
Di tengah keputus asaan Arin dan para pengungsi itu hadapi, puluhan kesatria dari kediaman Count berlari kearah belakang dengan gesit. Mereka dipersenjatai lengkap dan nampak sangat bisa diandalkan. Belasan manusia dengan jubah penyihir menyusul kemudian untuk membantu dan menyembuhkan pengungsi yang terluka.
Kedatangan mereka memberikan hembusan kelegaan bahwa masih ada harapan untuk selamat bagi warga desa yang tak berdaya. Terlebih begitu kedatangan Count Franz Raven dan kedua putranya tersebar dari mulut ke mulut.
Arin menatap mereka dari jauh.
Salah satu kesatria memberi laporan pada Tuan mereka. "Tuanku, menurut laporan dari Gerbang Selatan, mereka mengkategorikan makhluk ini sebagai kelas B tingkat tinggi, dan juga-"
"Aku tidak peduli." Ucapan kesatria itu di sela oleh sang Count. Dia terus melangkah ke garis depan. "Pada akhhirnya mereka hanya monster tanpa akal."
Menyadari banyaknya manusia, salah satu raksasa berlari dengan cepat.
"Keluarkan pelindung circle enam!" Pemimpin para kesatria itu memberikan komando dengan suara lantang.
"Tidak perlu. Bersiap untuk menyerang!" Franz mengganti komando dengan cepat.
"Tapi Tuan, menurut laporan, monster itu bisa menembus pelindung tingkat empat dengan mudah." Pemimpin itu mencoba berunding.
"Keluarga Raven adalah keluarga dengan kemampuan bertahan terbaik di kerajaan Luxirous. Apa kau meremehkan itu?" Count Raven melirik si pemimpin dan membungkamnya dengan telak.
"Ayah sendiri yang akan menghentikannya?" Tuan Muda Pertama maju mendekati Count Raven.
"Benar. Tidak perlu ikut campur." Franz mengeluarkan circle merahnya. Namun circle itu bukannya mengelilingi tubuh, tetapi berputar vertikal tepat dihadapannya dengan ukuran yang membesar.
Franz menarik pedang dari sarungnya dan mengarahkannya ke atas. Dengan penuh keberanian dia berniat menghadapi raksasa yang berlari ke arahnya seorang diri.
"Pembelah Waktu." Franz mengayunkan pedangnya dari atas ke bawah, tepat dibelakang circle merah vertikal.
Tak terjadi apa-apa. Hanya suara langkah si raksasa yang makin mendekat yang mengisi kesunyian karena was-was. Namun pada detik ke lima dari jarak dua puluh meter, tubuh yang berlari itu terbelah menjadi dua dan jatuh dengan suara bedebam keras ke kiri dan ke kanan. Aliran sungai merah terbentuk setelahnya.
Tebasan yang mampu membelah apapun dari jauh adalah kemampuan khusus milik Count Raven. Semua orang paling tidak pernah satu kali mendengarnya, tetapi sensasi dari mendengar dan melihat langsung tentu saja berbeda. Pasang mata dari semua orang yang menyaksikan itu tak bisa tak membelalak takjub.
Namun, kematian satu dari beberapa raksasa yang mendekat tak berefek apa-apa. Mereka bergerak bersama untuk menyerang para kesatria dan Count Raven.
"Kita ini perisai kerajaan, bukannya tombak. Merepotkan," keluh Tuan Muda Kedua sembari menarik keluar pedangnya.
"Jangan mengeluh. Jika menunggu pasukan kekaisaran, maka akan sangat terlambat." Tuan Muda Pertama membalas adiknya lalu segera menyusul ayah mereka.
Lingkaran menyebar sejauh lima ratus meter dengan kedua pemuda itu sebagai pusatnya. Para raksasa yang terperangkap tak ubahnya seperti tikus yang menginjak lem. Berhenti, tak berdaya, dan tak bergerak karena kuatnya tekanan gravitasi.
"Maju!" Franz memberi aba-aba dengan keras.
Para kesatria langsung berlari menerjang raksasa-raksasa yang sudah dilumpuhkan. Dengan setiap ksatria yang sudah mencapai circle empat para pengungsi yakin jika mereka akan selamat. Terlebih dengan Count dan kedua putranya.
