
Setelah semua itu, Arin menjalani sisa beberapa bulannya dengan tenang. Kini sudah hampir mencapai saat dimana akan ada kenaikan tingkatan. "Bagaimana Loretta? Apa kamu berhasil mendapatkan circle keduamu?"
"Tentu saja master. Aku tidak mungkin tertingak fufufu." Loretta terlihat berjalan bersama Arin menuju gerbang akademi. Disana terlihat bahwa Loman sudah menunggu. "Apa kami terlambat?" Tanya Arin yang baru saja tiba disana.
"Tidak, aku juga baru sam-..."
"Kamu bohong ya." Tiba-tiba Loretta memotong pembicaraan Loman. Gadis itu mulai tertawa jahat yang ditujukan pada Loman. "Sebenarnya aku sengaja bilang pada master bahwa waktu janjiannya adalah jam 9. Sedangkan yang sebenarnya adalah jam 8. Hahaha."
Tawa Loretta tersengar sangat memuaskan karena berhasil menipu Loman. Loman hanya memasang ekspresi kesal karena merasa dipermainkan oleh gadis kecil itu.
"Akhh..." Arin memukul kepala Loretta sedikit kencang karena kelakuannya itu. "Lo~re~ta?" Nada Arin terdengar imut saat mengatakan itu, tapi tidak dengan ekspresinya. Loretta hanya terdiam sambil menundukkan kepalanya dan menggerutu sendiri.
"Hah. Sudahlah, ayo kita berangkat." Ucap Arin dan mulai pergi mendahului kedua temannya.
---
Setibanya di ibukota, mereka mulai berkeliling dan membeli beberapa barang ataupun makanan yang mereka sukai. Beberapa kali Loretta merengek ingin naik balon udara yang ada di tempat itu, namun Arin tidak menyetujuinya. Bukan karena takut atau alasan lain, melainkan karena Loretta hanya ingin mengajak Arin dan kembali menjahili Loman.
"Ayo kita melihat pertunjukan di sebelah sana saja. Sepertinya baru hari ini mereka mengadakan hal seperti ini, pasti menarik." Ajak Arin yang berusaha membuat Loretta lupa akan rencana jahatnya itu.
Begitu sudah sampai, Arin melihat sejumlah orang yang tengah melakukan pertunjukan itu diatas panggung. Pertunjukan yang mereka lakukan adalah sejenis sulap, atau lebih tepatnya tipuan. Karena Arin berasal dari dunia yang lebih maju dari dunia sekarang ini, beberapa trik sulap itu sudah Arin ketahui.
"Bagaimana orang itu melakukannya?" Loman yang berkomentar demikian tampak penasaran dengan trik sederhana itu. Sedangkan Loretta, melihat matanya yang berbinar-binar itu sudah tidak perlu ditebak lagi.
'Mungkin akan menyenangkan jika aku menunjukkan beberapa sulap untuk mengagetkan mereka hihi.' Pikir ide jahil Arin yang mulai mencari tahu sulap apa yang akan ia lakukan.
---
"Terimakasih sudah mlihat pertunjukan kami, terimakasih." Ucap pesulap itu sambil mengemasi barang mereka karena pertunjukan telah selesai. "Wahh keren sekali. Aku jadi ingin melakukannya juga." Loretta seakan terbawa dalam dunia nya sendiri saking takjubnya dengan pertunjukan tadi.
"Dimana Arin?" Loman mulai kebingungan karena tidak mendapati Arin sama sekali. Loretta juga mulai tersadar karena Loman berkata demikian. "Pasti kamu menyembunyikan Arin. Benar kan?"
Fitnah Loretta pada Loman sedikit membuatnta emosi. "Hei, sejak tadi aku ini berdiri disampingmu." Untungnya tak lama kemudian, Arin segera datang menghampiri mereka.
"Ah maaaf, aku sedang mencari sesuatu tadi." Kedatangan Arin tidak merubah suasana saat itu. Saat Arin tiba, mereka seakan tidak mau saling menatap. "Hei ada apa lagi ini?"
"Tidak ada master, hehe." Terlihat jelas senyum yang Loretta pasang itu hanyalah senyuman palsu. "Benar, tidak ada apa-apa. Loretta hanya sedang kehilangan akal saja tadi."
'Ah, Will ya. Bagaimana keadaanya sekarang?' melihat tingkah mereka berdua yang seperti itu membuat Arin teringat kembali akan Will. Padahal dulu Will merasa berat jika sedikit saja tidak bersama Arin. Tapi sekarang dia malah pergi tanpa memberi kabar apapun.
