
Matahari bergerak semakin tinggi dan udara semakin panas. Ketiga remaja itu duduk dikursi yang tersedia tak jauh dari alun-alun sambil menikmati sebatang es krim.
"Hm hm.. Eyak sekayi..." ucap Arin sambil menjilat es itu sampai berbicara pun tidak lancar.
Arin merasakan sekali perbedaan antara suasana desa dan ibukota. Disini lebih banyak hal yang menarik. Ada beberapa permainan seperti menebak gelas mana yang berisi botol ataupun melempar batang kayu kecil yang sudah dihias dengan jarum kecil diujungnya lalu diarahkan pada papan untuk menentukan hadiah apa yang akan di peroleh. Semua itu sangat menyenangkan.
'Tentu saja semua permainan itu akan sangat mudah untukku. Tapi jika begitu tidak akan seru. Itu sebabnya sejak awal aku mematikan hampir seluruh passive skill yang aku miliki agar aku menjadi manusia normal,' pikir Arin.
Kelima indra Arin sangatlah tajam sebelumnya. Bahkan Arin memiliki pandangan 360° walaupun sedang menutup mata. Itu sebabnya Arin sering kali terkejut pada Loman pada awal masa mematikan passive skill ini.
"Hm... Apakah nanti si Kyle itu akan datang lagi ya?" Will tiba-tiba berucap mengingat kejadian tadi pagi. "Memangnya ada apa?"
Pertanyaan Arin secara tak sadar membuat Loman dan Will menoleh kearah mereka. "Dia itu terkenal suka bermain dengan wanita. Kamu tidak boleh bermain dengannya lagi Arin." Will berteriak dengan keras yang membuat Arin sedikit terkejut dengan nada bicaranya.
Kyle memang orang yang cukup misterius, namun Arin masih tetap terpikirkan oleh kata-katanya saat itu. Dengan sedikit harapan, Arin mencoba bertanya pada Will dan Loman dengan harapan mereka mengetahui sesuati dari laki-laki bernama Kyle itu. "Apakah senior Kyle memiliki bakat khusus? Atau kemampuan yang langka?"
"Hei.. Jangan memanggilnya dengan sebutan senior. Dia tidak layak dipanggil dengan sebutan itu." Masih dengan nada yang sama Will memalingkan wajahnya dari Arin seakan tidak terima Arin memanggilnya begitu. "Dia memang memiliki bakat khusus. Yaitu bisa merasakan jumlah mana pada seseorang." Ucap Loman yang berhasil menarik perhatian Arin.
'Mana? Apa itu yang membuatnya merasa yakin aku ini bukan manusia?' Arin kembali mencoba menanyakan tentang kemampuan itu pada Loman. "Apakah mana pada monster dan manusia memiliki perbedaan?"
Loman termenung kebingungan dengan pertanyaan Arin. "Entahlah. Tapi menurut informasi yang ada, mana pada monster jauh lebih besar dibanding manusia." Jawab loman dengan sedikit ragu karena itu bukan sesuatu yang pernah dia alami langsung.
'Aha... Jadi karena itu.. Setidaknya dia menduga aku ini monster hanya karena itu, jadi kupikir tidak masalah.' Arin tersenyum lebar setelah cukup puas mendengar jawaban dari Loman dan kembali menikmati es krimnya itu.
"Sekarang kita akan kemana?" tanya Will yang sudah menghabiskan es krimnya.
Arin tak menjawab. Dia asik menjilati es krimnya agar tak meleleh mengotori tangannya.
Sebenarnya gadis itu sudah kehabisan ide akan kemana. Banyak yang ingin ia kunjungi, tapi tidak akan cukup dengan waktu yang singkat ini. Karena harus kembali begitu sore hari.
Suara ribut khas orang bertengkar memasuki telinga mereka. Perkelahian antara dua pihak itu sudah ramai dikerubungi orang sehingga Arin, Loman, dan Will kesulitan untuk melihat dari tempat mereka duduk
"Hm? Ada apa itu?" Arin segera menghabiskan sisa es krimnya dan berlari mendekati kerumunan.
