
Seusai makan, Ricardo langsung mengajak Arin pergi ke rumahnya. Arin memandang langit sambil berjalan mengikuti Ricardo. Sebentar lagi hari akan gelap.
Hari ini benar-benar banyak hal yang terjadi. Ricardo mengatakan bahwa setelah tinggal disini cukup lama, ia akan mengantarkan Arin pergi ke ibukota untuk mendaftarkannya ke dalam akademi.
Akademi sihir? Arin merasa yakin Ricardo mengatakan itu. Apa nantinya akan ada banyak orang yang terbang menggunakan sapu terbang atau mengeluarkan berbagai mantra dengan menggunakan tongkat? Mungkin tidak juga, karena menggunakan sihir sepertinya belum tentu adalah seorang penyihir.
"Papa!" teriak sorang gadis kecil yang baru saja keluar dari sebuah rumah dan melompat ke pelukan Ricardo.
"Tia dari tadi merengek ingin pergi untuk menjemputmu karena hari ini kamu pulang lebih lama. Apa ada masalah sayang?" Muncul seorang wanita dari arah datangnya gadis kecil di gendongan Ricardo.
Dibalik wajah garangnya, ternyata Ricardo tergolong pria yang lembut. Kontras antara sifat dan perawakannya membuat Arin sedikit tidak bisa terima, tapi mau bagaimana lagi. Jangan menilai orang dari wajahnya. Buktinya, pria yang gagah sekali ketika memegang tombak itu bisa begitu lembut menggendong putrinya.
"Ah tidak ada masalah. Hari ini aku bertemu dengan nona kecil ini yang ingin masuk ke desa dan ingin bersekolah di ibukota. Jadi aku hanya memberikan sedikit bantuan saja." Ricardo menjelaskan, kemudian menoleh pada Arin. "Arin, sapalah istriku Mona dan anakku Tia."
"Ah, halo. Nama saya Arin. Senang berkenalan dengan kalian," Ucap Arin dengan sedikit membungkukkan diri.
"Begitu ya, masuklah Arin. Aku akan menyiapkan kamar untukmu," ucap Mona sambil kembali masuk ke dalam rumah.
Tia masih menatap Arin dengan teliti. Matanya yang cukup besar menatap Arin tajam seakan marah karena dia baru saja mengambil barang miliknya. Walaupun begitu pipi tembam dan kepangannya yang lucu membuat siapapun tak bisa merasa tak senang ditatap oleh gadis kecil itu.Usianya mungkin 5 tahun dan mungkin ia hanya sedikit cemburu pada Arin, takut jika kakak perempuan itu akan mengambil ayahnya. Benar-benar anak kecil yang lucu. Jadi Arin hanya bisa tersenyum agak kaku.
"Ayo masuklah Nona!" ucap Ricardo yang membawa Tia dan mulai melangkah masuk.
Arin pun mengikutinya dengan rasa bersyukur karena telah dipersilahkan tinggal di rumah itu.
'Benar-benar sebuah keluarga yang baik,' pikir Arin sambil tersenyum dalam hati.
"Arin.. Ini sudah pagi. Cepat bangun dan bersiap siap untuk pergi." Teriak Mona dari bawah memanggil Arin yang masih berada di kamarnya yang berada di lantai atas.
Sudah beberapa bulan Arin tinggal dengan Ricardo. Kini ia seperti sudah dianggap seperti keluarga oleh mereka. Bahkan Tia juga perlahan mulai membuka hatinya dan menyukai Arin.
Arin sudah siap untuk pergi ke ibukota bersama dengan Ricardo. Gadis itu menggunakan set pakaian yang sama yang Ricardo belikan untuk pertama kalinya. Sebenarnya setelah hari itu, Ricardo membelikan beberapa pakaian lainnya, namun Arin memilih yang ia kenakan sekarang ini karena ini adalah pemberian pertama Ricardo.
"Aku sudah siap," ucap Arin dengan penuh semangat setelah keluar dari kamarnya.
