This Story Will Be Remake

This Story Will Be Remake
Chapter 55. Perjalanan Rahasia



Akibat serangan dahsyat yang Arin lancar kan, terjadi ledakan yang sangat besar hingga menimbulkan retaknya tanah sekitar dan membentuk lubang yang amat besar. Bahkan ledakan itu berkali lipat lebih besar dari serangan pertama. Hal itu disebabkan serangan kali ini, Arin mempertaruhkan seluruh mana miliknya agar bisa terbebas dari maut.


"Benar-benar bodoh. Jika saja tadi Risa tidak melepaskan anak itu, pasti dia sudah mati." Ucap Dio yang mengutuk keberuntungannya bisa selamat dari mereka berdua. Dio juga tidak terlihat panik seperti sebelumnya, yang artinya Risa masih baik-baik saja. "Aku tidak akan terjebak kedua kalinya."


Risa mengatakan itu sambil bangkit dari tempatnya, seluruh tubuhnya berwarna merah dengan batu kristal di jantungnya sebagai sumber kekuatan utama. Tangan kanannya juga berubah menjadi perisai raksasa dengan lubang besar di bagian tengah akibat tertembus serangan Arin. "Dia berbahaya Risa. Lain kali jika bertemu lagi, kita harus membunuhnya." Risa mengangguk setuju dengan perkataan Dio, dan mereka berdua pun meninggalkan tempat itu.


---


"Apa itu barusan?"


"Ledakan apa itu?"


Kepanikan mulai melanda penduduk wilayah Lancelot. Semua orang terbangun akibat ledakan yang terjadi, bahkan terdapat bebatuan kecil yang terbawa angin hingga merusak kulit benteng pembatas wilayah itu. "Cepat laporkan hal ini pada tuan Duke. Wilayah di perbatasan hutan Eleanor telah membeku dan terdapat ledakan besar." Ucap salah seorang penjaga benteng yang berhasil mengetahui situasi terlebih dahulu.


Warga yang tempat tinggalnya masih terjangkau area benteng segera diungsikan untuk mencegah adanya serangan lanjutan. Karena kediaman Lancelot terletak cukup jauh dari lokasi itu, butuh waktu hingga beberapa jam bagi pasukan Duke untuk bisa sampai disana.


Kabar itu juga dengan sigap Duke sampaikan langsung pada Raja kerajaan agar beliau bisa segera mengambil tindakan. "Sejujurnya aku tidak ingin mengirim kembali kedua putra ku saat ini. Kondisi mereka masih belum sembuh seutuhnya. Ku mohon padamu." Ucap sang raja pada seorang pria tua yang sudah ia kenal sejak kecil.


"Tidak apa. Lagipula tanpa kamu minta aku sudah pasti akan mengajukan sendiri, saudaraku. Dan juga, cukup panggil saja namaku saat kita sedang berdua saja." Sang raja merasa tenang karena sahabat lamanya sama sekali tidak mempermasalahkan permintaan nya itu. Ia berjalan mendekatinya sambil menepuk pundaknya yang tampak lebih tegar daripada dirinya sendiri. "Terimakasih, Requaza." Ucap sang raja pada pria tua itu.


Requaza segera memulai persiapan untuk pergi ke wilayah Duke Lancelot. Mendapat tambahan prajurit kerajaan berjumlah 200 orang, kesatria bayangan raja 20 orang, serta membawa dewan akademi sebanyak 10 orang terpilih dengan kemampuan yang melebihi murid lainnya. Requaza berangkat menggunakan gerbang teleportasi yang sudah disediakan.


"Jangan lepaskan tanganku." Terdengar bisikan seorang gadis sambil memegang tangan pemuda, menyelinap diantara pasukan itu. Kedua orang itu adalah Loman dan Loretta, yang sedang menggunakan sihir khusus 'Kamuflase,' sihir yang sama dengan Tia ketika hendak mengejutkan Arin.


"Kita mulai." Ricardo langsung menteleportasi kan seluruh pasukannya, termasuk Loman dan Loretta yang ikut menyelinap. Begitu sudah sampai di tempat tujuan, mereka berdua segera berpisah dari pasukan agar tidak terdeteksi. Karena untuk pasukan sekelas prajurit, mereka sudah bisa mengenali sihir 'kamuflase' dengan baik asalkan mereka fokus.


