This Story Will Be Remake

This Story Will Be Remake
Chapter 21. Pangeran Kerajaan Luxirous



Sejauh mata memandang, hanya kegelapan yang mengisi seluruh ruang. Benar-benar gelap, dimana setitik cahaya pun tak nampak. Namun dalam situasi tersebut alih-alih ketakutan, yang saat ini Arin rasakan adalah kenyamanan.


Walaupun tak ada yang bisa dilihat, ke empat indra lainnya masih mampu bekerja dengan baik. Telinganya menangkap sayup-sayup nyanyian burung yang begitu merdu. Kulitnya merasakan kehangatan yang sering di temuinya ketika berada di balik selimut. Juga, dia mencium aroma apak khas tempat yang jarang ditinggali.


Dengan susah payah Arin membuka kelopak mata. Ruangan itu tak nampak mewah, hanya berisi meja dan kursi, tempat tidur serta nakas disampingnya. Kehangatan yang didapati dalam keadaan setengah sadar tadi benar-benar berasal dari selimut yang terbuat dari bulu binatang. Tubuhnya terasa kaku sehingga untuk duduk perlu sedikit usaha.


Ingatan mengenai apa yang terjadi semalam mengetuk pikirannya. Namun di tempatnya duduk saat ini tak seperti berada di dalam salah satu ruangan di istana. Atau mungkin dia ditempatkan di tempat pelayan karena tampilannya yang sangat sederhana.


Arin kembali menutup mata. Bukan untuk tidur melainkan untuk mencari tahu di mana tepatnya saat ini dia berada. Dalam sekejap, semua yang berada dalam radius seratus meter telah diketahui, entah itu siapa dan sedang melakukan apa atau kemana para semut mengarak buruan mereka.


'Jadi ini bangunan kumuh yang ada diatas bukit? Tentu saja. Istana Kaisar berada di ibukota, dengan jarak sejauh itu mustahil aku bisa ada disana.' pikir Arin sambil melihat-lihat kondisi para kesatria yang dirasakan lewat indranya.


Sebagian dari pria-pria gagah itu tertidur, kelelahan karena semalam mendapat giliran jaga terakhir. Sedangkan sisanya menyebar, menggantikan untuk berjaga diluar bangunan.


Ada seseorang yang sepertinya berjalan mendekat ke ruangan dimana Arin berada. 'Pakaiannya paling berbeda. Jadi dia si pangeran yang membopongku?'


Arin penasaran untuk melihat muka pemuda itu secara langsung dalam keadaan terang karena semalam tidak terlalu jelas karena minimnya penerangan.


Ketika pintu terbuka, mata mereka bertemu. Pemuda itu terdiam untuk beberapa saat, antara terkejut dan lega melihat gadis yang ditolongnya akhirnya bangun. Kemudian dia kembali melangkah kedepan. Kedua tangannya membawa semangkuk bubur dan segelas air di atas nampan.


'Apakah semua keluarga kerajaan itu berambut pirang? Dilihat dari semua novel yang pernah kubaca, sepertinya benar. Berarti bisa saja Loretta sebenarnya adalah anak keluarga kerajaan yang disembunyikan dan ini akan menjadi cerita plot-twist.' Arin tak bisa menahan tawa pada teori serta selera humornya sendiri. Beruntung dia ingat memalingkan wajah sehingga pemuda itu tak bisa melihat ekspresinya.


"Bagaimana tanganmu? Apa sudah baikan?" Pemuda itu meletakkan nampannya di atas nakas.


Arin sontak menoleh pada tangan kanannya dan ingat kalau semalam dia terluka cukup parah. Perbannya asal-asalan, hanya terbuat dari sobekan kain dengan bagian berwarna merah diatas lukanya. Dan melihat lengan kemeja pemuda itu yang hilang sementara lengan satunya masih utuh. Lalu Arin menyadari darimana perbannya berasal.


"Kubantu mengganti perbanmu." Pemuda itu mendudukkan diri di sisi tempat tidur.


Dari balik sakunya, dia mengeluarkan sebuah kit kecil yang berisi perban dan alat medis lainnya. Arin diam saja ketika pemuda itu sibuk mengganti perban kotornya.


