This Story Will Be Remake

This Story Will Be Remake
Chapter 25. Homunculus Part 2



Menjelang malam, kereta kuda sudah memasuki wilayah Count Raven dan saat ini berhenti untuk beristirahat. Arin keluar dari gerbong dan duduk pada batu di dekatnya. Matanya menatap kusir yang mengambilkan minum kuda dengan kaleng dari sungai yang jernih tak jauh darinya.


Suara menghentak yang tak teratur mengalihkan fokus Arin dan mengusik ketenangannya menikmati simfoni alam. Dia menatap ke kajauhan, pada puluhan atau ratusan orang yang sedang berlari ke arah dia datang. Dari jauh, mereka hanya terlihat seperti gerombolan manusia dengan beberapa obor sebagai penerangan, tetapi setelah dekat wajah penuh teror mereka terlihat jelas. Mereka membawa barang seadanya, beberapa bahkan hanya membawa diri mereka atau menggandeng anak, menggendong orang tua yang sepuh atau bayi yang belum bisa berjalan.


Arin menatap arah kedatangan mereka dan merasa gelisah. Dia kembali menatap orang-orang yang melewatinya dan menatap kusir yang menghentikan salah seorang dari gerombolan itu. Mereka tak bicara banyak, tetapi raut ngeri dari pemuda dalam gerombolan juga menular pad si kusir yang langsung berlari menghampirinya.


"Nona, perjalanan tidak bisa dilanjutkan. Ada monster yang mengamuk di Gerbang Selatan." Kusir segera menjelaskan alasan kepanikan warga yang melewati mereka.


Arin semakin gelisah, tetapi dia mencoba tetap tenang. "Mau kemana mereka?"


"Kediaman Count. Saya antarkan anda kesana, mari."


Arin berdiri dan berjalan menuju kereta untuk mengambil tas kecilnya. Saat dia keluar, kusir itu tak bisa untuk tidak mengerutkan dahi. Di kepala gadis itu saat ini tidak terpkirkan mengikuti arus orang-orang, walaupun dia berharap Mona dan Tia berada di antara mereka. Hanya saja dia ingin memastikan sendiri keluarga angkatnya sudah mengungsi dan baik-baik saja.


"Jangan pikirkan aku. Tugas anda sudah selesai karena sudah memasuki wilayah Count Raven walaupun belum mengantarku ke rumah." Arin menjejalkan beberapa koin perak sebagai tanda terimakasih karena si kusir pasti sudah dibayar oleh marquis.


Sebelum menerima paksaan atau penolakan, Arin berlari. Tubuh kecilnya menyelinap diantara kepanikan dan kegusaran warga desa. Dia berlari berlawanan dengan mereka sehingga tabrakan dan terdorong setiap kali dia maju tak bisa terhindarkan. Semua indranya menajam untuk mencari keberadaan keluarganya dengan lebih efektif.


Ketika berada di pinggir jalan, dia tak mengira akan sangat susah untuk menerobos mereka. Namun dia merasakan sesak yang amat sangat begitu tenggelam dalam arus kepanikan itu. Tangisan anak kecil yang ketakutan dan tak bisa berhenti karena ibu mereka juga merasakan hal yang sama. Orang tua yang kelelahan berjalan dan tak tega menyusahkan anak mereka walaupun sudah ditawari untuk digendong. Namun dia tak peduli, bukan mereka yang dia cari. Dia ingin keluarga kecilnya.


Lalu diantara semua itu, Arin akhirnya menemukan mereka. Dia melangkah semakin cepat mendekati kereta kuda yang bergerak diantara lautan manusia. Kereta kuda itu terlihat tua tetapi nampak terawat dengan kain penutup kereta yang masih utuh tanpa ada lubang. Ibu dan adik angkatnya duduk di ujung barisan belakang, nampak sama depresinya dengan semua orang.


"Bibi!" Arin mengeraskan suaranya begitu ada di dekat mereka, belum berani memanggilnya ibu karena bisa saja hanya dia yang menganggap mereka keluarga angkat.


Mona menoleh dan terkejut melihat gadis itu. "Arin? Kenapa bisa disini?"


