
Kejadian tadi adalah sesuatu yang tidak dimengerti oleh Arin. Gadis itu tahu dia mengeluarkan api dengan mana, tetapi apa yang spesial dari itu? Dia sudah terbiasa menggunakan mana sejak dirinya terlahir menjadi monster. Mana bukan hal baru baginya karena untuk mengaktifkan skill, dia harus menggunakan mana.
'Apa aku coba bertanya?' Arin merenung.
Karena hari mulai gelap Arin diarahkan menuju kamarnya. Menurut jadwal penerimaan, masih ada satu minggu lagi bagi peserta yang tidak sempat mendaftar hari ini. Artinya beberapa hari kedepan merupakan hari bebas bagi murid yang sudah diterima. Arin masih belum menentukan akan berkeliling untuk melihat-lihat akademi atau hanya berdiam diri saja.
'Sebenarnya besok aku mau coba melihat-lihat. Tapi tatapan mereka menakutkan,' Arin berfikir dalam hati sambil mengingat kejadian saat ujian pagi tadi.
Kemudian ketika istirahat makan siang dia mendapat banyak tatapan tak bersahabat. Seakan-akan mereka mencoba mengulitinya. Berulang kali Arin bergidik karena merinding. Bisikan dari satu orang ke orang lain yang membuat banyak kelompok kecil membuat telinganya berdengung. Sehingga, walaupun makanan di nampannya terlihat lezat sayangnya ***** makannya telah hilang.
Fasilistas kantin dapat dinikmati oleh setiap murid sehingga Arin tak perlu pergi keluar mencari makanan. Untuk uang, setiap bulan pihak akademi akan memberikan sejumlah tunjangan untuk digunakan para murid. Sepertinya akademi ini benar-benar kaya karena banyak sekali keluarga bangsawan yang menyokongnya.
"Arin, kamarmu ada disebelah sana." Pelayan wanita di depan Arin menunjuk pintu kamar bernomor '55' dan menarik Arin dari dunianya sendiri.
"Te-terima kasih." Arin menganggukkan kepala untuk sopan santun.
Pelayan itu menatap Arin dengan tajam. Kekesalannya pada gadis itu ditunjukkan terang-terangan. Apa alasan sebenarnya dibalik perlakuannya itu pun Arin tidak tahu karena ini kali pertama mereka bertemu.
"Kuharap kamu tidak menyebabkan masalah padaku selama bersekolah disini. Kejadian di kantin tadi siang benar-benar merepotkan. Selamat tinggal." Pelayan itu berbalik dan meninggalkan Arin yang sudut bibirnya turun.
Terdengar gema sepatu hak tingginya yang memenuhi lorong asrama, mengusik kesunyian pada lorong yang sepi.
'Ah, ternyata dia marah karena itu. Memangnya salahku jika aku ditertawakan oleh murid lain hanya karena circle-ku hitam? Seharusnya murid lain yang dia tegur, bukan aku.' Arin bergumam kesal sembari mengeluarkan kunci kamar yang didapat setelah ujian.
Begitu Arin masuk ke kamarnya, ternyata kamar asrama ini lebih bagus dari yang Arin bayangkan. Di dalamnya sudah tersedia tempat tidur, lemari pakaian, meja rias, meja belajar, dan kamar mandi. Ruang kosong yang tersisa beralaskan karpet lembut bisa digunakan bila ada teman yang ingin bermain ke kamarnya.
Arin meletakkan tas kecilnya di atas tempat tidur dan berjalan menuju jendela. Disibaknya perlahan tirai berwarna gading dengan motif timbul kupu-kupu, kemudian menggeser jendela hingga terbuka. Dari tempatnya berdiri, gadis itu bisa melihat pemandangan ibukota yang indah dengan berbagai warna lampu menghiasi malam. Dia memanjakan diri melihat pemandangan tersebut. Menikmati setiap hembusan angin yang menerpa walau itu tidak membuatnya kedinginan.
