
Pada hari itu, mungkin akan menjadi salah satu peristiwa yang akan dikenang oleh seluruh dunia. Karena ini adalah pertama kalinya ibukota kerajaan Luxirous dihancurkan. Hanya ada dua bangunan utama yang berhasil berdiri kokoh saat itu, yaitu istana kerajaan dan akademi Luxirous yang terlindungi oleh sihir medan yang sangat kuat.
"Apa yang terjadi?" Requaza terdiam tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini. Ia berdiri di lantai atas akademi Luxirous dan melihat dengan jelas bahwa kini ibukota telah rata dengan tanah. "Terdapat ledakan besar di pusat ibukota. Saat ini yang berhasil selamat kemungkinan hanya orang dalam akademi dan istana kerajaan saja."
Seorang kesatria menghampiri Requaza dengan laporan yang amat singkat, bahkan terdengar ambigu. Sepertinya kesatria itu menyimpulkan demikian karena hanya kedua bangunan megah itulah yang mendapat perlindungan sihir yang sangat kuat. Dan diantara mereka yang masih selamat, tidak ada yang tahu berapa orang yang sudah tewas.
"Aku sendiri yang akan pergi. Kerahkan juga seluruh kesatria penjaga akademi untuk evakuasi korban. Izinkan juga untuk murid tingkat tiga membantu karena kita kekurangan orang." Mereka mulai bersiap mengikuti perintah dari kepala akademi.
Saat ini, para murid tingkat satu dan dua yang terlihat langsung diarahkan kembali masuk ke akademi. Beberapa diantaranya ada yang terluka ringan karena mereka hanya terhempas oleh hembusan anginnya saja. Namun walau dengan luka ringan tersebut, sepertinya kejadian itu membuat beberapa murid merasa syok hingga mental mereka menurun.
Ketika Requaza telah selesai bersiap dan hampir tiba di pusat terjadinya ledakan, ia sudah melihat pasukan lain berdiri di depannya. "Kesatria kerajaan?" Requaza melambatkan langkahnya sambil memerhatikan sekitar untuk menemukan siapa yang memimpin pasukan ini. Tepat di depan pasukan itu terlihat 2 orang laki-laki berambut pirang dengan pakaian tempur mereka yang telah siap.
"Anda sudah datang ya. Sepertinya Anda datang di waktu yang tepat." Ucap laki-laki dengan postur yang beberapa centimeter lebih tinggi dari sebelahnya. "Tuan adalah pangeran Leonard? Kalau begitu sebelah Anda adalah pangeran Alexander?"
"Itu benar. Tapi itu tidak penting. Lihatlah kesana." Leonard menuju ke arah tepat inti terjadinya ledakan. Dan disana mereka mendapati manusia serba hitam. Di punggungnya terdapat dua sayap yang terlipat, serta mata kuning nya yang terus menerus menatap tanah. Monster itu tidak bergerak sedikitpun, seakan sedang menunggu sesuatu membangunkannya.
"Bagus kalau dia diam begitu saja. Namun aku merasakan bahaya yang besar kalau sampai dia mengamuk." Ucap pangeran Alexander begitu mengamati monster itu. Requaza hanya bisa menelan ludah karena juga merasa demikian begitu melihat, dan merasakannya langsung. Padahal jarak diantara mereka saat ini cukup jauh untuk bisa merasakan aliran mana monster itu.
"Sepertinya monster itu berada dalam kelas A. Dengan jumlah kita sekarang, harusnya kita bisa mengalahkannya." Pangeran Leonard menarik pedangnya dengan percaya diri. Tentu hal itu didasari karena adanya Requaza di pihak mereka yang kekuatannya sudah mereka ketahui dengan jelas.
"Tidak bisa. Bagaimana jika di sekitar monster itu masih ada orang yang hidup?" Pertanyaan pangeran Alex membuat Leonard terdiam. Itu memanglah hal yang bisa saja terjadi. Dan tanpa sepengetahuan mereka, sebenarnya Arin dan 2 temannya juga berada di sekitar monster itu.
