelaku sebenarnya adalah ayahnya, namun itu sia-sia jika tidak ada yang tahu siapa ayahnya.
"Ada satu cara." Ucap Cristya dengan nada pelan dan ragu apakah cara ini memang akan berhasil. "Ayahku sebelumnya pernah melawan sang pahlawan kerajaan Luxirous. Mungkin jika kita bertanya pada beliau, beliau bisa memberitahu."