
Sepertinya penduduk ibukota menyukai pertengkaran. Karena daripada memisahkam atau menjauh, kebanyakan menanti dengan harap pertunjukan apa yang akan terjadi. Beberapa manusia dengan peri kemanusiaan yang masih tersisa membantu yang terluka untuk menyingkir dan mendapat perawatan.
Mata Arin meredup. Orang gila mana yang bertarung ditengah kota dengan keadaan yang begitu ramai. Dia juga bingung mengapa petugas keamanan tidak ada yang datang untuk menertibkan orang-orang tak beradab ini. Belum lagi kedua belah pihak yang saling berhadapan itu belum ada niat untuk mengahiri pertikaian yang entah timbul karena apa.
Nyatanya ke tiga murid itu tak dianggap oleh lima orang kasar di depan mereka. Walaupun salah satu dari mereka sudah memunculkan empat circle yang tidak normal. Karena rata-rata siswa tingkat tiga baru mencapai circle tiga.
'Gertakannya tidak mempan. Berarti ada kemungkinan mereka lebih kuat dari murid-murid ini.' Arin berdiri di tengah kerumunan dengan di apit oleh Loman dan Will.
Kemudian pria lain muncul di belakang kelima orang kasar itu. Langkah kakinya ringan tetapi melihat dari pembawaannya jelas dia bukan orang biasa, terlebih kelima orang itu membuka jalan untuknya. Tatapannya tenang tak beriak, menyembunyikan kemarahan dalam kedalaman selagi langkahnya terus membawa kedepan tiga murid arogan.
Arin mentaksir jika pria itu berusia dua puluh lima tahun dan mungkin saja pemimpin kelompok lima pria kasar. Dia tercengang akan fakta bahwa orang itu sudah mencapai level tiga puluh dengan bantuan skill mata identify-nya. 'Circle 6?'
Pria itu menurunkan topi bulat coklat yang bertengger di kepala. Sebuah batang rokok terselip diantara bibirnya. Luka sayatan yang sudah kering tercetak pada mata kanan. Pakaiannya jauh lebih rapi dibanding pria yang berdiri dibelakangnya. Namun, aura intimidasi yang ia keluarkan jauh lebih terasa dan berbahaya.
"Kalian murid akademi Luxiorus? Maaf kalau tadi anak buah ku berbuat kesalahan. Aku akan segera mengganti kerusakan yang dibuat mereka." Pria itu sedikit menundukkan kepalanya untuk menunjukkan sedikit sopan santun.
Sayangnya, perlakuannya yang merendah dianggap remeh oleh tiga murid arogan di depannya. Awalnya mereka memang mengkerut tetapi sekarang sifat meremehkan mereka kembali dan menggap pria di depan mereka adalah seorang pengecut.
Kesombongan adalah penyakit hati yang sangat sulit diobati jika terlambat ditangani. Terlebih dengan latar belakang ketiga murid itu sebagai darah bangsawan. Salah satu diantara mereka maju dan memamerkan senyum yang penuh dengan rasa percaya diri. "Jadi Om sadar bahwa bawahan Om itu sudah tidak sopan ya?"
Arin merasa ingin menampar kakak kelasnya itu untuk membuatnya sadar. Namun tak ada yang bisa dia lakukan karena tak ingin mengundang lebih banyak bahaya bagi dirinya. 'Ah, cari mati.'
"Karena kalian sudah mengarahkan sihir padaku, maka kalian juga harus merasakan hal sama kan?" Murid itu mulai mengeluarkan circle ungu dan membentuk bola sihir besar pada tangan kanannya. Sembari melemparkan bola itu dia berteriak, "Matilah!"
Bola yang kian mendekat nampaknya dianggap sepele oleh pria itu. Karena dengan jarak yang menipis dia masih bisa bersikap tenang. Dia mengeluarkan barrier yang berbeda ukuran dari milik Loman. Milik pria itu lebih kecil dan melayang miring di depan kepalanya. Sehingga bola itu akan terpental ke atas begitu menyentuhnya dan begitu sampai pada ketinggian yang sangat jauh dia meledak dan hanya menimbulkan hempasan angin yang tak akan berbahaya.
Arin takjub akan betapa bagusnya orang itu menangani keadaan. Dengan kecepatan yang tidak lambat dia mengeluarkan circle coklatnya untuk mengaktifkan barrier agar sihirnya terfokus pada satu titik. Dan lagi dengan arahnya memantulkan benda tersebut, korban jiwa bisa diminimalisir. 'Hebat. Orang berpengalaman memang berbeda.'
