
"Menanyakan pada sang pahlawan? Memang beliau itu siapa? Ada banyak pahlawan di kerajaan ini, bahkan keluarga Loman pun termasuk di dalamnya." Loretta turut andil berbicara karena merasa ide ini terlalu aneh.
"Tapi, beliau masih hidup. Kita hanya perlu mencarinya." Cristya bersikeras merasa bahwa itu lebih baik daripada mencari langsung keberadaan ayahnya. "Pada akhirnya kita tetap mencari sosok yang mirip hantu ya." Loman mengambil beberapa camilan yang ada di meja sambil berjalan keluar dari ruangan itu.
"Mau ke mana?" Loretta tanpa sadar juga mengikuti Loman dari belakang. "Hari sudah mulai gelap. Kita lanjutkan besok saja. Sampai jumpa. " Ucap Loman kemudian pergi meninggalkan mereka bertiga. Loretta terdiam di ujung pintu sambil menyaksikan kepergian laki-laki itu.
"Kalau begitu kita sudah i dulu. Ayo senior, kita kembali." Arin mengajak Cristya untuk segera kembali ke asrama mereka. Dengan pikiran yang masih dipenuhi rasa khawatir dan takut, Cristya mengangguk pelan dan mulai melangkah menuju kamarnya.
---
Setelah hari itu, Arin dan lainnya kembali membahas tentang informasi yang mereka dapatkan. Mereka juga sepakat untuk segera melaporkan bahwa pelaku dibalik semua ini adalah ayah dari Cristya. Tentu saja fakta bahwa Cristya juga adalah Homunculus dirahasiakan.
'Karena kami masih terhitung pelajar, jadi hanya bisa melaporkan nya pada kepala akademi ya. Yah kuharap saja pria tua itu tahu harus melakukan apa.' Arin merasa sedikit lega karena tidak perlu menyelesaikan kasus sebesar itu. Selain karena bisa saja identitasnya akan lebih berbahaya tersebar, ia juga malas untuk melakukannya.
"Nona, kita sudah sampai." Ucap kusir yang memberhentikan kereta kudanya tepat didepan pos penjaga desa. "Terimakasih." Arin melompat keluar dan langsung menghampiri pos penjaga itu. Mereka yang saat itu mendapat giliran berjaga sudah kenal betul dengan Arin.
"Cepat sekali kamu pulang Arin. Kenapa tidak menghabiskan waktu disana saja sambil bermain?" Ucap salah satu penjaga itu begitu melihat Arin berlari melewatinya. "Weekk. Lebih seru bermain dengan adikku. Dadah!" Canda Arin sambil menjulurkan lidahnya.
"Setidaknya tunjukan identitas atau mengisi data sebagai bentuk formalitas. Dasar anak nakal." Penjaga itu tersenyum sambil melihat gadis itu yang kini semakin menjauh lenyap diantara orang-orang lainnya.
Seakan tidak sabar kembali ke sebuah tempat yang ia sebut rumah, Arin berlari tanpa henti hingga sampai. Melewati pasar yang cukup ramai, alun-alun dan taman yang dipenuhi anak kecil yang sedang bermain, serta sungai kecil dengan beberapa lahan sawah yang membentang di sekitarnya. Sampai kapanpun Arin tidak pernah bosan melihat semua itu.
"Paman, aku hutang satu apel ini ya? Hehe." Ucap Arin pada kenalan pedagang buah yang pertama kali ia jumpai saat datang bersama Ricardo. "Yang kamu ambil itu tiga biji, dasar." Seakan sudah terbiasa menghadapi tingkah Arin, pemilik kios itu hampir tidak bereaksi sama sekali dan tetap diam di kursinya bersama sebuah koran yang ia baca.
Setelah berlari cukup lama, akhirnya ia sampai di rumah sederhananya. Terlihat Ricardo saat itu tengah berbincang-bincang dengan dua prajurit desa lainnya. "Ayah, aku pulang." Sapa gadis itu sambil melambatkan langkah kakinya.
"Baaa!!!" Tia muncul secara tiba-tiba di hadapan Arin tanpa adanya jejak sedikitpun. Namun kejutan itu sepertinya tidak menimbulkan efek apa-apa. 'Uwah! Bagaimana Tia bisa muncul tiba-tiba begini?' tentu saja rasa terkejut Arin tidak ia keluarkan dalam ekspresi nya.
