
"Apa maksudmu wujud asli?" Tanya Arin dengan penuh rasa curiga dan waspada. Ia mundur beberapa langkah untuk menjaga jarak dari Kyle yang masih memasang senyum diwajahnya itu.
Loman dan Will melihat Arin bersama seorang pria dari kejauhan. Semakin dekat mereka, semakin jelas siapa yang berada di depan Arin yang ternyata adalah putra duke.
"Arin, sudah lama disini?" Loman berdiri di samping Arin dan menatap langsung pada mata Kyle.
"Tidak." Arin berbohong, karena takut mereka berpikir dirinya sejak tadi bersama dengan Kyle.
Will agak menjaga jarak, pun dia memastikan mulutnya tetap diam. Kedua tangannya diletakkan dibelakang kepala.
"Ah, jadi namamu Arin. Maaf, sepertinya aku mengganggu waktumu. Aku pamit." Kyle memamerkan giginya sambil berpura-pura tidak mengetahui nama Arin, dan langsung pergi.
Kepergian laki-laki itu membuat Arin membuang nafas. Wajahnya nampak sedikit lelah, seperti bertemu Kyle adalah sebuah masalah.
Will menurunkan kedua tangannya dan berjalan mendekat. Kemudian dengan iseng bertanya, "Tadi ada masalah?"
"Bukan begitu. Dia tiba-tiba datang dan mengajak bicara. Berharap saja tak akan ada masalah." Kegelisahan terdengar sangat kental dalam suara Arin.
Loman melirik Arin. "Dia salah satu murid yang populer. Bahkan bisa dibilang cukup mendominasi kelas dua. Tak mengherankan jika Arista jadi banyak dikenal."
Sepertinya ada yang ganjil dengan ucapan Loman. Firasat buruk merasuki hati Arin saat dia memberanikan diri bertanya, "Memang apa hubungannya dengan Arista?"
Tanpa menyadari keringat dingin yang keluar dari gadis itu, Will berceletuk dengan ceria. "Hubungan? Oh, mereka tunangan!"
'Astaga.. Ini benar-benar astaga. Apa tadi Kyle gila itu mengatakan ketertarikan pada wanita selain tunangannya? Apa dia tau kalau aku sedang berusaha menghindari si Arista itu?' Arin berfikir keras sambil memegang kepalanya. Mendadak pusing.
Loman mendapati perubahan pada rona Arin yang semakin pucat. "Kamu baik-baik saja atau kita batalkan saja jalan-jalannya?"
Senyum kembali pada wajah Arin. Mana bisa rencana mereka harus gagal karena satu putra duke itu, dia tidak bisa menerimanya. "Ah tidak. Tidak apa-apa. Ayo kita pergi sekarang."
Will terkejut ketika tangannya di tarik Arin sedangkan Loman memasang wajah tenangnya seperti biasa. Dengan langkah cepat Arin, ketiganya meninggalkan area akademi.
---
"Ah.. Selamat pagi Tuan Kyle. Apa Tuan sudah lama menungguku?" Arista berlari mendekati Kyle yang tengah menyadandarkan punggungnya pada pohon besar dan melamun.
Kyle menghela nafas. "Sudah berapa kali kubilang, tidak perlu memanggil dengan sebutan Tuan, Arista."
Gadis di depan Kyle tak menanggapi apa yang baru saja dikatakannya. Malahan dia memutar dirinya untuk memamerkan gaunnya. "Bagaimana? Apa hari ini aku terlihat cantik?"
Arista terlahir mempesona. Terlebih dengan statusnya yang kini menyandang tunangan putra duke membuatnya tak bisa mengenakan pakaian kelas menengah kebawah. Apa yang dipakainya harus benar-benar berkualitas. Kain pada gaun kuning dengan perpaduan warna putih dan oranye terlihat sangat halus. Rambut oranyenya di ikat setengah menggunakan pita putih.
"Ya, hari ini kamu benar-benar cantik." Kyle melirik sekilas, terlihat tak tertarik.
Pertungangan mereka berlandaskan politik sebagai penghubung keluarga. Tak ada perasaan apapun dari hati Kyle untuk Arista. Berbanding terbalik dengan gadis itu yang tergila-gila pada tunangannya. Walaupun dia tahu pria itu tak tertarik, tetapi dia akan berusaha mengubah hatinya yang keras.