Tidak hanya Arin. Pertahanan pria itu membuat kakak kelasnya juga sama terkejutnya. Terlebih dia tidak percaya jika perisai sekecil itu mampu menahan serangannya. Dengan amarah yang meluap dia pun berteriak, "Kurang ajar. Trik apa yang kamu gunakan?!"
Dia mengeluarkan energi sihir dengan kekuatan lebih rendah dari sebelumnya. Sihir itu berubah menjadi apa yang menyelimuti tangan kanannya.
Dalam Teori Sihir, sihir yang dikeluarkan dapat diubah menjadi elemen-elemen tertentu sesuai dengan kecocokan penggunaannya. Arin paham akan hal itu tetapi baru kali ini dia melihatnya langsung.
Namun sebelum murid itu beraksi, sebuah bayangan bergerak cepat. Dan tahu-tahu, bayangan itu menjelma menjadi sesosok pria yang mencengkeram tangan dan melenyapkan api milik kakak kelasnya.
"Guru Reinhard?" Will terperanjat begitu mengenali sosok di samping kakak tingkat tiga.
Rasa penasaran Arin tergelitik untuk mengetahui circle gurunya. Baru saja dia akan bertindak ketika dia langsung menarik langkah seribu karena Reinhard tiba-tiba menoleh padanya. Dia takut jika diteruskan maka orang itu bisa menyadarinya.
"Wah wah, siapa yang datang ini?" ucap pria itu dengan senyum kecil.
"Sepertinya kejadian ini juga merupakan kesalahan murid-murid ku. Bagaimana kalau kita menganggap ini impas?" Reinhard membalas senyum pria itu sembari melepaskan tangan muridnya.
Tak ada yang berani bergerak begitu guru mereka datang. Mereka diam bagai patung dan tak mengeluarkan suara apapun.
Pria itu juga tak ingin memperpanjang masalah. Karena Reinhard sudah memberi jalan keluar, maka dia pun mengisyaratkan agar para pria dibelakangnya segera bubar. "Baiklah, kita anggap saja tidak terjadi apa-apa. Selamat tinggal."
Reinhard mengangguk kecil ketika pria itu berbalik dan melambai. Dia diam mengawasi sementara penduduk yang tadinya menonton juga ikut bubar.
Will menarik-narik lengan gaun Arin untuk memberi isyarat bahwa mereka juga harus pergi. Tak peduli dengan raut penasaran gadis itu akan apa yang terjadi pada tiga orang kakak kelas mereka.
"Ayo kembali. Ini bukan masalah kita."
Loman mengangguk, menyetujui ucapan pelan Will. Kemudian sebelum gadis itu mendebat, dia menariknya meninggalkan tempat kejadian.
'Reinhard ya. Akan sangat berbahaya jika sampai ada yang merasakan ketika aku mencoba mengetahui status orang itu.' Arin menundukkan kepalanya, merenungi pelajaran yang di dapatnya dari kejadian yang baru saja terjadi.
---
"... Jadi, bagaimana cara untuk bisa meningkatkan kekuatan sihir seseorang, Arin?" Reinhard mengajukan pertanyaan pada gadis yang sedari tadi tampak melamun dalam pelajarannya.
"A-ah.. Maaf." Arin tergagap. Beruntung dia sudah mempelajari bab tersebut. "Dengan terus berlatih dan meningkatkan pengalaman bertarung, maka level akan meningkat. Dan kekuatan sihir akan terus meningkat seiring dengan perkembangan level."
Sudah beberapa hari berselang sejak hati itu, tetapi sepertinya Reinhard tidak menyadari atau mencurigai Arin sedikitpun setelah kejadian di alun-alun. Tentu Arin merasa lega, hanya saja
masih ada dorongan untuk mengetahui seberapa kuat gurunya itu.
'Apa hanya perasaanku, atau nampaknya hari ini seluruh murid tampak bersemangat?' pikir Arin yang melihat wajah antusias teman-teman sekelasnya.
Salah satu murid mengangkat tangan. Kemudian dengan semangat mengatakan, "Guru, sebentar lagi murid tingkat satu akan diajak untuk pergi melawan monster bukan? Kemana kita akan pergi? Labirin bawah tanah Gallahan atau labirin hutan kabut Elleanor?"
'Labirin?' muncul rasa terkejut pada raut wajah Arin begitu mendengar bahwa tempat tinggal lamanya disebut oleh salah seorang murid disana.