Melihat Arin yang terdiam menatap gadis kecil itu, ia pun mulai cemberut. "Ini gara-gara ayah." Gerutu Tia membuatnya terlihat imut di mata Arin. "Tidak juga. Sebenarnya kakak tadi cukup terkejut. Siapa yang menyangka Tia bisa menggunakan sihir kamuflase iya kan?" Arin berusaha menghibur Tia sambil merangkul dan menuntunnya masuk ke dalam rumah.
'Sihir kamuflase ya. Itu adalah sihir khusus prajurit yang hendak dikirimkan ke medan perang. Apa yang ada dipikirkan ayah hingga mengajarkan Tia seperti ini.' Sihir kamuflase tergolong sihir tingkat menengah yang normalnya bisa dikuasai saat berhasil memasuki tingkat kedua akademi. Arin tentu tahu bahwa Tia berbakat, tapi tidak menyangka akan seperti ini.
"Ibu, aku pulang." Arin menyapa Mona begitu masuk ke dalam rumah bersama Tia. Saat itu Mona sedang membersihkan rumah dengan sebuah sapu yang melekat di tangannya. "Selamat datang kembali, Arin." Seperti biasa, senyum di wajah Mona selalu bisa membuat hati Arin menjadi riang kembali.
"Ah aku lapar." Nampaknya Ricardo baru saja menyelesaikan urusannya dengan kedua prajurit tadi. Ia datang menyusul Arin dan mengangkatnya dengan cepat. "Wah, anakku tumbuh semakin besar ya. Hahaha." Tawa Ricardo sambil berputar pelan membawa Arin ke setiap sudut ruang makan saat itu.
"Ibu ibu. Tahu tidak? Tadi Tia berhasil mengejutkan kakak." Ricardo sesaat langsung terdiam dan berhenti menggerakkan Arin. Perasaan lega mulai muncul dalam hati Arin karena ini sudah berakhir. Namun di sisi lain, ia penasaran mengapa ayahnya tiba-tiba terdiam. "Wah, nampaknya putri ibu ini sudah pandai bersembunyi ya." Mona tersenyum memuji Tia sambil mengusap rambutnya.
"Hm, tentu saja. Tia sudah ahli bersembunyi dengan sihir kamuflase yeey!" Tepat setelah Tia mengatakan itu, Ricardo tiba-tiba menghilang dengan cepat. Sangat cepat hingga berhasil lolos dari mata Arin saat itu. Arin berhasil secara refleks berdiri kembali begitu ia terlepas dari ayahnya, namun suasana saat itu adalah pertama kalinya Arin merasakan.
"Arin. Karena sekarang kamu lelah sehabis perjalan, silahkan istirahat terlebih dahulu. Ibu masih ada keperluan mendesak saat ini." Mona mengatakan itu sambil mengambil sebilah tongkat dengan motif yang aneh. Ia juga mengenakan jubah usang yang sudah lama tergantung tanpa pernah disentuh sedikitpun.
"Ibu akan pergi menangkap tikus dulu. Kalian jagalah rumah sebentar saja ya." Walau kali ini senyum Mona masih terpampang dengan jelas, namun entah kenapa aura nya terasa berbeda.
Setelah Mona mengatakan itu, ia juga tiba-tiba menghilang. Tidak seperti Ricardo barusan, kali ini Mona menghilang tanpa mengeluarkan suara atau angin sedikitpun. 'Mustahil. Ini, teleportasi? Bahkan milik Reinhard saja tidak bisa secepat ini.' Pikir Arin saat merasa tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Hehe. Ayah dan ibu hebat bukan? Tia juga ingin jadi hebat seperti itu yaay." Arin menoleh ke arah Tia dengan terbata-bata. 'Jangan-jangan ini bukan yang pertama kalinya? Melihat Tia tidak terkejut, sepertinya demikian. Dan juga, sejak kapan kamu berhenti memanggil 'papa' dan berubah menjadi 'ayah'?'
Melihat kakaknya yang tampak terkejut, sepertinya Tia sadar bahwa kakaknya belum mengetahui tentang hal ini. "Ah benar. Kakak belum tahu ya. Sebenarnya, ibu itu mantan pemimpin menara sihir yang sebelumnya, hehe."