
Sudah tiga hari berlalu, sebuah tragedi pertama yang dialami oleh murid angkatan pertama akademi Luxirous. Akibat dari itu semua, banyak yang mempertanyakan mengapa akademi terhebat di kerajaan Luxirous bisa mengalami hal seperti ini bahkan sampai memakan korban.
Semua kejadian ini disebabkan karena kemunculan makhluk kelas A secara tiba-tiba pada tempat yang tak seharusnya mereka berada disana. Kerajaan dengan sigap langsung mengirim para petinggi menara sihir dan juga beberapa orang dari guild untuk menanganinya.
"Apa kalian para ketua guild benar-benar tidak menemukan jejak Ancient Hellhound sedikit pun?" Salah seorang anggota menara menanyakan pertanyaan itu sambil membaca laporan yang telah berhasil dikumpulkan.
"Tentu saja. Jika memang ada jejaknya, bagaimana bisa kedua laporan kami hampir sama pada setiap detailnya?" Ucap Garra, ketua guild dari kediaman Count Vallet sambil mengerutkan dahinya. "Bahkan kami yang berdekatan langsung dengan hutan Uranus pun tidak menemukan keanehan apapun." Lorraine, ketua guild dari kediaman Marquis Sterna melanjutkan pembicaraan Garra.
Mereka sama sekali tidak menemukan titik terang dalam pencarian itu. Bahkan mayat dari Ancient Hellhound yang dibicarakan dalam laporan juga ikut menghilang. "Monster itu menggunakan skill pengancur diri kan? Seharusnya itu menyisakan crtistal mana."
Pernyataan yang Garra ajukan tidak mendapat respon apapun dari pihak guil Marquis maupun menara. Kemudian penyelidikan itu akhirnya tidak membuahkan hasil apapun.
---
'Sudah berlalu tiga hari, maka sudah saatnya aku sembuh bukan?' Pikir gadis kecil yang tampak bosan berbaring selama tiga hari lamanya. Ia langsung bangun dari kasurnya dan dan memakai jaket kulit yang disediakan di ruangan itu.
"Ah, Arin... Bagaimana keadaanmu?" Baru saja gadis itu keluar dari kamar, ia sudah mendapati temannya datang mengunjunginya. "Loman.. Aku baik-baik saja. Lagipula sudah tiga hari berlalu kan? Hehe..." Ia mengangkat kedua tangannya sambil memutar tubuh atasnya untuk membuktikan perkataannya. Disisi lain, Loretta yang sejak tadi berusaha membendung air matanya langsung melompat ke arah Arin.
"Huwaaa... Master.. Hiks... Maaf..." Pelukan eratnya membuat pakaian polos yang Arin gunakan menjadi basah akibat air matanya. 'Apa dia meminta maaf karena tidak bisa melakukan apapun? Memangnya apa yang bisa dilakukan murid disituasi seperti itu?' Arin hanya bisa menepuk punggung Loretta dan mengatakan kalau semua sudah berakhir.
"Oh benar. Ngomong-ngomong, dimana Will? Dia tidak bersama kalian?"
Pertanyaan Arin membuat dua manusia di depannya bungkam. Loman memang sering diam, tapi kali ini ada sesuatu yang aneh dari diamnya. Sedangkan Loretta langsung menghentikan tangisannya. Mengelap air mata dan menarik ingusnya masuk ke tempatnya berasal.
"Will, dia." Mulut Loman mendadak kering, dia menatap wajah penasaran Arin dan tak ingin melanjutkan ucapannya.
"Dia kenapa? Jangan setengah-setengah ngomongnya, penasaran tahu." Arin mengguncang lengan Loman, meminta pemuda itu bergegas menyelesaikan ucapannya.
"Dia pergi, tidak ada di akademi lagi." Loman mengalihkan wajahnya ke kanan, menghadirkan kesunyian melingkupi mereka.
Tangan Arin berhenti. Lalu jatuh ke samping tubuhnya. Dia menatap Loman yang tak mau menatapnya, mungkin lebih tertarik menatap jendela disampingnya. Mendadak, suara angin di luar terasa amat keras. Suara burung yang bersahutan terasa menusuk-nusuk telinga dengan menyakitkan. Dia tak percaya dan menolak untuk percaya ucapan Loman.
"Jangan bercanda. Kalian pikir gampang membodohiku?" Arin tertawa kering. "Akan pergi kemana dia tanpa berpamitan padaku? Bukankah hidupnya akan sepi tanpa menggangguku? Katakan kamu hanya membohongiku. Loretta, dia berbohong kan?"
Loretta menatap Arin dengan mata yang menggenang. Dia menggigit bibir bawahnya karena tak tahu harus menjawab apa. Jika Arin tak ingin percaya, maka apakah dia harus mengatakan apa yang ingin Arin dengar?
"Kenapa kalian diem? Ini, nggak mungkin kan?" Arin memegangi sisi kepalanya. Terbayang senyum nakal Will, ucapannya yang selalu memancing pertengkaran, dan tingkah jahilnya yang seakan hadir di depan mata. Kemudian menghilang dengan cepat dan terus berganti. Pada akhirnya dia tak bisa menahan dirinya untuk tidak menangis.
"Maaf karena gagal melindungimu."
