
Semua siswa berbisik. Walaupun begitu, bisikan lebih dari seratus siswa cukup untuk menimbulkan suara dengungan layaknya sepasukan lebah tengah menginvasi padang bunga. Terlebih mimik muka dan gestur mereka yang tampak seperti penggosip profesional.
Namun yang Arin khawatirkam bukan tentang apa yang orang-orang itu gosipkan, meleinkan pada tatapan senior di dekat mejanya itu. Apapun yang ada di dalam kepalanya, pasti bukanlah memikirkan hal yang baik.
"Kalau aku bagaimana? Bukankah aku akan lebih keren daripada dia?" Will bertanya antusias sampai sedikit memajukan badannya.
Arin menyadari perubahan sikap Will. Bagaimana bisa pemuda di depannya ini merubah sikap begitu cepat? Tadi sepertinya masih mau memancing gara-gara padanya, sekarang malah sok akrab. Terlebih, ada apa dengan wajahnya itu? Mimik mukanya seperti anjing yang ingin dipuji oleh pemiliknya.
"Ya. Coba saja." Arin akhirnya menjawab karena tak tahan dengan tatapannya.
Will melirik Loman dan memprovokasinya. Bersikap bangga karena Arin mengakuinya keren. Dia tak marah saat Loman hanya mendengus, malah semakin senang.
"Baiklah, pendaftarannya masih berlangsung beberapa hari kedepan. Jadi pikirkan dengan matang." Arista berbalik dan menjauhi meja mereka.
Kedatangan senior perempuan itu membuat suasana hati Arin jatuh. Melihat dari reaksinya, gadis itu pasti berada di pihak orang yang membencinya.
'Benar-benar hari yang buruk. Setidaknya cukup untuk hari ini,' pikir Arin sambil meletakkan alat makannya.
"Sudah selesai?" Loman melirik makan siang Arin yang baru dihabiskan setengahnya alih-alih menatap gadis itu.
"Aku sudah kenyang. Lanjut saja makannya, aku akan menunggu kalian. Aku akan kembali setelah menaruh piring kotor ini." Arin berdiri dan meninggalkan meja mereka dengan nampan di tangan.
Selagi menuju tempat menaruh piring kotor, Arin bisa merasakan beberapa tatapan siswa lain padanya. Hal itu tak menggagunya sama sekali karena dia sudah memutuskan untuk mengambil sikap 'masa bodoh' dalam situasi seperti ini.
'Perlakuan mereka terang-terangan sekali. Apa aku ini orang pertama yang diperlakukan seperti ini?' Arin meletakkan piringnya pada bak yang disiapkan dan menaruh nampannya di bak lain.
Gadis itu tak langsung kembali ke mejanya, dia berbelok ke kamar mandi untuk mencuci tangan dan wajah. Berpikir kalau hal itu bisa sedikit menjernihkan pikiran.
Ketika sampai di depan pintu kamar mandi, Arin mendengar pertengkaran. Bukan, Arin salah paham, karena dia hanya mendengar satu suara perempuan yang jelas-jelas marah. Dia mendekat untuk mengintip dari celah pintu. Tak lupa menghilangkan hawa keberadaannya supaya tidak ketahuan.
Di dalam sana, ada empat oramg siswi. Tiga diantaranya berdiri mengelilingi saru orang yang duduk tak berdaya. Mereka terlihat seperti tengah melakukan perundungan.
Gadis malang itu hanya melakukan perlawanan dengan menutupi kepalanya. Rambut coklat keritingnya berantakan, dan di beberapa bagian basah oleh cairan merah kental yang mungkin itu adalah darah.
'Melihatnya aku jadi malu. Apa yang kuterima tak ada apa-apanya dibandingkan yang diterima oleh gadis itu.' Arin menundukkan kepala, tak sanggup lagi melihat perlakuan mereka.
Dari apa yang ia dengar, mereka merundung gadis itu tanpa alasan. Sangat keterlaluan. Belum lagi mereka nampak tak akan berhenti.
Arin merasa geram. Dia ingin melakukan sesuatu untuk menyelamatkan gadis malang itu. 'Apa coba ditakut-takuti saja?'
Aura mencekam dilepaskan oleh Arin, yang langsung masuk kedalam celah dan menggelitik setiap tengkuk dari ke empat gadis di dalam sana.
Ketika perundung itu berhenti melakukan aksi mereka. Mereka panik akan kedatangan aura yang tiba-tiba itu. Pintu kamar mandi yang terbuka dengan pelan membuat mereka semakin ketakutan. Namun tak ada apapun dibalik pintu itu, kosong. Jantung mereka hampir copot ketika muncul cakar besar yang memegang dinding tepi kamar mandi.
