
Matahari merangkak semakin tinggi. Para kesatria berkumpul di depan pintu kastil, bersiap-siap untuk memulai kembali perjalanan pulang mereka. Melihat Arin dan Alex keluar dari dalam bangunan tua tempat mereka bermalam, wakil kesatria segera mendekat..
"Pangeran, persiapan sudah selesai di lakukan. Rute perjalanan kita melewati Hutan Uranus sudah diaman-" ucapan wakil kesatria terhenti di tengah-tengah begitu melihat bekas telapak tangan berwarna merah samar di pipi pemimpinnya.
"Ah, ini hanya luka ringan. Kalau begitu mari kita berangkat. Aku dan gadis itu akan berada ditengah untuk menjaga keamanannya." Alexander segera membalas begitu menyadari wajah aneh wakil kesatria.
'Aku memang mengira dia polos, tapi tidak tahu bahwa akan sepolos ini.' Arin masih menatap penuh kekesalan pada Alex.
Dengan mengambil satu tarikan nafas panjang, Arin berusaha berfikir positif dan berharap semoga semua kesialannya saat ini berakhir.
Mereka berangkat. Selama perjalanan melewati Hutan Uranus, Arin tidak melihat adanya monster. Mungkin lebih tepatnya ada sesuatu yang membuat para monster itu tidak mendekati rute ini. Apapun alasannya gadis itu tak mencoba untuk mencari tahu karena saat ini dia hanya ingin cepat sampai ke ibukota.
Sejak mereka berangkat dengan menunggang kuda, Arin tahu bahwa perjalanan hari ini akan memakan waktu lama. Menghabiskan beberapa hari dalam perjalanan membuatnya sedikit mengeluh.
Mereka akhirnya keluar dari lebatnya hutan. Hanya butuh waktu sekitar beberapa jam sampai akhirnya memasuki gerbang desa yang tak jauh berbeda dengan desa Ricardo. Namun tempat ini bukan ibukota, dan Arin mengira untuk mencapai tempat itu perlu waktu lebih lama. Walaupun begitu, rasa kecewanya sedikit terbasuh ketika mendapati suasana di tempat ini cukup bagus.
'Tentu suasananya akan lebih bagus jika aku tidak menarik perhatian. Bisa-bisanya aku duduk satu kuda dengan pangeran kerajaan ini.' Arin menggerutu. Terlebih karena harus memegang tali kekang kuda, pemuda dibelakangnya terlihat seperti tengah memeluknya.
"Kita akan pergi ke kediaman Marquis Sterna untuk meminjam kereta kuda. Wilayahnya memang luas, tetapi setelah melewati ini, kita akan sampai di ibukota." Alexander menjelaskan sedikit.
'Sebenarnya aku tidak ingin pergi ke istana. Tapi apakah ada alasan yang pas untuk menolak? Lagipula sepertinya aku pernah mendengar tentang Marquis Sterna, tapi dimana ya?' Arin hanya mengangguk kecil untuk merespon perkataan pangeran itu.
---
Seorang pelayan memasuki ruang makan dan membungkuk untuk memberi laporan, "Tuan, Pangeran Kedua, Alexander Pixiss akan segera tiba."
Pria tua itu meletakkan alat makannya dan menyudahi sarapannya. "Buat persiapan untuk penyambutan."
Marquis meninggalkan meja makannya di ikuti oleh Nyonya Rumah yang menatap senang pada kedua anaknya.
Kakak beradik itu juga meletakkan alat makan mereka. Menyudahi sarapan dan segera mengikuti kedua orang tua mereka.
Seluruh pelayan di kediaman marquis sibuk melakukan persiapan. Menata ruangan dan membersihkannya lagi walaupun sudah jelas tak ada debu yang tersisa.
Ketika rombongan Pangeran Kedua tiba, pintu gerbang dibuka lebar. Marquis beserta keluarga dan seluruh pelayannya menyambut dengan hormat.
"Selamat datang di Kediaman Marquis Sterna. Saya sebagai tuan rumah kediaman ini, Alphonse Sterna menyambut Yang Mulia Pangeran Kedua, Alexander Pixiss." Pria itu menundukkan kelpalanya, diikuti oleh istri, anak, beserta pelayan dan pengawalnya.