"Monster yang menyerangmu semalam adalah monster yang berhasil melarikan diri dari kami. Itu adalah kesalahanku sebagai pemimpin dari pasukan ini. Karenanya aku akan bertanggung jawab dan membawamu ke istana agar mendapatkan perawatan yang lebih baik." Tak ada ekspresi dalam wajah pangeran itu ketika dia bicara.


"Maaf sebelumnya. Kalau boleh saya tahu, siapa anda?" Arin berusaha bersikap seformal mungkin karena tahu kalau pemuda itu bukanlah orang yang bisa disinggung dan mungkin dia orang yang mudah tersinggung.


Gerakan pemuda itu terhenti. Jelas dia terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba gadis didepannya. Di kerajaan ini siapa yang tak mengenalnya? Tapi dia mencoba maklum, mungkin gadis itu berasal dari tempat yang jauh di salah satu sudut negerinya.


Metasakan hawa kecanggungan yang tiba-tiba merebak, Arin menyangka kalau pertanyaannya begitu lancang. Salahnya  karena tidak mencari tahu soal keluarga kerajaan ketika senggang.


"Namaku Alexander Pixiss, Pangeran Kedua Kerajaan Luxirous. Pixiss adalah nama keluarga kerajaan. Sepertinya kamu belum tahu soal itu." Pemuda itu mengangkat sedikit sudut-sudut mulutnya. "Tidak perlu bicara formal. Saat hanya ada kita berdua panggil aku Alex. Jadi santailah selama kita bukan ditempat umum."


Arin menganggukan kepala. Sebelumnya, dia tak pernah mengira akan bertemu dengan seorang pangeran entah itu dikehidupan lalu atau di kehidupan sekarang. Dan setelah melihatnya sendiri, harus Arin akui seorang pangeran memang memiliki aura yang berbeda dengan orang biasa.


"Bagaimana denganmu? Dan kenapa bisa ada di tempat seperti ini?" Alexander menyelesaikan perawatannya pada luka yang sudah tak mengeluarkan darah lagi.


Arin sejenak memikirkan jawabannya sambil menatap perban bersihnya. "Aku dari Akademi Luxirous, murid tingkat satu. Empat hari lagi, murid tingkat satu akan melakukan misi perburuan monster di bukit ini. Jadi aku datang kemari untuk melihat-lihat."


Penjelasan Arin membuat Alex semakin menganggap tindakan gadis itu adalah sesuatu yang bodoh. Hanya saja dia tak menyuarakan hal itu keras-keras karena jika dia dan kesatrianya berhasil mengalahkan semua monster itu, Arin tak akan terluka. "Makanlah dulu sementara aku akan membawakan baju ganti untukmu. Mungkin akan sedikit kebesaran karena baju itu milikku."


Arin mengulas senyum kecil untuk mengapresiasi usaha pemuda itu. Dia mengingatkan Arin pada Loman, tetapi dengan sedikit perbedaan. 'Sifatnya yang pendiam lebih ke arah polos daripada cuek.'


Arin meraih mangkuk bubur yang masih hangat dan memakannya dalam diam sebelum Alexander kembali. Buburnya sederhana dan rasanya sedikit hambar, tetapi Arin terus menyuapkan makanan itu sesendok demi sesendok ke mulutnya. Ketika tak ada lagi yang tersisa dari bubur dan air minumnya, Alexamder mengetuk pintu dan masuk ke kamarnya dengan satu set pakaian yang terlipat rapi.


"Mungkin akan sedikit tidak nyaman, tapi ini lebih baik daripada bajumu yang penuh darah." Alex meletakkan pakaiannya di diatas meja dan berdiri di sisi ranjang.


Arin dibuat bingung dengan tindakan Alexander yang memegang tangan kanan dan pundak bajunya. "Apa yang kamu lakukan?"


Kebingungan Arin menular pada Alexander. Setelah memikirkannya selama 3 detik, ia akhirnya menyadari maksud dari perkataan gadis itu. "Ah, aku akan membantumu mengganti pakaian."  


Tak ada niat jahat dalam suaranya pun dengan senyum manis yang terulas pada bibirnya. Empat sudut imajiner tercetak di pelipis kanan Arin tetapi dia masih menyempatkan untuk membalas senyumnya. Di pegangnya tangan pemuda itu erat-erat.


"Pa~nge~ran~" Suara Arin semanis madu tetapi Alex merasakan ancaman akan racun dibaliknya.