
"Ayah. Sejak kapan, ayah tahu?" Ricardo mengerti apa yang sebenarnya yang dimaksud Arin. Siapa Arin sebenarnya dan mengapa ia menerimanya, semua itu sudah Ricardo putuskan begitu Arin pernah menyelamatkan keluarganya di masa lalu. Tanpa sepengetahuan Arin, saat itu Ricardo menandai Arin yang saat itu masih lah seekor Arch Nephthys. Ricardo menandainya dengan harapan jika suatu saat mereka bertemu lagi, Ricardo bisa membalas budi kebaikan monster itu. Namun siapa sangka sosok dengan tanda yang muncul di hadapannya kini menjadi gadis kecil yang sangat cantik.
"Aauch" Ricardo menyentil dahi Arin dengan cukup keras sambil tertawa terbahak-bahak. "Apa maksudmu Arin. Ayah tidak mengerti, hahahaha." Tawa dan perkataannya sangat terlihat jika hanya dibuat-buat. Sepertinya Ricardo memang sengaja untuk mengalihkan pembicaraan mereka.
"Jangan-jangan bukan hanya ayah, tapi ibu juga?" Arin bertanya kembali sambil memegang dahinya yang masih terasa nyeri. "Ibu? Ah, dari awal ibumu bukanlah orang yang mudah dibohongi. Ibumu sangat teliti, dan peka terhadap sekitar. Bahkan ia bisa membedakan dan mengetahui dengan pasti aroma wanita yang menempel di bajuku."
Arin sedikit merasa jijik karena Ricardo mengatakannya dengan penuh bangga. Ketelitian Mona memang berlebihan, bahkan berada di level yang berbeda, tapi Arin tidak menyangka kalau Ricardo pernah se bejat ini. "Kalau begitu," Arin terdiam sejenak, berfikir apakah tidak apa bertanya demikian.
"Kenapa saat di kereta kuda itu, ibu sampai pingsan?" Arin bertanya karena merasa heran. Jika memang Mona sekuat dan sehebat itu, maka melawan beberapa perompak bukanlah hal yang sulit. "Itu bukan sesuatu yang perlu Arin ketahui." Ekspresi Ricardo terlihat tidak enak dilihat. Entah karena ia tidak ingin mengingat kejadian yang hampir merenggut istri dan anaknya itu, atau memang ada sesuatu dibalik semua itu.
"Yah, intinya ibumu juga sudah tahu, dan menerima apapun itu, Arin. Kamu sudah bagaikan keluarga kami." Senyum Ricardo terlihat tulus, membuat luluh hati Arin yang sesaat merasa takut jika dirinya ketahuan. "Sebenarnya ini rahasia, tapi seumur hidup, ayah berhasil mengelabuhi ibumu sekali. Itu adalah saat dimana ayah tidak sengaja minum hingga mabuk, tidak sengaja bertemu wanita cantik selain ibumu, dan tidak sengaja berciuman dengannya."
Itu bukan informasi yang penting, dan Arin sebenarnya tidak tertarik akan hal itu. Tapi karena Ricardo bercerita penuh semangat hingga merangkul nya, Arin hanya mendengarkan saja. 'Oke. Ini sudah kelewat batas.' Arin berusaha menahan malu dengan cerita dewasa itu.
"Ba-baiklah. Ini sudah malam ayah, ayo kita tidur." Arin segera melepas rangkul Ricardo dan masuk ke dalam rumah. Begitu Arin menggapai gagang pintu, tiba-tiba Arin kembali merasakan hembusan angin di belakangnya. Hembusan itu terasa tidak asing, dan saat Arin menoleh ke belakang, Ricardo sudah tidak terlihat lagi.
Arin yang kebingungan kembali membuka pintu perlahan. Alangkah mengejutkan nya saat Arin melihat Mona sudah berdiri di seberang pintu sambil tersenyum. "Arin, ini sudah malam. Ayo kita tidur." Mona tersenyum hangat dan menuntun Arin menuju kamarnya. Entah hanya firasat atau memang benar, tapi saat itu Arin bisa merasakan hawa membunuh yang besar. 'Berjuanglah, ayah.'