"Kemarin kamu mengajak putra Count Raven untuk masuk Dewan Siswa?"
Arista sangat senang Kyle berbicara lebih dulu padanya. "Benar! Kemarin aku bertemu dengannya. Aku mengajaknya untuk bergabung, dan nampaknya dia tidak akan menolak." Ada jeda sebentar sebelum dia melanjutkan, "Loman memang tampan tapi tidak sebanding dengan anda."
Senyum Arista surut. Dia terbatuk pelan untuk menutupi kejengkelannya. Pemuda di depannya bertanya seakan tak peduli sembari menatap langit tetapi tak bisa dipungkiri dia merasa tak nyaman. Dia tak mau menjawab. Tentu saja dia cemburu karena pemuda itu dengan terang-terangan menyinggung nama gadis lain di depannya.
"Sudahlah. Ayo kita pergi. Kamu ingin jalan-jalan bukan?" Kyle menyadari keengganan tunangannya dan memilih menyudahi apa yang dia ucapakan.
Arista menatap punggung pemuda itu yang berjalan menjauh. Sembari mengepalkan tangannya, dia menyusul dengan langkah pelan. Dalam hatinya dia bertekad akan memberi sedikit pelajaran pada gadis desa yang dengan tak sopan menggoda tunangannya.
---
"Wah, keren sekali. Ayo cepat!" Arin segera berlari menuju daerah pemukiman di ibu kota begitu melihat ada banyak hal yang menakjubkan.
Makanan, pakaian mewah, aksesoris, boneka, dan lainnya. Setiap beberapa langkah, Arin selalu menemukan toko yang berbeda. Hal itu dikarenakan cukup banyak penduduk asli kota ini yang membuka usaha. Karena ini ibukota, banyak pendatang dari luar. Itu sebabnya keramaian tak akan pernah redup dari tempat ini.
"Hei, pelan-pelan!" Will buru-buru mengejar Arin sebelum gadis kecil itu tertelan kerumunan.
Loman mengikuti dalam diam. Dia dan Will sengaja membiarkan Arin berjalan kemanapun yang dia inginkan karena gadis itu nampak belum pernah ke ibukota.
Gadis berambut perak itu berhenti di toko kecil yang menjual aksesoris. Jiwa perempuannya pun terpanggil melihat pernak-pernik yang imut dan cantik.
"Ayo beli gelang ini, supaya kita terlihat couple," ucap Arin ketika dua pemuda yang seperti menjelma menjadi pengawalnya berhasil menyusul.
Loman memiringkan kepalanya. "Couple? Apa itu?"
Begitu pula Will yang dari wajahnya saja sangat menunjukkan kebingungan.
"Maksudnya kita memakai gelang yang sama. Sekedar sebagai bukti kalau kita bertiga adalah sahabat." Arin tersenyum dan berbalik untuk melihat motif gelang yang ada.
"Boleh. Aku akan ambil warna putih karena warna perak yang seperti rambutmu tidak ada." Will langsung menyambar gelang yang terbuat dari kepangan tali.
Loman tak bicara tetapi tangannya langsung menyambar gelang seperti yang diambil oleh Will.
"Kalau begitu, aku pakai warna apa?" Arin kebingungan, karena warna rambut mereka berbeda.
"Merah saja."
"Hitam."
Will dan Loman kompak menjawab sesuai dengan warna rambut masing-masing.
"Hei, apa-apan itu? Memang mau mengundang kesedihan?" Will mendebat.
"Hitam itu warna elegan. Merah terlalu mencolok." Loman melirik sengit pemuda di sampingnya.
"Mencolok? Yang ada merah itu warna yang membawa keberuntungan. Apa gunanya elegan jika tidak beruntung?"
Loman akan membalas ketika tawa Arin pecah dengan keras. Saat itulah dia urung untuk melanjutkan aksinya. Mempertengkarkan hal kecil ini adalah tindakan yang kekanakan.
"Baiklah. Kalau begitu, aku beli dua-duanya saja." Arin mengambil dua gelang dengan warna berbeda dan memakainya. Dia tersenyum ketika menunjukkan pergelangan tangan kirinya kepada dua pemuda yang menemaninya.