
Begitu ledakan terjadi, Reinhard memasang dirinya sebagai tameng dan mengeluarkan seluruh circlenya untuk membuat Barrier demi melindungi semua orang.
"UNBREAKABLE BARRIER...!" Walau suara bising dari monster itu terdengar cukup kencang, namun semua murid yang menyaksikan aksi Reinhard bisa mendengar teriakannya dengan jelas.
Teriakannya memicu seluruh circle yang ia keluarkan agar aktif bersamaan. Membentuk sebuah lapisan dinding yang tebal, dengan ukuran yang membuat murid-murid diasana merasa takjub.
Dalam sekejap, ledakan bunuh diri monster itu langsung menyapu habis seluruh area disana, bersamaan dengan kilauan cahaya dan suara yang teramat Dahsyat. Berkat barrier milik Reinhard, dia berhasik melindungi satu sisi dari bukit Uranus yang tidak lain merupakan tempat para murid itu berada. Sedangkan sisi satunya benar-benar tersapu habis hingga menumbangkan sepertiga dari seluruh hutan di sisi itu.
Mereka selamat dari tragedi, tetapi semua orang tak bisa menahan tekanan energi dan berakhir dengan tak sadarkan diri. Pahlawan tanpa tanda jasa itu adalah Pahlawan sesungguhnya bagi mereka. Tubuh tegapnya menjadi satu-satunya yang masih berdiri. Circle demi circlenya memudar dengan cepat. Ketika kepalanya mendongak untuk menatap langit, dia bersyukur tak ada salah satu dari mereka yang akan pulang dengan nama.
Ketika kaki tak kuasa lagi menahan berat tubuh, dia berakhir dengan menghempaskan diri kebelakang. Namun, bukan kerasnya tanah yang menyambut melainkan sesuatu yang lembut seperti kapas. Tak ada rasa sakit. Sejenak, dia bahkan berpikir jika dirinya telah sampai di tempat yang didambakan setiap orang beragama… surga.
Sosok yang diyakini sebagai malaikat atau bidadari dalam pandangan setengah sadar Reinhard membelai dahinya. Dari sana, dia merasakan aliran energi yang menyebar ke seluruh tubuh. Dalam hangatnya balutan sayapnya yang berbulu, pandangannya semakin gelap.
"Anda berhasil. Guru telah melindungi kami semua." Arin mendesah lega dan tak tahan untuk mengatakannya setelah mengaktifkan skill ultraspeed regenaration.
---
Langkah kaki yang bergerak cepat seiring dengan deru nafas tak berarturan memenuhi kesunyian diantara pohon-pohon yang tumbuh dengan acak. Sangat jelas jika dia kelelahan, tetapi dia tak berniat untuk berhenti. Wajahnya merah dan senyumnya terangkat tinggi hingga terkesan menyeramkan.
Ketika mencapai sebuah bukaan hutan dimana pohon-pohon menjauh dan membentuk barisan melingkar, dia berhenti untuk mengatur nafas. Ditolehkan kepala kebelakang dan tak bisa menahan diri untuk tertawa.
"Rasakan itu, gadis sialan!"
Dia menutup mata dengan kedua telapak tangan. Rasa puas memenuhi seluruh bagian tubuhnya. Dia tak khawatir akan bahaya di alam liar karena jalur pelariannya ini berada di arah yang berlawanan dengan tempat favorit para monster.
Tangannya bergerak turun. Puas dengan tertawa, dia kembali berbalik untuk berjalan. Nada-nada lirih keluar dari mulutnya sebelum dia berhenti karena merasakan perasaan tak enak.
"Halo, Senior Arista," bisikan itu terdengar dari balik tubuhnya, membuat si pemilik nama langsung bergidik.
Walaupun suara itu seakan ada dan tiada, tetapi Arista yakin dia mendengar setiap katanya dengan jelas. Dengan perlahan dia berputar hanya untuk melihat gadis yang tak ingin dilihatnya, berdiri dan tersenyum serta menunjukkan mimik muka polos tak bersalah.
"Arin, sedang apa disini?" Arista menutupi rasa takut dengan senyuman khas miliknya.