"Loman? Kita sudah sampai." Loretta kembali memanggilnya begitu merasa aneh dengan tingkah Loman yang sedari tadi menatapnya dan tidak ikut melepas tangan Loretta. "Ah, maaf. Aku hanya memikirkan hal lain tadi." Ucapnya sambil berdiri dan memalingkan wajah. Karena ini bukan saatnya mereka untuk bercanda, Loretta tidak mempermasalahkan hal itu dan kembali fokus.


Mereka berlari menuju benteng itu dan memanjat nya menggunakan sihir. Benteng itu memanglah tinggi tapi dengan kemampuan mereka berdua yang sudah sampai circle dua, itu bukan hal yang menyulitkan. Begitu selesai melewati benteng, Loman dan Loretta pergi menuju lokasi yang Arin beri tanda melalui jalur yang berbeda dengan pasukan milik Requaza. Tujuannya tentu untuk menghindari kontak dengan mereka.


Saat sudah berlari cukup lama, tiba-tiba Loman merasa ada yang mengikuti mereka. "Tunggu, Loretta." Ucapnya sambil menghentikan laju Loretta. Loman mengamati sekitar untuk menemukan keanehan yang ada. Loretta yang saat itu tidak merasakan apa-apa juga ikut memeriksa dan tanpa sadar ia menoleh ke salah satu batu besar yang terletak di pinggir sungai.


"Loman, lihat itu." Ucapnya sambil menunjuk batu itu, yang di atasnya terdapat sosok binatang kecil. "Burung? Tidak, itu-..." Loman berusaha mengidentifikasi sosok kecil itu dari jauh, dan begitu berhasil mengetahuinya, ia langsung terkejut.


"Itu Silver Nephthys. Padahal sekarang malam hari, tapi kenapa-..." Belum selesai Loman berbicara, burung langsung pergi menuju suatu tempat. "Apakah disana ada master?" Loman menelan ludahnya, karena juga berharap bahwa ia bisa menemukan Arin secepatnya. Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk mengikuti kemana burung itu pergi.


---


Setelah beberapa waktu mereka berdua mengikuti burung itu, akhirnya mereka sampai di perbatasan hutan Eleanor. Burung itu masuk kesana tanpa rasa takut sedikitpun, padahal daerah itu sudah merupakan rumah bagi para monster. Namun itu tetap tidak penting mengingat prioritas mereka sekarang adalah mencari Arin.


Setelah memasuki hutan, burung itu hinggap di suatu dahan pohon yang dangkal, menunggu Loman dan Loretta menyusul nya. Mereka berdua terdiam melihat tindakan apa yang akan selanjutnya burung itu lakukan. "Loman, Loretta, ini aku Arin." Tiba-tiba dari burung itu terdengar suara Arin berbicara. Sontak mereka berdua pun terkejut dan langsung berusaha bertanya ada dimana Arin saat ini.


"Tenanglah. Aku akan menuntun kalian ke sini. Namun sebelum itu, berjanji lah kalian tidak akan panik." Loman dan Loretta terdiam sejenak menenangkan diri, kemudian mengangguk setuju. Tepat setelah itu, burung itu kembali terbang perlahan menuju ke sebuah tempat dimana terlihat ada banyak bebatuan besar dan air sungai yang mengalir. Mereka mengikuti burung itu menyusuri bebatuan itu.


"I-itu!" Ucap Loman yang terkejut saat melihat ada sebuah sayap seukuran manusia di tepi batu besar. Sayap itu kemudian bergerak perlahan, memperlihatkan kondisi tubuh Arin yang saat itu telah kehilangan sayap kanan, tangan kanan dan kaki kirinya. Loretta hampir saja menangis dan menjerit histeris, namun berhasil Arin redam dengan menempelkan telunjuk kirinya dan mengisyaratkan untuk diam.


"Jangan khawatir. Aku memiliki skill 'Ultraspeed Regeneration." Selama ada skill ini, luka separah apapun pasti akan sembuh. Hanya saja sekarang aku benar-benar kekurangan mana. Jika mana terakhir yang tersisa ku gunakan, maka aku tidak akan bisa berbuat apa-apa jika ada yang menyerang." Arin menjelaskan apa yang terjadi padanya di malam yang singkat itu. Loman terduduk diam, sedangkan Loretta memeluk lembut Arin sambil menangis.


"Itulah yang terjadi. Jadi untuk sekarang, apa kalian bisa membawa ku ke suatu tempat dahulu?" Ucap Arin sambil tersenyum dengan bekas darah yang masih menempel di mulut dan mata kirinya.