This Story Will Be Remake

This Story Will Be Remake
Chapter 54. Dio Sira vs Arin



Di tengah malam yang dingin, terlihat gemerlap lampu bercahaya di wilayah timur laut kerajaan Luxirous. Ketenangan di malam hari itu dapat dirasakan dari suasana dan keadaan yang terlihat, dan sebagian kecil orang yang masih beraktivitas di malam hari dengan ceria. Bahkan beberapa kesatria patroli yang menjaga keamanan sekitar sesekali ikut berbaur dengan warga disana.


Salah seorang diantara mereka yang tengah menikmati sake di malam yang dingin itu memandangi indahnya langit malam. Dan di saat itulah ia melihat sosok yang melintasi langit dengan sangat cepat. "He-hei. Barusan aku melihat ada sesuatu yang lewat." Ucap pemuda itu sambil menunjuk dengan jari tangannya.


"Sepertinya kamu sudah kebanyakan minum. Pulanglah atau istrimu akan marah besar." Ucap temannya yang masih meneguk sake di tangannya.


Yang pemuda itu lihat memang bukanlah ilusi. Melainkan sosok Harpy yang terbang dengan cepat melewati wilayah Duke Lancelot. "Sebentar lagi sampai." Gumam Arin dengan raut wajahnya yang fokus ke depan. Begitu ia sampai di reruntuhan yang pernah Ricardo ucapkan, Arin langsung mendarat dengan cukup keras.


'Tidak ada yang perlu disembunyikan. Jika memang ini tempatnya, harusnya sebentar lagi aku menemukan sesuatu-...' tepat di saat Arin selesai mendarat, ia langsung disambut belasan Homunculus dari segala hal arah. 'Hah. Lebih cepat dari perkiraan.'


Arin mengeluarkan dua helai bulu nya yang kian membesar dan mengeras, menjadikannya pedang di kedua tangannya.


---


"Ayah. Ada masalah." Dio tiba-tiba masuk ke dalam ruangan pria tua itu bersama Sira. Dio membawa sebuah mata besar seukuran tangannya, yang kemudian melayang seakan memiliki nyawa. Mata itu mengeluarkan cahaya yang menampilkan keadaan yang terjadi di sekitar persembunyian mereka.


"A-apa itu, Harpy?" Pria tua itu merasa sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya. Dia juga menjadi lebih gila hingga meneteskan air liurnya, dan menginginkan Harpy itu untuk dijadikan bahan percobaan nya. "Kalian berdua, pergi dan tangkap Harpy itu sekarang."


Dio dan Sira mengangguk pelan dan langsung keluar untuk memburu Arin. Sementara pria tua itu masih asyik menonton pasukan Homunculus nya yang habis terbantai hanya dengan satu tebasan bulu milik Harpy itu. "Ah, indahnya. Aku, sang profesor Zaen pasti akan membuatmu lebih indah lagi."


---


"Sial. Tidak ada habisnya." Arin mulai mengeluh karena kesulitan menghabisi mereka. Level Homunculus yang Arin lawan sama dengan saat di kediaman Count Raven, dan tidak ada yang selevel dengan Homunculus yang menyerang ibukota. Namun jumlah nya saat ini bukan main.


Arin melayangkan kedua pedangnya di depan, ujung kedua pedang itu bertemu dan mulai berputar. Perputaran itu semakin cepat hingga menimbulkan gelombang mana uang sangat hebat. Begitu perputaran itu mencapai maksimum, Arin membuka mata kuning nya sambil merapal skill, 'Harpy's Feather Duster.'


Dengan kecepatan tinggi, kedua pedang itu langsung memusnahkan banyak Homunculus yang berada di depannya. Hembusan angin yang sangat dahsyat juga langsung mencabik-cabik apapun yang ada di sekitarnya. Dalam satu serangan itu, seluruh Homunculus ada telah terbantai habis. Dan hebatnya lagi, sepertinya serangan barusan mengenai sesuatu di depan sana. Hal itu bisa Arin rasakan karena ledakan puncak yang harusnya terjadi tiga kali lipat daripada yang ia lihat.


'Ah. Ternyata serangan barusan menghantam mereka. Bau mereka mirip dengan Cristya.' Arin terbang perlahan dan mendarat di hadapan kedua sosok yang baru muncul.


"Uhhuuk." Sira batuk darah dan terduduk karena tubuh bagian kanannya habis tak bersisa. Ia menatap Arin dengan tajam dan penuh dendam. "Beraninya kamu mengganggu keluargaku. Tidak ku maafkan!" Risa berteriak mengancam Arin dengan mulutnya yang masih penuh darah mengalir.