Namun topeng itu tak bisa membohongi Arin. Gadis itu berjalan mendekat dengan senyum yang semakin ramah. "Entahlah, Senior. Aku nyaris mati berdiri karena ada monster yang mengincarku, padahal aku adalah gadis baik. Menurut Senior, untuk apa aku disini?"
"Ah, terus terang sekali?" Arin menutupi mulutnya dengan satu tangan. "Kenapa Senior tidak menyerangku? Diantara kita, kamu kan yang lebih kuat."
Arista mengepalkan tangannya ketika melihat gadis itu berlagak. Kini punggung Arin yang menghadapnya memang merupakan sasaran yang empuk, tanpa perlindungan. Lagipula gadis itu hanya circle satu pun dengan warna hitam. Singkatnya, dia yang memiliki dua circle akan lebih mudah mengalahkan gadis itu. Hanya saja, Arista tak bisa menghentikan dirinya yang gemetar karena merasakan hawa yang begitu berat.
"Apa Senior sadar sudah membuat kesalahan fatal?" Arin membuat hawa disekitarnya semakin pekat. Belum lagi mana yang perlahan keluar dari tubuhnya seperti tumpah. "Selamat tinggal."
Setelah salam perpisahan yang di ucapkan dengan tajam itu, gadis berambut perak yang mungil berubah menjadi sosok menyeramkam dengan cakar besar.
Dia ingin berlari, tetapi kakinya seakan menolak untuk bekerjasama. Dia hanya bisa memekik karena panik. "Tu-tungu! Jangan bunuh aku. Aku ini putri dari Marquis Lancelot. Apa kamu tahu siapa ayahku? Kamu tidak akan bisa-"
Arista belum selesai dengan seluruh ucapannya ketika cakar besar nan tajam itu menyasar lehernya. Membuat kepala dan tubuh berpisah menjadi dua bagian.
'Dua belas tahun aku hidup sebagai monster dan selama itu, banyak petualang yang datang untuk membunuhku. Kamu tahu sudah berapa banyak yang aku bunuh supaya bisa bertahan?' Arin menatap mayat seniornya dengan tatapan kosong. Dia mengibaskan darah dari cakarnya dan berbalik.
"Jadi, masihkan aku menjadi manusia?" Suaranya sendiri tertelan oleh suara kepakan sayap ketika dia bersiap-siap kembali ke tempat dimana teman-temannya berada.
---
Kepala Akademi berada di ruangannya yang luas dan tenang. Namun ketenangan itu diganggu oleh seseorang yang membuka pintu tanpa mengetuk dulu. Alis pria tua itu bertaut ketika menatap si tamu tak diundang.
"Profesor, mohon maafkan kelancangan saya, ada keadaan genting." Pria itu berusaha keras mengatur nafasnya dan maju menuju kedepan meja orang paling penting di akademi. "Monster Kelas A, Ancient Hellhound, terlihat di Bukit Uranus."
Pena yang digenggam oleh Profesor Requaza jatuh ke atas meja. Setelah menyusun rencana dengan cepat di dalam otaknya, dia memerintahkan dengan tegas, "Segera kirim pasukan Kesatria Luxirous dengan menggunakan portal untuk mempercepat bala bantuan."
Orang itu mengangguk. Ketika Requaza melewatinya, dia tak tahan untuk bertanya, "Anda hendak pergi kemana profesor?"
"Ada banyak murid junior yang berada disana dan hanya ada satu guru yang mencapai circle enam. Ancient Hellhound hanya bisa dikalahkan paling tidak oleh 8 petualang hebat dengan circle itu. Kau pikir aku akan berdiam diri disini?" Requaza kembali berjalan dengan langkah lebih lebar dan cepat.
Wajah bijaknya sedikit keruh oleh kekhawatiran. Akan jadi masalah besar jika ada korban jiwa. Karena itu, ketika sampai di portal dia langsung memerintahkan untuk menteleportasikan menuju kediaman Count Vallet.
"Dia harus selamat atau aku yang akan sekarat," gumamnya begitu sampai dan langsung menuju Bukit Uranus.