This Story Will Be Remake

This Story Will Be Remake
Chapter 24. Homunculus Part 1



Kereta kuda dan kusir yang hendak mengantar Arin menunggu di depan kediaman. Gerbongnya terlihat biasa, nampak tak seperti milik keluarga bangsawan dan Arin sangat berterimakasih karena itu. Jika gerbongnya lebih mewah, maka bisa menarik banyak perhatian yang artinya mengundang bahaya.


"Kereta kuda ini akan mengantarmu hingga wilayah Count Raven. Apa ada hal lain yang kamu perlukan?" Tuan Alphonse beserta seluruh keluarganya yang ikut mengantar Arin membuat gadis itu terkejut.


Dibandingkan mereka Arin tak ada apa-apanya, tak layak diantar seperti ini. Loretta saja sudah lebih dari cukup. Maka dia mengangkat sedikit kedua sisi gaunnya dan menundukkan kepala. "Terimakasih untuk kebaikan Marquis. Kereta kuda ini lebih dari cukup."


Loretta mengantar Arin hingga masuk kedalam gerbong. "Bagaimana menurutmu kalau aku memberimu setengah gaun milikku?"


"Terimakasih, tetapi itu tidak perlu." Arin menolak dengan tegas. Baginya gaun itu merepotkan walaupun dia akui gaun milik putri marquis pasti akan sangat indah. Namun membayangkan kerepotan dibelakangnya, Arin mendorong godaan itu jauh-jauh darinya.


Loretta terdiam. Dia sedikit kecewa karena kebaikan hatinya ditolak. Dia mengalihkan tatapannya ke kiri dan menghela nafas untuk mengenyahkan kekesalaannya. Saat kembali menatap Arin, dia sedikit tersenyum karena gadis didepannya tersenyum manis.


"Sampai jumpa di akademi."


Loretta mengangguk dan mundur tiga langkah. Seorang pelayan menutup pintu gerbong dan menyembunyikan Arin di dalamnya. "Antar dia dengam aman sampai wilayah Count Raven."


"Baik, Nona Kedua." Kusir di depan menjawab penuh hormat.


Arin melambai dari jendela pada kereta kudanya untuk terakhir kali ketika benda itu bergerak. Dia bisa melihat mata Loretta yang berkaca-kaca.


'Walau perjalanan ini memakan waktu sekitar tujuh hari, tapi itu sebanding dengan pertemuanku bersama keluarga baruku.' Dengan penuh semangat, Arin memulai perjalanannya menuju desa sebelah selatan wilayah Count Raven


---


[Satu minggu kemudian]


"Matahari sudah bergerak ke Barat, istirahatlah." Mona keluar dari rumah kecil mereka dan tersenyum menatap suaminya yang memotong kayu bakar.


Ricardo menancapkan kapaknya pada tanah dan tertawa. "Ini bukan apa-apa. Aku masih bisa bertahan sampai malam nanti."


Mona menggeleng-gelengkan kepalanya dengan geli. Dia mendekati jemuran dan mengangkat baju-baju yang sudah kering. "Terserahmu saja."


"Aku akan buat banyak persedian, supaya ketika istriku memasak makanan enak dia tidak akan pernah kehabisan kayu bakar." Ricardo menyeka peluhnya dengan handuk yang tersampir di bahunya.


Mona tak menoleh. Dia terus mengangkat baju kering untuk dimasukkan ke dalam keranjang. "En, en, potong yang banyak."


Namun Ricardo tak meneruskan kegiatannya memotong kayu bakar. Setelah menata kayu itu pada tempatnya di tempat kering di sudut belakang rumahnya, dia kembali untuk menghampiri putri kecilnya.


Tia berjongkok di bawah pohon dan asik bermain dengan daun dan bunga yang ketika disentuh akan menutup dan bersembunyi. Sangat pemalu.


"Aaa!" Gadis kecil itu berteriak sekencang pita suaranya bisa capai ketika seseorang mengangkatnya tanpa aba-aba.


Mona selesai dengan jemurannya dan bersiap masuk ke dalam rumah. "Nah, yang ada disana! Ayo masuk kedalam rumah dan makan!"


Tia memeluk leher Ricardo ketika ayahnya berjalan kesamping ibunya. Dia menunggu ibunya, wanita paling anggun di matanya, meraih kenop pintu untuk membukanya. Namun hembusan angin yang besar serta suara keras membuatnya memeluk Ricardo semakin erat dan menutup matanya rapat-rapat.