Saat itu Ricardo sudah siap dan Mona sedang membantu Tia makan karena gadis kecil itu tampak memainkan makanannya dari tadi. Terlihat sekali jika suasana hatinya sedang tidak bagus.
"Aku akan menunggu diluar. Makanlah dahulu bersama Tia." Setelah mengatakannya Ricardo segera berjalan keluar. "Kakak mau pergi?" Raut wajah sedih terpapar di wajah Tia yang seakan tak ingin melepas kepergian Arin.
Seusai sarapan, mereka berduan pun pergi menuju gerbang desa. Kereta kuda yang hendak pergi ke ibukota berkumpul di sekitar gerbang. Karena hari ini memanglah hari dimana dibukanya angkatan baru akademi sihir, akan ada banyak orang-orang yang tidak sabar untuk pergi kesana, terutama para orang tua yang hendak menyekolahkan anak mereka.
'Jangan menjadi pemalu dan pendiam seperti di kehidupan sebelumnya,' pikir Arin dengan raut wajah percaya diri.
"Yo, Ricardo! Kali ini kamu mau kemana lagi?"
Walau baru beberapa kali mendengarnya, Arin langsung tahu kalau ini suara dari pria tampan penjual buah. Gadis itu tak bisa menahan senyum manakala melihat sepagi ini pria itu sudah berkeringat karena bersiap membuka tokonya.
Ricardo memberikan penjelasan singkat akan kepergiannya bersama Arin, sedangkan Arin hanya menyimak dengan tenang sambil menyegarkan matanya.
Mengingat ini adalah pertemuan terakhir mereka, Arin sengaja mengamati pria tampan itu lebih lama dan lebih teliti.
Ketika mereka akan pergi, pria tampan itu memberikan tiga jenis buah untuk Arin. Walau hanya tiga, tetapi tampaknya itu hampir membuat tasnya penuh. Namun, itu lebih baik daripada membawa tas kosong.
"Tuan Muda, Count dan Countess memanggil anda," ucap seorang pelayan wanita pada laki-laki yang tengah melihat keluar dari jendela kamarnya.
Usianya empat belas tahun, rambut hitamnya cukup panjang untuk ukuran laki-laki karena sampai menutupi kedua alisnya. Pakaiannya yang tampak rapi seakan sudah bersiap untuk pergi.
"Ayah dan ibu? Ah, sekarang waktunya berangkat ke akademi ya? Sampaikan bahwa aku akan segera turun." Tuan Muda menimpali tanpa berbalik.
"Baik, Tuan Loman," jawab pelayan itu dan langsung pergi.
Ini memang hari dimana akhirnya Loman, putra kedua Count Raven bersekolah di Akademi Sihir ibukota. Karena memang sebagian anak yang pergi bersekolah adalah keluarga bangsawan. Alasannya juga cukup masuk akal. Karena keluarga bangsawan memiliki kemampuan yang cukup untuk menjadikan anak mereka mendapat circle satu di usia mereka yang masih kecil. Itu karena batu mana core yang menjadi inti terbentuknya circle, memiliki harga yang cukup mahal untuk bisa dibeli oleh rakyat biasa.
Terdengar dengungan rendah ketika Loman mengeluarkan circle miliknya yang berwarna biru.
"Di sekolah nanti pasti ada persaingan yang terjadi karena tiap anak akan berusaha menjadi lebih hebat dari anak lainnya. Tapi semoga saja aku tidak terlibat dalam persaingan yang kekanak-kanakan," guman Loman sambil memegang kartu identitasnya.
Pada kartu identitas itu tertulis namanya, Loman Raven. Dengan tinggi 150 cm dan berat 45 kg. Levelnya sendiri berada di tingkat 14 dengan circle berada di tahap 1.
Loman menatap cukup lama kartu yang sebenarnya ia anggap tidak berguna itu. Setelah menghela nafas, Loman berbalik dan melangkah untuk menemui kedua orang tuanya yang tengah bersiap pergi ke ibukota.
"Menyebalkan," ucap Loman sembari meraih mantel hitamnya dan memakainya selagi terus berjalan.