
Cahaya kuning khas sore hari menembus kaca-kaca pada jendela kelas. Memberi efek mengantuk di jam terakhir yang tak kunjung selesai.
Reinhard menatap jam yang menempel di dinding dan menutup bukunya. Dia mendongak, menatap wajah kuyu murid-muridnya yang menjerit ingin pelajaran di akhiri.
Satu bulan tersisa sebelum dia menemani mereka ke Bukit Uranus untuk tugas yang harus mereka selesaikan. "Dengarkan!" pria itu menarik perhatian seluruh kelas. "Untuk besok hingga satu hari sebelum misi berlangsung, kalian akan diliburkan dan di izinkan pulang. Istirahat dan berlatih, lengkapi peralatan apapun yang kalian butuhkan. Kelas selesai."
Ruangan riuh dengan suara sorakan. Entah karena mendengar kata 'libur dan di izinkan pulang', pada kata 'kelas selesai', atau bahkan keduanya. Selanjutnya mengalir perbincangan mengenai membeli alat sihir atau tempur baru juga menyombongkan diri sendiri.
"Kalau begitu, apa yang akan kita lakukan setelah ini?" Will menoleh ke belakang menatap Arin dan Loman.
"Tentu saja kembali ke rumah dan bersiap." Loman membalas setengah hati, kemudian menoleh pada Arin. "Ikut saja denganku jika kamu tidak memiliki tumpangan."
Arin tak langsung menjawab. Matanya berkedip beberapa kali dan agak bingung perihal Loman yang menawarinya tumpangan. 'Apa dia melihat lembar identitasku?'
"Otakmu pintar sekali, Tuan Muda Raven. Ingin menguasai Arin sendirian? Awas saja ketika kita sampai di Bukit Uranus, jangan harap bisa memasuki kediamanku dengan Arin." Will membalas.
Loman memutar matanya. "Nggak tertarik."
Arin mencoba menulikan telinganya mendengar perdebatan keduanya. Bukan lagi api dan air, baginya dua orang ini seperti air dan minyak yang karena tidak bisa saling cocok sehingga yang lain ikut terimbas dari pertikaian mereka.
"Ok, cukup!" Arin menengahi dan sebelum keduanya menjawab dia cepat-cepat melanjutkan. "Aku ada urusan, kalian urus masalah kalian sendiri. Tidak usah memikirkan besok aku akan pulang dengan apa. Sampai jumpa!"
Will dan Loman mencerna ucapan Arin yang super cepat. Keduanya sama-sama menghela nafas ketika gadis mungil itu sudah menghilang di balik pintu. Malas bertengkar, keduanya sama-sama mengacuhkan.
Dengan kaki-kaki kecilnya Arin berlari menuju asrama putri. Perjalanannya mulus tak terhenti. Lagipula dia tak perlu menyapa siapapun karena tak ada yang mau mengakrabkan diri padanya.
Begitu pintu tertutup rapat. Arin menjentikkan tangannya. Trik sederhana ini membuat pakaian yang melekat padanya terlepas dan pakaian baru menempel pada dirinya. Kemeja kuning labu yang dipadukam dengan rok lipit putih sebetis. Ini trik paling disukainya karena sangat praktis.
Dia mencuci seragamnya dengan trik lain yang dipelajarinya dari ibu asrama dan mengangin-anginkannya di dekat jendela.
Langit semakin gelap dan gadis itu menyalakan penerangan di dalam ruangan. Dia tak berencana membawa banyak hal dan menyambar tas pemberian Ricardo di dalam lemari untuk di isi dengan uang, buah, dan roti.
"Ini akan jadi perjalanan yang menyenangkan," gumam Arin sambil mengunci pintunya dari dalam dan mematikan lampu.
"Unique skill 'body transform'." Setelah mengaktifkan tekniknya dia berubah menjadi harpy setinggi 170 sentimeter dan melompat dari jendela.