Setelah hempasan kencang angin dan suara keras itu menghilang. Mona mengendurkan pegangannya pada kenop pintu dengan jantung berdebar-debar. Dia menoleh kepada Ricardo yang melindunginya dari diterbangkan angin. "Apa itu?"


Ricardo menatap ke Selatan. Dia memperkirakan dari kepulan asap yang membumbung tinggi di kejauhan, kalau lokasi ledakan berada di gerbang selatan desa. Rumah mereka cukup jauh dari gerbang dan menilik dari kedahsyatan dampaknya, firasat buruk mulai merayapinya.


"Kalian akan mengungsi ke dekat kediaman Count Raven. Tidak perlu khawatir, semua akan baik-baik saja setelah kalian sampai disana." Ricardo mengelus kepala Tia dan menurunkannya.


Meletakkan keranjang pakaian kering ke bawah, Mona meraih Tia kedalam pelukannya. Tatapan nanar terarah pada Ricardo karena maksud dari perkataannya. Bukan 'kita' yang terucap dari pria berwajah garang itu melainkan 'kalian'.


"Jangan menatap seperti itu, semua akan baik-baik saja. Setelah semua orang mengungsi dan masalah ini terselesaikan, aku akan menyusul kalian." Ricardo menepuk pundak Mona, berharap bisa menghilangkan sedikit kekhawatiran gadis itu.


Mona menggendong Tia dan berjalan keluar dari pekarangan rumah mereka. Dua kesatria yang berlari dari kejauhan dengan cepat sampai di depan keluarga kecil itu. Mereka sekilas bertatapan dengan Ricardo dan melihat tatapan pria itu, mereka menyadari perintah apa yang mereka dapatkan. Keduanya segera bertindak mengantar dua perempuan itu menuju gerbang batas utara.


Sementara itu keadaan Gerbang Selatan sangat kacau. Para penjaga gerbang tak bisa mempercayai apa yang mata mereka lihat. Sesosok raksasa setinggi tiga meter nampak buas dengan mata merah menyala. Dia berjalan dengan linglung, terlihat seperti tak memiliki akal. Cakar tajam pada tangan dan kakinya membuat mereka teringat Hellhound. Namun entah monster anjing atau raksasa yang berada di depan mereka, tak ada yang yakin bisa mengalahkannya.


Raksasa itu mempercepat langkah untuk masuk ke dalam desa. Tiga penjaga berusaha menutup jalannya dengan mengeluarkan empat circle dengan warna tertinggi ungu dan menggunakan semua sihir mereka untuk membuat pelindung.


"Ex-barrier!" Mereka serempak mengucapkan mantra dan pelindung besar yang berkilau langsung muncul.


Pelindung itu jauh lebih kuat dibanding barrier biasa karena digunakan untuk mengepung atau mengurung monster. Hanya saja, selain circle ungu, ketiga circle lain berubah menjadi transparan begitu sihir mereka menipis. Harapan mereka adalah menahan laju monster itu, karena mengalahkannya akan sangat mustahil.


Namun usaha ketiga penjaga itu sia-sia ketika raksasa itu menabrak pelindung mereka. Pertahanan yang mereka buat pecah berkeping-keping dan membuat tubuh mereka terpental beberapa meter dan berhenti setelah menabrak beberapa tembok rumah.


Raksasa itu meraung. Jenis rauangan yang memekakkan telinga dan membuat apapun yang ada disekitarnya berterbangan.


Bantuan datang dari dua puluh kesatria membuat sisa penjaga yang bersiaga sedikit lega. Terlebih setelah melihat siapa yang ada dibelakang pria-pria kuat itu, mereka tahu kalau mereka akan menang. Pahlawan desa mereka telah datang.


"Itu Ricardo. Ricardo sudah datang!" teriak salah satu penjaga yang melihatnya.


Ricardo mendekati penjaga yang terpental saat mengaktifkan barrier dan berlutut untuk memastikan kondisinya.


"Uhuk! Kau, lama sekali kawan." Pria itu batuk darah.


Ricardo benar-benar emosi melihat sahabat seperjuangannya selama menjadi penjaga sampai dibuat seperti ini. Dia memberi perintah ke beberapa kesatria untuk segera memberikan ramuan penyembuh yang mereka bawa dan beralih menuju raksasa yang telah membuat keributan.


"Kau datang ke tempat yang salah, dasar bajingan!" Ricardo berteriak penuh amarah dengan wajah yang menakutkan.