Risa secara perlahan mulai meregenerasi kan tubuhnya. Sedangkan Dio langsung memperlihatkan wujud aslinya untuk membunuh Arin, sekaligus mengulur waktu agar Risa pulih kembali. 'Tekanan kali ini sama seperti di ibukota. Dia, selevel denganku.'


Mereka berdua saling menyerang. Benturan dari kedua pedang Arin dengan kedua tangan monster Dio yang mengeras memenuhi area sekitar tepi hutan Elleanor saat itu. Bahkan percikan api serta hembusan anginnya membuat kerusakan yang besar.


Dio menghempaskan Arin dengan kedua lengannya yang besar ke udara, dan langsung menembakkan laser merah dari mulutnya. Arin menahannya dengan kedua pedangnya hingga pecahan laser itu berpencar ke segala arah dan menghancurkan apapun yang disentuhnya. Akhir dari serangan laser itu menimbulkan ledakan di udara hingga membuat Arin tertutupi oleh asap karenanya.


Dari gumpalan asap itu, muncul ratusan bulu yang terbakar oleh api hitam mulai menyerbu Dio. "Bulu api neraka." Saat mengarah ke Dio dengan cepat, Dio malah membungkukkan badannya. Muncul sebuah boneka kelinci dari punggungnya, dimana telinga kelinci ini langsung membesar. Saat ukurannya sudah cukup besar, telinganya langsung meledak dan menciptakan jutaan "Wind Cutter" Yang bagaikan rudal mengejar setiap helai bulu milik Arin.


Karena jumlahnya yang sangat banyak, begitu seluruh serangan Arin ditangkis nya, sisa dari Wind Cutter itu mengarah ke Arin secara bersamaan. "Cih." Arin mendecih dan mempertajam seluruh sayapnya. Ia memutar tubuhnya dan menyelimuti setiap inci tubuhnya dengan sayap kokohnya. Hal ini Arin lakukan selama beberapa detik hingga seluruh Wind Cutter itu tertangkis bersih.


Saat Arin kembali membentangkan sayapnya, ternyata Dio telah selesai melakukan langkah selanjutnya dengan kedua lingkaran sihir di tangannya. Bagian dada milik Dio juga nampak bercahaya, seakan Arin pernah melihat sesuatu seperti ini. 'Cahaya itu, seperti jantung monster yang di ibukota.' pikir Arin sambil mengamati. Tidak sampai se detik, bahkan setelah Arin selesai mengedipkan mata, perut Arin tiba-tiba tertusuk kristal merah darah yang cukup besar.


Arin memuntahkan darah akibat serangan itu. Sebenarnya serangan itu juga bukan serangan fatal karena Arin masih memiliki 'Ultraspeed Regeneration.' Namun saat Arin hendak menyingkirkan benda yang menikam tubuhnya itu, tiga buah ekor yang sangat panjang menikam kedua sayap dan dada Arin. Serangan itu tidak terlihat berasal dari Dio. 'Jangan-jangan-...'


Saat Arin menoleh ke belakang, ternyata Risa telah sembuh total dari lukanya dan tersenyum puas berhasil balas dendam. Dua ekornya yang tertancap pada sayap Arin langsung ia robek dengan cepat dan ekor terakhir ia gunakan untuk menarik Arin ke arahnya. Risa juga membuka mulutnya lebar-lebar yang membesar hendak menelan habis Arin.


'Benar juga. Monster yang sebelumnya saja berhasil mengimbangi Myria, sang Divine Beast. Mengapa aku begitu bodoh sanggup menghadapi mereka?' dalam waktu yang singkat itu, Arin menyadari kebodohannya melawan kedua monster itu.


Detik-detik terakhir sebelum Arin ter lahap, ia melancarkan serangan terakhirnya, "Freeze Zone!" dan langsung membekukan seluruh area tersebut dalam waktu singkat. Nampaknya Risa memiliki resistansi akan itu, terbukti dari hanya mulutnya saja yang membeku, namun cukup untuk membuatnya tidak melahap Arin.


Di celah kecil itu Arin membuat kembali dua pedang nya dan melancarkan skill 'Harpy's Feather Duster' sekali lagi. "Berhenti! Jangaaan." Dio berteriak kencang berusaha menghentikan Arin karena Arin hendak menyerang dari jarak sedekat itu dengan Risa. Namun semuanya terlambat.


Ledakan besar pun terjadi dan menghempaskan Dio cukup jauh. Karena skill itu Arin gunakan cukup dekat dengan dirinya juga, Arin pun terlontar sangat jauh di langit, sampai-sampai keluar dari deteksi Dio.