Harpy memiliki tubuh setengah manusia dan setengah burung. Sayapnya tumbuh pada punggung dengan rentang 2 meter pada masing-masing. Jari-jari tangannya menjadi agak lancip dengan kuku panjang yang keras dan tajam. Telapak kakinya serupa cakar, yang bisa digunakan untuk mencengkeram erat mangsa, mencakar lawan, atau hanya untuk bertengger pada dahan-dahan tinggi. Dan jangan lupakan ekor berujung tajam yang bisa berubah menjadi cambuk yang mematikan.
Angin melewatinya, menahan sepasang sayap agar tetap di udara. Malam adalah waktu yang paling disukainya karena itu adalah kamuflase terbaik. Dengan bulu perpaduan abu-abu dan putih tetapi lebih dominan pada warna abu-abu. Jubah hitam yang dipakainya menutupi baju terusan selutut dan menambahkan poin sempurna. Setengah wajahnya tersamarkan oleh tudung jubuh sehingga tak ada yang bisa mengenalinya. Bebarengan dengan perubahannya, semua passive skill yang dimiliki langsung aktif.
Bukit Uranus berada di sebelah Barat Laut Kerajaan Luxirous dan kesanalah Arin menuju. Setelah melewati rumah penduduk serta hamparan hutan, tibalah dia di tempat tersebut.
Burung hitam itu terbang melingkar di atas bukit sembari mengamati. Bukit itu dipenuhi oleh begitu banyak pohon yang menjulang. Di bagian lembah terdapat hutan yang cukup lembab. Menoleh ke Utara, maka akan melihat sekumpulan cahaya.
'Jadi disana kediaman Count Vallet?' Arin menatap tempat itu agak lama.
Begitu tak ada lagi yang bisa dilihat, Arin membiarkan gravitasi menariknya turun. Tubuhnya tak langsung terjun dengan kecepatan yang membuat jantung berdebar-debar, dia memiliki sayap yang sekarang berguna seperti parasut.
Kakinya menjejak tanah, matanya menatap penasaran pada satu-satunya bangunan di tempat itu yang tanpa penerangan. Lama mengamati dan tak mendengar pergerakan atau bahkan hembusan nafas, gadis itu berbalik dan menganggap bangunan itu telah ditinggalkan.
Arin memperluas jangkauan pengamatannya dan mendapati banyak monster yang bersembunyi di seluruh bukit. Namun tak ada alasan baginya untuk panik karena dia menaksir para monster itu berada di kelas E atau D dan yang terkuat hanya kelas C.
"Pantas saja tempat ini dipilih sebagai misi kali ini." Arin melangkahkan kakinya, mengamati dari bawah tempat bermain barunya.
Seekor Hellhound muncul dari balik semak. Mata merahnya bercahaya dalam gelap. Semakin menjauh dari bayangan pohon, bulu hitam hancurnya bermandikan cahaya bulan. Bau busuk yang menguar dari tubuhnya bersamaan dengan air liur yang menetes-netes sedikit mengganggu Arin.
Gadis itu menatap sekeliling dan menyadari jika anjing ini sendirian padahal mereka biasanya berkelompok sehingga mereka dimasukkan dalam kelas D. "Hanya seekor? Kalau hanya satu mungkin setingkat dengan kelas E. Tak masalah, jadikan saja percobaan."
Arin tertawa dengan suara melengking. Salah satu dari sekian banyak hal yang ia warisi dari induknya. Ia kembali ke wujud manusianya dengan pakaian yang terakhir kali dikenakan ketika melompat dari jendela asrama, melenyapkan jubah dan apapun yang melekat padanya sebagai Nepthys. Circle dimunculkan dan menyelimuti tangan kanannya. Karena kali ini lawanmya adalah monster, dia tak menahan diri sama sekali.
Hellhound terkenal dengan kekuatan dan kecepatan mereka. Arin merasakan sedikit teror ketika anjing itu berlari kearahnya, tetapi dia menyukai sensasi itu. Dalam sepersekian detik kemudian, dia tiba di depan Arin dengan kaki depan terangkat tinggi.
Arin melompat mundur. Dia mengatur kuda-kuda ketika monster itu sekali lagi mendekat. Kali ini Arin mengangkat tangan kanan dan berniat mengadunya dengan kepala anjing bermata merah itu.
"Majulah, anjing kecil..!"