---
"Hey. Arin, Loretta. Bangunlah, kalian tidak apa-apa?" Terdengar suara bisikan dari Loman yang berada diatas mereka. Loman memasang barrier tepat diatas mereka bertiga agar bisa menahan puing-puing reruntuhan bangunan yang ada diatas mereka. Ia mengamati sekitarnya yang penuh debu untuk mencari jalan keluar, setidaknya untuk kedua gadis yang sedang laki-laki itu lindungi.
'Ada jalan di sebelah sana.' pikir Loman sambil mencari cara agar bisa membawa kedua gadis yang tengah pingsan itu keluar. Ia mengambil pedang yang ada di pinggangnya sambil mengeluarkan circle ungu nya. 'Ini pertama kalinya ku gunakan, semoga ini cukup.'
Dengan harapan circle barunya itu bisa membuat celah besar, Loman merapal sihir ledakan yang cukup kuat untuk membuka jalan. Hasil dari ledakan itu sepertinya lebih baik daripada perkiraannya. Ia langsung membawa kedua gadis itu keluar dari puing-puing itu.
"Akhirnya kami bisa keluar dengan-..." Kelegaan yang Loman rasakan saat itu hilang seketika. Ia merasakan kembali sensasi saat tragedi penyerangan Ancient Hellhound. Seakan ada predator di belakangnya yang siap menerkamnya kapan saja. Dengan sangat berat, ia menolehkan wajahnya untuk melihat sosok predator itu.
Monster itu sedang menatap kuat Loman dalam diam, membuat seluruh tubuh Loman menggigil ketakutan. Bahkan tekanan yang ia rasakan jauh lebih berbahaya dibanding dengan Ancient Hellhound.
"Gawat. Ada beberapa orang disana, dan sepertinya mereka membangunkan monster itu." Ucap pangeran Leonard yang mulai panik dengan bangunnya monster itu. Begitu juga dengan pangeran Alex dan Requaza. Hanya saja kepanikan dari kedua orang itu bukan karena bangunnya monster itu, tapi karena nyawa ketiga murid yang dalam bahaya itu.
Tanpa berfikir panjang, Alex langsung menerjang maju dengan kecepatan tinggi menuju keberadaan tiga murid itu. "Apa yang sedang kamu lakukan adikku?" Leonard terlihat panik karena adiknya mengambil tindakan yang sangat gegabah. Ternyata hal itu juga membuat Requaza melakukan hal yang sama. Tanpa adanya banyak pilihan, mau tidak mau Leonard pun mengikuti keputusan mereka berdua.
'Gadis itu, Arin! Aku harus cepat!' dengan banyaknya puing-puing yang menghalangi Alex, ia terpaksa harus menggunakan Langkah Angin nya agar dapat berpijak diatas puing-puing itu. Keluarga kerajaan memang memiliki spesialis dalam elemen angin yang membuatnya jauh lebih unggul dari penyihir angin manapun.
Sementara itu, di sisi lain monster itu mengarahkan telapak tangannya ke arah Loman. Dari tatapan nya saja Loman menyadari bahwa monster itu akan langsung membinasakannya dalam sekejap. Pelindung kecil seperti barrier saja tidak akan sanggup menahannya.
Muncul bola hitam yang sangat pekat di permukaan telapak tangannya. Dan bola hitam itu langsung bergerak perlahan menuju Loman. 'Mati. Aku akan mati!' Di saat Loman sudah berputus asa akan kematiannya, ternyata terjadi sesuatu yang tak terduga. Bola hitam itu berbelok mulai menjauhi mereka, berputar-putar di udara hingga terbentuk topan besar.
Karena besarnya kekuatan topan itu, monster itu terlihat menahan diri agar tidak ikut terbawa angin raksasa itu. Sementara bola hitam yang sudah tersedot ke inti pusaran itu meledak dengan sangat kuat hingga setengah dari permukaan langit tertutupi oleh pekat nya awan hitam dari hasil ledakan itu.
"Pangeran Alexander?" Loman terfokus pada pangeran Alex yang tengah melayang tepat di belakang pusaran angin itu.