This Story Will Be Remake

This Story Will Be Remake
Chapter 27. Homunculus Part 4



"Senior!"


Fokus Cristya teralihkan ketika mendengar seseorang berteriak. Nadanya tak asing dan dia menolehkan kepala dari kepulan asap yang membumbung tinggi ke arah gadis berambut perak di dekat keretanya.


"Arin?" Cristya membenahi ekspresinya dan mengulurkan tangan pada Arin untuk membantunya naik. "Bagaimana kamu bisa ada disini?"


"Rumahku disana." Arin menolehkan kepalanya ke arah selatan, dimana sebuah desa baru saja di serang oleh makhluk tak dikenal.


Cristya menatap arah yang dipandang Arin, kemudian kembali pada wajah gadis itu. Dia memucat untuk beberapa saat. Keringat dingin menetes menuruni punggungnya.


Ketika Arin menolehkan kepala dan mentapnya, Cristya meraih jemari Arin dan menggenggamnya dengan erat. "Bagaimana keluargamu? Mereka baik-baik saja?


"Ya. Aku bersama mereka tadi, sebelum kesini." Arin tersenyum kecil. Dia menghargai kekhawatiran kakak kelasnya. "Kemudian, apa senior juga berasal dari desa yang sama?"


Cristya mengalihkan matanya dan menepuk tas selempang kecil di tengah-tengah mereka. "Ada bahan yang kuperlukan untuk prakter yang hanya tersedia di wilayah Count Raven."


Arin meremas sedikit tangan Cristya. Dia sedikit bersimpati karena ketidak beruntungan gadis itu. Kalau saja senior ini tak datang untuk mencari bahan praktek pasti tak perlu menghadapi pengalaman traumatis seperti ini. "Benarkah? Bahan seperti apa itu?"


Cristya menolehkan kepalanya pada Arin. Matanya berbinar penuh antusias ketika dia menjelaskan suatu bahan yang memiliki banyak kegunaan dan uniknya hanya bisa tumbuh di tanah milik Count Raven.


---


Dari balkon depan kediaman megah Count, siapa saja bisa melihat kereta kuda serta pengungsi yang memasuki halaman. Tempat kosong dimana biasanya dipakai sebagai lahan parkir untuk kereta-kereta mewah bila ada pesta, kini dipenuhi oleh kereta-kereta sederhana dan dipenuhi oleh manusia-manusia dengan wajah ketakutan.


Seorang pelayan pria mendekati seorang remaja yang menatap keramaian di bawah dengan mata tajamnya. "Tuan Muda Loman, akan lebih baik jika anda masuk kedalam."


Loman menghiraukan permintaan pelayan yang baru datang. Dia masih sibuk memindai dengan hati berdebar. Ini bukan jenis debaran yang membuat kupu-kupu berterbangan di dalam perut, melainkan jenis yang membuat dadamu sesak dan beranggapan kalau jantungmu akan meledak saking keras dan tak nyamannya. Tangan yang memegang pembatas balkon mengencang. Giginya bergemeretak di tempatnya berdiam karena dia tak kunjung melihat gadis itu.


Bisakah hal ini disebut kebaikan karena mungkin saja gadis itu belum kembali ke desa? Atau hal ini adalah hal buruk karena gadis itu terjebak di desa penuh monster yang tidak dikenal? Loman ingin meremukkan pembatas balkon itu kalau saja tak ingat akan konsekuensi yang akan ditanggung selanjutnya. Dia tak ingin membuat ibunya, sang ratu dalam kediaman, murka karena dia telah membuat sedikit cacat pada kediaman mereka.


Loman akhirnya bisa sedikit bernafas lega ketika mendapati seorang gadis bersurai perak di salah satu kereta. Dia masih mengabaikan si pelayan yang berdiri diam di belakangnya dan langsung berbalik untuk berlari, meninggalkan pelayan itu dengan wajah kebingungannya.


Dari balkon menuju lantai dasar tidak bisa disebut dekat. Kaki Loman harus mengambil puluhan langkah dan menuruni sederet anak tangga untuk sampai di tujuan. Beberapa pelayan yang berpapasan dengannya sedikit bingung dengan tingkah tak biasa milik Tuan Muda Ketiga mereka.