Jarak antara Arin dan pertempuran baru itu semakin jauh. Semua pengungsi sudah keluar dari jarak bahaya dan terus bergerak. Sepasang mata gadis itu terus mengawasi laju pertempuran karena baginya Mona dan Tia adalah prioritasnya untuk saat ini. Kedua anggota keluarga angkatnya ini harus berada di tempat aman terlebih dahulu.
'Raksasa-raksasa itu kuat, tetapi dengan keadaan seperti itu akan lebih memudahkan para kesatria.' Arin menatap makhluk setinggi tiga meter yang dilumpuhkan dan merasakan perasaan aneh yang disebutnya sebagai intuisi. 'Terlihat seperti manusia.'
Arin mengalihkan tatapannya pada Tia yang tertidur dalam pelukan Mona. Dan ibu angkatnya yang menatap wajah gelisah putri kandungnya. Dia telah menyerahkan para raksasa itu untuk ditangani para kesatria. Lagipula itu memang tugas mereka untuk menjaga keamanan para penduduk.
Pengungsi semakin tenang. Mereka memfokuskan kaki mereka untuk bergerak secepat yang mereka bisa. Kereta Kuda tempat Arin duduk malah lebih sunyi lagi karena kebanyakan dari mereka tidur. Perasaan aman membuat mereka mampu untuk menutup mata karena lelah.
Arin merasakan sosok yang dikenalnya. Cahaya bulan menerangi wajahnya yang satu tahun lebih tua dari umur manusianya. Tubuhnya menghadap kebelakang dan mata dibalik kaca mata itu menatap kepulan asap yang tercipta dalam pertempuran. Dan senyum aneh yang terpatri pada bibirnya membawa perasaan tak enak pada Arin.
---
"Ricardo, pesan untuk Count Raven sudah sampai. Sekarang kita bisa meninggalkan tempat ini." Seorang kesatria datang menghampiri Ricardo.
Ricardo menarik tombak yang tertancap pada kepala raksasa dan menoleh pada si kesatria. Ekspresinya kalut, seakan tengah memikirkan sesuatu. Dan memang benar, dia merasa ada sesuatu yang janggal dalam penyerangan ini. "Aku sudah melawan tiga dari mereka. Dan mereka cukup kuat untuk disejajarkan dengan kelas B tingkat tinggi. Hanya saja, aku tidak pernah melihat monster semacam ini sebelumnya."
Seharusnya jika monster seberbahaya itu berkeliaran, akan ada laporan yang masuk. Karena di alam liar kerajaan Luxirous, hanya monster selevel C saja yang bisa dijumpai. "Ada apa Ricardo?" Tanya kesatria itu yang melihat Ricardo tampak melamun.
"Apakah kamu pernah dengar Homunculus?" Pertanyaan Ricardo membuat kesatria itu kebingungan. Pasalnya homonculus itu tidak pernah ada dan hanya berupa mitos karena tidak ada satupun negara yang pernah dan boleh untuk membuatnya.
'Aku pernah melihat sedikit catatan sejarah tentang keberasaan makhluk tersebut. Makhluk sempurna yang diciptakan untuk melawan dewa. Namu karena proses pembuatannya sangat tidak manusiawi, akhirnya pembuatan homunculus pun dilarang dan disembunyikan dalam sejarah.'
Dengan mengetahui fakta tersebut, Ricardo cukup khawatir jika yang ia lawan merupakan Homunculus yang dimaksud. Karena jika hal itu benar, maka bukan hanya negara, tapi dunia ini akan dilanda bencana. Karena itu adalah senjata paling mengerikan yang pernah umat manusia ciptakan.
Melihat kesatria itu yang tampak tidak mengerti apa itu Homunculus, akhirnya Ricardo melupakan pembicaraan itu.
Ricardo memberi aba-aba untuk segera meninggalkan tempat itu dan menyusul para pengungsi yang bergerak menuju kediaman Count. Semua orang langsung bertindak cepat untuk menyiapkan kuda dan menungganginya. Tak lama kemudian derap tapak kuda meninggalkan debu yang berterbangan dibelakang.
"Semoga kalian semua baik-baik saja." Ricardo mengeratkan pengangan pada tali kekang ketika mengingat putri dan istrinya.