Setelah kunjungan itu, Arin kembali ke akademi. Berbekal informasi dari Ricardo, ia audah tidak sabar membagikan itu pada yang lainnya. "Ada kemungkinan kami pergi ke tempat itu. Tapi apakah tidak apa-apa? Bukankah itu terlalu berbahaya?" Arin berjalan melewati tiap toko di sepanjang jalan ibukota menuju akademi. Melihat pemandangan sekitar, sebagian besar bangunan, rumah warga, hingga toko dan restoran disana masih dalam perbaikan ulang akibat hancurnya ibukota.
'Monster yang menghancurkan ibukota juga selevel Legendary Beast. Jika mereka memang ada banyak, apa aku bisa menang?' Arin mulai berfikir mengukur total kekuatan tempurnya jika dibandingkan dengan monster itu. Sejujurnya Arin juga ragu. Ditambah ada juga kemungkinan ia harus melindungi teman-temannya di saat yang bersamaan. "Hahh. Ini akan sangan sulit."
"Silahkan ambil. Ini gratis, ayo silahkan ambil." Di tengah perjalanannya, Arin melihat ada beberapa orang yang menawarkan minuman secara gratis untuk para pekerja disana. Mungkin mereka berasal dari semacam organisasi yang memberikan bantuan pada orang-orang yang terkena musibah. "Apa nona kecil juga mau?" Tanya salah seorang diantara mereka begitu menyadari bahwa Arin terus menatapnya
Sesampainya di akademi, Arin sudah menjumpai Loman dan mengatakan kalau akan berkumpul esoknya. Demikian juga dengan Loretta dan Cristya. Setidaknya karena mereka semua datang sehabis perjalanan yang cukup jauh, Arin ingin mereka beristirahat terlebih dahulu.
Begitu Arin tiba di kamarnya, ia dengan cepat mengunci pintu dan melepas jaket dengan simbol akademi nya. Ia menatap keluar jendela sambil menikmati tiap hembusan angin petang yang menghampirinya. Pemandangan yang penuh akan gemerlap cahaya ibukota sudah tidak terlihat lagi. Mungkin akan tetap seperti itu hingga perbaikan secara menyeluruh selesai.
"Daripada diam begini, apa aku temui senior terlebih dahulu saja ya?" Arin bergumam sambil merasa bosan dengan keadaannya sekarang. Dengan mengambil sebuah dress se lutut yang cukup sederhana ditambah baju lengan panjang untuk menutupi lengannya, ia bergegas menuju kamar Cristya.
Karena masih dalam satu asrama wanita, Arin hanya perlu naik satu lantai di atasnya. Ia juga sudah diberitahu oleh Cristya dimana keberadaan kamarnya. "Kalau tidak salah, nomor 66 bukan?" Ucap Arin begitu ia sudah berdiri tepat di depan pintu kamarnya. "Permisi senior. Ini aku, Arin. Ada yang mau aku bicarakan."
Ketukan dan panggilannya tidak mendapat jawaban sama sekali. Padahal sebelumnya saat Arin menyampaikan pertemuan di esok harinya, Cristya menjawab dengan ceria dan tidak terlihat sakit sedikitpun. 'Mungkin ini tidak sopan, tapi tidak ada salahnya kan berjaga-jaga?' Arin dengan niat mencari tahu keadaan di dalam kamar Cristya tanpa membuka pintu, mulai memperluas jangkauan pengamatannya seperti saat pertama kali ia pergi ke bukit Uranus.
Betapa terkejut nya Arin saat ia tidak merasakan adanya kehidupan sama sekali di dalam kamar. Dan juga, Arin merasakan adanya jejak mana yang asing. Arin membuka pintu Cristya secara paksa dan suasana dalam kamar yang cukup gelap dan berantakan. Keributan itu membuat beberapa murid tingkat dua keluar dari kamarnya untuk memeriksa apa yang terjadi.
"Jangan-jangan-..." Arin mengeluarkan sihir bola cahaya dan menerbangkan nya di langit-langit kamar Cristya. Dan disana juga Arin melihat bahwa setengah dari kamarnya berlumuran darah. Ranjang dan lemari milik Cristya hancur, serta seluruh barangnya berserakan.
"Kyaaa."
"A-apa yang terjadi?"
Gadis-gadis disana menjadi panik saat melihat itu semua. Seseorang diantara mereka langsung berlari turun untuk segera melaporkan hal ini pada pengawas asrama. "Sial." Arin mengerutkan dahinya begitu sadar ia lagi-lagi tertinggal satu langkah dari lawannya.