Loman berhasil keluar dari bangunan rumahnya tanpa dihentikan oleh lirikan tajam atau murka ibunya. Dia terus melaju menyusul kereta kuda yang kini berbaur dengan pengungsi lain. 


Berkat rambut perak uniknya, Arin mudah ditemukan diantara kerumunan. Loman memacu kakinya lebih cepat begitu melihat gadis itu tengah berbincang dengan seseorang. Yang sungguh, membuat Loman sedikit mengerutkan alis karena bukankah ditengah kepanikan orang akan kehilangan minat untuk bicara?


Arin berbalik dan sedikit terkejut. Bukan, Arin bukan terkejut mengapa Loman berada di kediaman Count karena ini adalah rumahnya. Yang membuat Arin terkejut adalah Loman yang berdiri di depannya, dengan sedikit peluh pada dahinya.


"Loman, halo?" Arin balas menyapa karena sejak mata mereka bertemu, laki-laki itu hanya menatapnya.


Loman mengedipkan matanya dan maju dua langkah mendekati Arin begitu berhasil menangani emosinya. "Apakah kamu terluka? Dimana keluargamu?"


"Semuanya selamat, tak ada yang terluka. Oh ya, aku akan mengenalkanmu pada senior-" Arin tak melanjutkan ucapannya karena ketika menoleh, sosok yang akan dia kenalkan menghilang.


Loman memperhatikan wakah Arin yang terbengong-bengong. Dia membuka dan mengatupkan mulutnya beberapa kali, mirip seperti ikan di dalam air di aquarium milik kakak tertuanya. "Apakah dia adalah gadis yang berbicara denganmu sebelumnya?"


Arin mengangguk dan mulai menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanang. "Kemana dia pergi?"


"Entahlah." Loman meraih bahu Arin dan sedikit mendorongnya untuk berjalan. "Lebih baik ayo cari keluargamu."


Arin menurut dan memfokuskan pencariannya kepada ibu dan adik angkatnya di antara kerumunan.


---


Kedatangan pasukan kerajaan, selain membantu mengalahkan para monster juga sangat membantu dalam penyelidikan para kesatria tentang makhluk apa yang mereka hadapi.  Hasilnya, mereka mendapati para makhluk tak dikenal itu memliki kemiripan dengan Hellhound tetapi dengan wujud berbeda.


"Jadi mereka akan digolongkan kedalam monster jenis baru?" Franz Raven bersandar pada kepala kursinya ketika salah seorang kesatria datang melapor. Pria tua itu asik menikmati cerutu yang terjepit diantara jari telunjuk dan jari tengahnya.


"Tidak, Tuan. Terdapat perbedaan yang cukup mencolok diantara para monster dan masing-masing memiliki tingkat kekuatan yang berbeda. Jadi kami tidak bisa mengelompokkan mereka ke satu jenis yang sama. Menurut data, ada sekitar 20 jenis yang ditemukan." Kesatria itu menundukkan kepalanya setelah menjawab.


"20 jenis?" Franz mengerutkan alisnya. "Bukankah kita melawan delapan monster?"


"Ya. Kita menghadapi 10 makhluk dan 2 dari mereka melarikan diri. Sedangkan di daerah terbuka dekat dengan bagian selatan desa, ditemukan puluhan mayat makhluk itu," perkataan ksatria itu membuat Franz terkejut, tetapi berubah normal kembali setelah beberapa saat.


"Ricardo ya... Sepertinya gelar pahlawan yang ia sandang saat masa jayanya bukan sekedar hisapan jempol belaka " Gumam Franz sambil berdiri dari tempat duduknya dan menatap langit malam melalui jendela yang berada di belakang meja kerjanya.


Kesatria itu mengangkat kepalanya. Dia salah mengira jika Tuan-nya baru saja memberi perintah. Namun begitu melihat punggung tegap pimpinannya, dia tak jadi bertanya dan diam saja.


Tragedi yang baru saja menimpa salah satu daerah dengan cepat menyebar ke seluruh penjuru kerajaan. Berita mengenai ditemukannya monster spesies baru telah menjadi topik panas. Banyak orang-orang pemberani yang menyusuri daerah selatan hingga pinggiran Labirin Gallahan yang berakhir dengan tangan kosong. Pada akhirnya keberadaan makhluk misterius itu hanyalah sebuah misteri.