"Ke-kenapa bisa ada monster disini?" Salah satu gadis dari tiga perundung mencicit karena sangat terkejut melihat cakar yang ukurannya dua kali lipat dari telapak tangan manusia.
Tak ada yang menjawab pertanyaannya. Kedua rekannya sibuk menangani pikiran dan ketakutan masing-masing. Gadis yang berdiri paling kiri jatuh terduduk karena kakinya sudah lemas. Dia tak bisa menghentikan tangan dan kakinya yang terus gemetar.
Gadis paling tengah lebih bernyali. Sepertinya adalah pemimpin kelompok perundung itu. Dia berhasil menangani ketakutannya untuk sesaat dan mengeluarkan dua circle dengan warna coklat dan biru. Namun ternyata ketakutannya kembali begitu cepat, membuatnya terdiam tanpa mengeluarkan sihir apapun.
Lima belas detik yang singkat, tetapi terasa begitu lama bagi ketiga gadis itu. Tekanan dan rasa syok yang mereka terima cukup sampai mengguncang kesadaran mereka. Cakar itu perlahan menghilang dengan aura pekat yang perlahan pudar, suasana kembali normal.
Selain gadis berambut keriting itu, semua orang bermandikan keringat dingin. Masih tak ada yang bergerak walaupun semuanya sudah baik-baik saja.
Arin muncul dari balik pintu. Berpura-pura terkejut ketika melihat mereka, dia menutup mulutnya. "Ada apa? Kenapa ketakutan begitu? Apakah ada yang terjadi?"
Ketiga perundung itu segera sadar. Mereka mengembalikan martabat masing-masing dalam sekedipan mata dan membantu teman mereka yang jatuh untuk berdiri.
"Tak apa, kami hanya kelelahan. Bisa minta tolong untuk bawa anak itu ke ruang kesehatan?" Tanpa menunggu jawaban Arin, gadis yang tadi mengeluarkan circle berjalan pergi di ikuti dua temannya.
Gadis berambut keriting itu mendengar semuanya. Perasaan lega menelusup hatinya ketika tiga orang yang baginya menyerupai iblis itu pergi. Dia mulai meraba lantai, mencari benda yang amat penting untuk penglihatannya.
Melihatnya mencari dengan susah payah, Arin ikut membantu. Dengan mudah dia menemukan kaca mata di dekat sepatunya. Di ambilnya benda itu dan diserahkannya setelah mendekat dan berjongkok di depan gadis itu. "Ini."
Dia menerima kacamata yang diberikan oleh gadis asing di depannya. Dipakainya benda itu sebelum buru-buru mendongak untuk menatap wajah penolongnya. "Ah, terimakasih banyak."
Arin menatap senyum gadis itu. Setelah hal berat yang diterimanya dia masih bisa tersenyum. 'Terbuat dari apa hatimu?'
Gadis itu berdiri dengan bantuan Arin. Walaupun dia merasa nyeri di beberapa bagian.
Dalam hati Arin bertanya-tanya, apakah gadis ini sering di rundung seperti tadi. Tapi dia tak berani menyuarakannya. Jadi dia hanya menanyakan namanya.
"Namaku Cristya. Terimakasih sudah membantuku berdiri. Aku bisa berjalan sendiri." Gadis itu melepaskan diri dari Arin dengan raut terkejut karena rasa nyeri seperti jarum yang menusuk tak dirasakan lagi.
'Aku melakukan kebaikan diam-diam lagi. Menyembuhkanmu tanpa kamu sadari saat membantumu berdiri.' Arin merasa senang melihat ekspresi takjub Cristya.
"Bukan apa-apa." Arin mendongakkan kepalanya karena Cristya lebih tinggi darinya.
Senyum yang dilemparkan Arin sangat manis, terlebih dengan tingkahnya yang semakin membuat gemas. Cristya mencubit pipi Arin tak terlalu keras dan tertawa. "Baiklah, sampai bertemu lagi."
Arin mengelus pipinya ketika seniornya pergi. Tidak sakit tetapi tetap saja rasanya sedikit mengesalkan karena dianggap seperti anak kecil. "Aku tahu aku pendek, tapi tidak sependek anak kecil kan?" Sambil memunculkan wajah datarnya, seakan Arin sedikit tak terima diperlakukan seperti itu. Setidaknya masalah kali ini berakhir lebih baik.
"Yaah, sudahlah... "