Arin tak menjawab, dia langsung melompat menempati ruang kosong di kereta kuda dan mengejutkan beberapa orang. "Bibi, apa yang terjadi? Dimana ayah-" Arin tak melanjutkan ucapannya dan menatap Mona serta Tia takut-takut.


Mona mengulurkam tangannya dan mengelus rambut Arin. Senyumnya begitu menenangkan. "Kenapa dengan ayahmu? Tanyakan saja pada ibu, jangan sungkan."


Arin merasakan hatinya dibalut dengan ribuan permen kapas, begitu lembut dan manis. 'Mereka telah menerimaku, kan?' Gadis itu meraih tangan Mona pada kepalanya dan menggenggamnya erat, menahan air mata yang mendesak turun. Namun akhirnya gagal. Dia tak bisa menahan beberapa mutiara yang meleleh menuruni pipinya.


"Kakak?" Tia terbangun entah karena gelisah atau perjalanannya yang tak menyenangkan. "Apa kamu baik-baik saja?"


Ketenangan dalam badai itu tak bertahan lama karena kepanikan kembali meletus tatkala terdengar ledakan yang amat keras. Arus manusia yang sudah tak tenang itu semakin rusuh. Yang muda mendesak maju dan meninggalkan orang tua yang tak berhubungan darah dengan mereka.


"Lari!"


"Monster!"


"Mereka sudah sampai sini. Cepat lari!"


Seruan-seruan terdengar dan merambat hingga ke depan. Membuat kekacauan itu semakin nyata dan tak bisa diatur. Beberapa orang menabrak kereta kuda mereka, entah sesakit apa orang itu karena kereta kuda hampir oleng. Kepanikan manusia juga menakuti si kuda.


Kereta kuda yang mereka naiki berhenti. Tia yang ketakutan memeluk Mona tanpa suara, tubuhnya bergetar.


Arin bergegas keluar untuk melihat apa yang terjadi. Kegelapan malam tak berpengaruh apapun pada penglihatannya yang bukan lagi menggunakan indra manusia. "Apa itu?"


Seperti kabanyakan warga, ini pertama kalinya Arin melihat manusia setinggi tiga meter berjalan mendekat. Karakteristik mereka dengan cakar, mata merah, dan bulunya membuat Arin mengingat monster anjing yang berhasil melukainya. Namun walaupun agak serupa, mereka yang di depannya terasa lebih kuat.


"Wah yang benar saja... Entah benar atau tidak, tapi sepertinya mereka bisa dikategorikan sebagai kelas B. Berarti, butuh sekelompok petualang dengan circle 5? Tapi itu hanya berlaku jika monsternya hanya satu." Gumam Arin saat memeriksa sekawanan makhluk itu menggunakan skill Identify.


Salah satu dari monster itu membuka mulut lebar-lebar. Hawa dalam mulutnya memanas dengan cepat dan menciptakan bola api yang ditembakkan langsung pada sekelompok manusia yang tak beruntung walaupun sudah berusaha melarikan diri.


'Mereka ada 9, bukan,10. Bagaimana caranya melawan mereka?' Arin tidak berdaya menyelamatkan mereka. Melawan satu Hellhound saja dia terluka, apalagi sebanyak itu. Hanya tinggal waktu dia akan jadi Nepthys panggang.


"Kakak... Ada apa?" Arin yang sedari tadi hanya terdiam melihat kawanan monster itu mulai membuat Tia khawatir. Terlihat wajah cemas serta air mata yang berusaha ia tahan agar tidak membasahi pipinya kembali.


"Tidak apa-apa.. Semua akan baik-baik saja." Arin berusaha menenangkan Tia sambil memeluknya dengan erat. Tentu saja walau ia sedang berusaha menenangkan Tia, bukan berarti gadis itu sedang dalam kondisi tenang.


'Level monster-monster itu masih jauh dibawahku-, tidak... Tapi jauh dibawah wujud asliku. Tapi memusnahkan mereka semua sama saja seperti mengakhiri kehidupanku ini..' Pikir Arin yang sepertinya tidak berhasil mencari solusi kali ini.


"Ki-kita selamat... Mereka sudah datang!!!" Terdengar jeritan para pengungsi seakan melihat secercah harapan di tengah situasi itu. 'Siapa?'