"Tapi jangan khawatir, aku akan menjadi lebih kuat. Cukup kuat hingga bisa melindungimu."
"Ini salahku." Loman memalingkan wajahnya untuk menatap Arin. Dia kembali membuka mulutnya, perlahan menjelaskan penyebabnya dengan cerita singkat. "Karena waktu itu aku berhasil menyerang Ancient Hellhound sedangkan Will tidak, rumor mulai menyebar entah dari siapa. Mereka mengatakan kalau Count Vallet itu lemah, jadi sang Count tak bisa mentolerirnya."
Arin mendongak untuk langsung menatap mata Loman. "Jadi Will dibuang?"
"Bagaimana bisa? Bagaimana mungkin seorang ayah membuang putranya sendiri?!"
Loretta segera memeluk Arin. "Master, tenanglah, tenang."
Arin menatap nanar pada Loman. Ini semua tidak masuk akal. Dia ingin segera pergi ke Kediaman Vallet untuk bertanya langsung, tetapi ucapan menenangkan Loretta membuatnya urung.
"Dari generasi ke generasi, Keluarga Vallet selalu menjunjung tinggi kekuatan. Bagi mereka, siapapun yang cacat dan tak berguna pantas untuk di buang. Sekalipun itu adalah keluarga mereka sendiri." Loman kembali menjelaskan, kali ini kata-katanya lebih pelan, seperti bisikan.
Arin membalas pelukan Loretta. Dia menangis di pundak gadis itu, meraung dengan pedihnya. Mengapa dia tak menghentikan Will waktu itu?
Loretta menghela nafas dengan berat. Tangannya mengelus rambut gadis itu dengan penuh kasih sayang. "Jangan menangis, Master. Masih ada aku."
"Lalu... Bagaimana keadaan saat ini?" Arin mencoba menanyakan situasi sekarang sambil berusaha menghentikan tangisnya itu. "Karena sekarang para murid sudah sembuh kembali, sebentar lagi akan diadakan upacara pemakaman senior Arista. Senior sudah... Mati." Loman mengatakan dengan berat, karena khawatir Arin juga akan terpukul dengan kabar itu.
Namun berbeda dari apa yang Loman bayangkan, Arin hanya diam membisu tanpa ekspresi terkejut sedikitpun. Tentu hal itu terjadi karena dari awal Arin tahu bahwa Arista sudah mati. "Kalau begitu ayo, kita segera bersiap-siap untuk upacara itu."
Perlahan senyuman mulai kembali di raut wajah Arin. "Apa kamu juga ikut Arin? Lebih baik kamu istirahat saja dulu." Loman dengan sigap langsung memegang erat tangan Arin yang terasa dingin. Dengan raut wajahnya yang masih mengkhawatirkan Arin, gadis itu hanya tersenyum.
"Kan aku sudah bilang kalau aku baik-baik saja." Ucapnya membuat Loman sedikit lega dan melonggarkan genggaman tangannya. Sepertinya Loretta yang melihat itu merasa sedikit terabaikan. Walau posisinya kini masih setengah memeluk lengan Arin, ia tetap merasa kesal.
"Apa itu sebuah genggaman cinta? Dasar laki-laki mesum." Loman langsung menarik tangannya dengan cepat begitu Loretta berkata demikiandengan wajah cemberutnya. Ia memalingkan wajahnya yang mulai memerah akibat perkataan gadis itu.
"Ekhem. A-aku tidak bermaksud apa-apa sungguh." Arin tertawa kecil begitu melihat tingkah Loman yang tampak seperti anak-anak itu. Begitu pula dengan Loretta yang merasa kejahilannya itu berhasil.
"Kalau begitu ayo, kita berangkat." Loman kembali menatap Arin dan mengulurkan tangannya untuk mengajak gadis itu pergi bersama. Arin merasa terhibur dan bersyukur karena ada orang yang mau berteman seperti mereka. "Hmmm..." Angguk Arin sambil perlahan hendak meraih tangan Loman.
"Ayooo." Secara tiba-tiba, ternyata lorolebih dulu menggenggam tangan Loman, dan satu tangannya lagi menggenggam tangan Arin. Tanpa basa basi, gadis itu langsung menyeret mereka berdua. "He-heii, Tunggu. Aku tidak sedang mengajakmu." Loman mulai tampak emosi dengan tingkah Loretta yang seenaknya itu.
"Weeekk, Aku tidak peduli. Selama aku tidak mengizinkan, kamu tidak boleh menyentuh master." Loretta menjulurkan lidahnya yang bermaksud mengejek Loman.
"Apa? Memangnya kamu ini siapa?"
"Aku adalah murid pertama master. Akulah satu-satunya yang boleh dekat dan memeluk master."
"Itu aturan dari mana? Aku tidak butuh izin darimu untuk melakukan itu."
"Hoohooo. Apa barusan kamu mengatakan kalau bisa memeluk master jika ingin? Jangan-jangan, Loman ingin memeluk-"
"Akhh, Diamlah."
"Pfft Aaahahahaha." Tawa Arin pecah begitu menyimak Pertengkaran mereka. Ternyata dibalik sifat lugunya, Loretta benar-benar ahli dalam bicara. Pertengkaran mereka berdua pun akhirnya membuat suasana Arin terhibur kembali.