Benar juga. Arin pernah terjatuh ke lantai paling dingin jauh dibawah tanah ketika musim dingin. Semua yang ada disana membeku, sampai Arin secara tak sengaja pun mendapatkan resistensi akan suhu dingin. Jika dibandingkan dengan itu, angin malam ini tidak ada apa-apa nya.
Saat Arin melihat kesana kemari karena terpesona dengan indahnya malam, tiba-tiba matanya tertuju pada sekumpulan cahaya didekat asramanya.
"Taman?" ucap Arin begitu melihat dengan seksama bahwa cahaya yang tadi ia lihat ternyata adalah lampu-lampu yang menerangi setiap jalan di taman dekat asrama. Cahaya dari lampu itu cukup terang untuk menyinari berbagai macam bunga yang bermekaran di sana.
'Apa aku coba pergi kesana? Yah, daripada diam disini, mungkin tidak ada salahnya.' pikir Arin sambil menjauhi jendela dan membuka lemari pakaiannya.
Ketika berjalan menuju pintu depan asrama, dia beberapa kali bertemu pelayan di lorong, tangga, dan lantai bawah asrama. Mereka hanya menyapa dengan membungkukkan badan kemudian melanjutkan aktivitas mereka. Gadis itu mempercepat langkahnya untuk mendekati pintu utama.
Hembusan angin menerbangkan rambut peraknya begitu dia keluar dari gedung asrama. Dia kembali melangkahkan kakinya tetapi kali ini lebih santai.
Malam ini angin berhembus agak kencang, membuat daun pada pohon-pohon tinggi bergemerisik. Hewan malam mulai menyanyikan simfoni indah mereka.
Taman yang dilihatnya dari jendela kamarnya tak terlalu jelas, tetapi begitu tiba dia tak bisa menutupi keterkejutannya. Tiang-tiang tinggi membawa lampu paling terang sebagai lampu jalan. Tersebar pula lampu lain yang lebih redup di antara bunga-bunga sehingga menimbulkan ilusi bahwa mereka memancarkan cahayanya sendiri layaknya bintang.
Semerbak wangi bunga mulai tercium semakin Arin mendekati taman itu. Benar-benar menyegarkan. Mungkin ia tidak akan pernah bosan jika berada di tempat seindah ini dalam waktu yang lama.
"Burung kecil? Sedang apa di tempat seperti ini?" Tiba-tiba suara yang tak asing mengejutkan Arin.
Gadis itu menoleh ke belakang, tempat dimana suara itu muncul. Dan benar dugaannya.
"Tu-tuan Muda Raven?" ucap Arin dengan sedikit gugup karena kehadirannya yang tiba-tiba.
"Namaku Loman. Tidak perlu terlalu formal. Di akademi ini kita setara." Loman melewati Arin.
"Kalau begitu, panggil aku Arin." Arin tersenyum, dia mengikuti tepat satu langkah dibelakang laki-laki itu.
Loman berjalan mengitari taman, sambil melihat kanan-kiri tempat berbagai bunga bermekaran. Arin juga asik mengamati bunga-bunga cantik di dekatnya.
"Memangnya apa yang bisa dilihat dari taman ini?" tanya Loman sambil menoleh ke belakang dan menatap Arin.
"Karena bunga-bunga ini cantik, bukankah begitu?" Arin balas bertanya, bibir merahnya membentuk seperti bulan sabit.
Mendengar pertanyaannya membuat Loman terdiam. Dia bukanlah ibunya yang akan menghabiskan waktu berjam-jam merawat pohon yang kekurangan gizi. Dia tak melihat ada yang menarik dari sekumpulan tumbuhan berwarna-warni.
Bagi laki-laki, bunga bukanlah hal wajar untuk diminati. Arin paham betul. Di dunianya, bunga lebih digunakan sebagai hadiah bagi laki-laki untuk diberikan pada wanita. Dan dia yakin, dimanapun itu hal seperti itu tak akan berubah.
Jadi, Arin mengalihkan pertanyaannya pada hal lain. "Apa tidak ada sesuatu yang kamu anggap cantik?"
"Mungkin salju." Loman mengangkat wajahnya untuk menatap langit bertaburkan bintang dengan satu bulan yang tampak seperti setengah lingkaran.