"Arin, kamu tidak papa?" Perntanyaan Loman membuat Arin tersadar kembali. "Seharusnya aku yang bilang begitu." Dengan sangat cepat, Arin langsung meraih tangan Loman dan Loretta, kemudia membuat mereka berdua bergandengan tangan.
"Berbaikanlah." Ucap Arin dengan nada sedikit tinggi begitu mereka berjabat tangan. Mereka berdua terdiam sejenak karena terkejut. Mungkin ini pertama kalinya Arin memasang ekspresi marah.
"Baiklah. Aku akan mencoba untuk berbaikan dengannya." Walau disertakan dengan helaan nafas, namun perkataan Loman terdengar cukup tulus. Loretta juga mengangguk pelan menandakan bahwa setuju dengan itu.
"Baguslah, aku lebih suka kalian seperti itu." Arin tersenyum kembali mendengarnya. Dengan begini, mereka setidaknya tidak akan bertengkar setiap waktu. Setidaknya itu yang Arin harapkan saat itu. "Ini pasti akan lebih seru jika Will ada disini."
Wajah Arin terlihat murung setelah semua itu. Loman dan Loretta tentu menyadari alasan dibalik itu. "Ayo kita cari." Dengan penuh semangat, Loretta menawarkan hal itu seakan itu sestuatu yang mudah.
"Setelah kita lulus dari akademi, kita bisa bergabung dengan guild kan, lalu membentuk tim sendiri. Setelah itu baru kita bisa berpetualan mencari Will." Penjelasan Loretta terdengar masuk akal, namun entah apa akan mudah untuk dilakukan.
"Kita coba saja. Syarat untuk menjadi anggota guild adalah memiliki 4 circle. Itu persyaratan yang sama dengan kelulusan murid tingkat 3." Loman menambahi poin yang bisa mendukung rencana Loretta. Sepertinya mereka berdua bersemangat untuk mencari Will kembali. Atau malah hanya sekedar ingin menghibur Arin.
"Memangnya saat itu kita sudah cukup kuat? Ahaha." Arin tertawa cukup kencang seperti meremehkan kemampuan dirinya dan kedua temannya. Lagi-lagi wajah cemberut Loretta keluar menanggapi komentar Arin. "Master yang akan jadi paling lemah. Karena rambut master sudah seperti orang tua."
Hinaan balik dari Loretta sambil menunjuk rambut putih Arin membuat situasi kembali riang. Mereka bertiga akhirnya terlarut dalam kesenangan mereka selama berkeliling ibukota. Tanpa menyadari bahwa sesuatu akan terjadi disana.
---
"Gadis itu sekarang sedang pergi ke ibukota bersama dua temannya." Ucap salah seorang penjaga gerbang saat ditanya oleh gadis berkacamata. "Baik, terimakasih." Jawabnya kemudian menyusul langsung Arin.
"Kenapa aku tidak diajak ya. Padahal aku sudah membawakan kue lagi untuknya." Terpampang ekspresi kesal karena Cristya yang juga temannya tidak pernah sekalipun Arin ajak untuk berjalan-jalan kemanapun.
Ketika hendak menuju ibukota, ada sebuah burung sihir yang terbang menuju arah Cristya. Burung sihir itu merupakan suatu cara untuk menghubungi orang yang berada jauh agar bisa berkomunikasi. "Sekarang saatnya, anakku. Lihatlah hasil karya terbaruku."
Muncul suara begitu burung sihir itu hinggap dengan aman di tangan Cristya. "Karya terbaru?" Cristya entah mengapa mulai merasakan firasat buruk lagi. Sesaat setelah itu, ia melihat sebuah kilatan cahaya tepat ditengah ibukota. Kilatan itu hanya terjadi singkat.
Tidak ada seorangpun yang tau apa maksud kilatan itu. Mereka yang melihatnya pasti hanya menganggap itu sesuatu yang biasa. Namun karena Cristya tahu apa itu, ia mulai berlari dengan cepat menuju ibukota. "Jangan. Jangan sekarang. Ariiin!!!"
Cristya berlari sambil berteriak kencang. Air matanya mengalir deras hingga ia menutup matanya karena tak sanggup melihat apa yang akan terjadi. Kini kilatan cahaya itu muncul dengan ukuran yang sangat besar hingga seakan membutakan seluruh orang disana.
Untuk pertama kalinya, ibukota Luxirous dibumihanguskan.