Sebelum berhasil mencapai kerumunan itu, beberapa peluru sihir terpental. Ledakan yang ditimbulkan peluru itu sangat besar. Lebih besar dari yang pernah Arin hadapi saat melawan Loretta.
Tiba-tiba salah satu peluru itu mengarah pada Arin dengan sangat cepat. Gadis itu mengumpat dalam hati, kenapa setelah pindah ke dunia ini dirinya menjadi magnet bahaya.
Loman yang saat itu jauh lebih dekat dengan Arin berhasil tiba dihadapan Arin sebelum peluru sihir mengenai gadis itu
"Barrier!" Loman mengeluarkan circle birunya.
Sebuah lapisan kuning transparan cekung terbentuk di depan Loman dan Arin. Loman dengan sigap langsung memeluk Arin dan mendekapnya erat.
Bunyi ledakan peluru dengan perisai Loman cukup keras. Pemuda itu sedikit terkejut karena perisainya mengalami keretakan akibat menghadang peluru itu. Untungnya peluru meledak terlebih dahulu sebelum sempat menjebol perisai milik Loman dengan debu yang berhamburan.
Begitu situasi di sekitar Loman terlihat membaik, ia melepaskan pelukannya pada Arin. Will pun langsung menghampiri mereka.
"Arin, ada yang terluka?" Tanya Will yang baru saja tiba.
Arin diam sambil menatap Loman. Sebenarnya gadis itu bukan terkejut akan peluru yang mengarah padanya secara tiba-tiba, melainkan karena Loman yang secara refleks melindunginya.
'Ke-keren... Apa seperti ini sensasi yang dirasakan pemeran utama wanita saat dilindungi oleh tokoh utama pria?' pikir Arin sambil menatap kagum Loman.
"A-ah, aku baik-baik saja." Akhirnya Arin menjawab pertanyaan Will sambil menundukkan kepalanya agar wajah malunya itu tidak terlihat.
Begitu debu dan asap disekitar mereka hilang sepenuhnya bersamaan dengan kerumunan yang tadinya ramai menonton, mereka akhirnya melihat beberapa orang yang sepertinya telibat dalam insiden barusan.
Saat itu, Arin terkejut karena dari beberapa orang yang terlibat, ada yang menggunakan satu seragam akademi Luxiorus. Dengan melihat motif seragamnya yang berwarna kuning dari belakang, ketiganya sadar bahwa anak-anak itu adalah tingkat tiga disekolahnya.
Sedangkan yang mereka hadapi adalah lima orang dengan pakaian kasar yang tampak seperti preman.
"Hey orang tua! Apa kamu sadar apa yang baru saja kamu tembakkan tadi? Kalau begitu, bukankah aksi kekerasanku untuk menyiksamu kali ini, bisa dianggap sebagai pembelaan diri?" ucap salah satu dari tiga murid itu.
Dia memunculkan circlenya. Empat circle, degan varian warna cokelat, biru, ungu, dan merah.
'Ah... Itu circle berwarna merah. Baru pertama kali kulihat.' Pikir Arin yang merasakan besarnya energi sihir pada circle itu. Circle merah merupakan circle standart yang dimiliki oleh kesatria dan para petualang yang ada didunia ini. Jadi Arin saat itu menganggap bahwa murid yang memiliki circle merah adalah murid yang cukup berbakat.
"Siapa orang-orang yang sedang mereka hadapi itu?" Will yang berkata begitu sepertinya juga merasa kalau muridiitu terlalu gegabah dan memicu perkelahian yang tampak sukit mereka menangkan. "Lebih baik kita diam saja. Bisa bahaya jika berurusan dengan mereka." Loman juga ikut membuka mulutnya dengan tatapan waspada seakan juga merasakan apa yang Will rasakan.
'Sepertinya anak itu percaya diri sekali. bisa menang. Sekarang, apa yang harus aku lakukan?' pikir Arin sambil berusaha mencari cara agar bisa menangani situasi tersebut. Karena jika saja hal ini berlanjut, Arin khawatir akibat yang akan ditimbulkannya nanti.