Alexander turun dari kuda dan membantu Arin. Kudanya diambil alih oleh salah satu pelayan dan dia membalas salam sang tuan rumah. "Terimakasih telah menyambut kami. Angkat kepala kalian, tidak perlu terlalu sopan."
Begitu terkejutnya Arin ketika putri keluarga marquis mengangkat kepalanya. Begitu pula sebaliknya. Mereka saling bertatap dan melihat dengan jelas raut wajah masing-masing yang sulit disembunyikan.
Marquis Alphonse pun terkejut karena gadis disamping pangeran bisa mengenali Loretta yang merupakan putrinya.
Pangeran Kedua mengerutkan alis karena tak menyangka Arin mengenali Nona di depannya.
Loretta terdiam menahan rasa gugupnya. Apa yang Arin lakukan sebenarnya melanggar tata krama antar bangsawan dan bertindak tidak sopan dihadapan pangeran kerajaan. Keringat dingin mulai terlihat di wajah cantik gadis itu.
Alphonse yang menyadari ketakutan putrinya, akhirnya berusaha mencairkan suasana. Dia berdeham. "Sepertinya Nona yang bersama Yang Mulia mengenal putri saya. Bagaimana kalau kita masuk ke kediaman kami dahulu untuk berbincang dan beristirahat?"
Tak ingin meneruskan kecanggungan itu, Alexander pun menyetujuinya dan langsung diarahkan untuk memasuki rumah marquis.
Disini Arin menemukan kesempatan untuk menolak ajakan Alexander yang hendak membawanya ke istana kerajaan.
"Bagaimana menurutmu jika aku tinggal disini? Ada yang ingin kulakukan bersama Nona Muda Sterna sehingga tak bisa ikut denganmu ke istana." Arin menyamakan langkahnya dengan Alex dan mengecilkan suaranya seperti bisikan.
Alex berfikir sejenak begitu Arin membuat permintaan itu. Dia tersenyim ketika mengatakan, "Baiklah. Aku akan meminta Marquis untuk mengobati tanganmu. Setelahnya lakukan apapun sesuka hatimu."
Arin tersenyum riang dan merasa lega karena setidaknya berhasil menghindari sesuatu yang mungkin akan merepotkan jika dia ikut ke istana. Tentu saja perasaan lega ini hanya berlaku jika Loretta tidak mengganggu lagi seperti sebelumnya.
'Melihat sifat diam dan takutnya tadi. Kuharap dia sudah berubah,' pikir Arin sambil bedoa sepenuh hati.
Mereka pun masuk ke kediaman Marquis tepat siang hari, dan beristirahat sejenak disana.
"Kami sudah menyiapkan sarapan untuk kalian. Semoga apa yang kami siapkan ini cocok di lidah pangeran dan lainnya." Pria tua itu mempersilahkan pangeran beserta gadis yang bersamanya duduk di meja makan. Selain mereka, wakil kesatria dari pangeran juga ikut menunggu dengan tenang dari jarak yang cukup jauh.
'Wah... Mewah sekali. Sesuai dugaan, harta dari seorang marquis memang bukan main.' Sambil menyembunyikan rasa kagumnya, Arin berusaha se rileks mungkin agar bisa menghormati sambutan yang indah ini.
"Ah benar juga, bukankah anakku berteman dengan gadis yang bersama pangeran itu? Mengapa kalian tidak saling menyapa?" Pertengkaran antara Loretta dengan Arin memang hanya terdengar sebatas murid akademi saja. Jadi tidak aneh jika Marchioness tidak mengetahui hal itu.
"A-ah.. Sebenarnya kami tidaklah seakrab itu." Arin menjawab pertanyaan itu secepat mungkin karena ekspresi yang terpampang diwajah Loretta seakan mengatakan kalau dia tidak berniat menjawab apapun.
"Berkaitan dengan itu, sebenarnya aku ingin meminta tolong beberapa hal.." Sambil meletakkan gelas yang kini tersisa setengah setelah pangeran Alex meminumnya, ia melanjutkan pembicaraannya.
Sebenarnya, gadis ini, Arin ingin meminta izin pada tuan Marquis agar diperbolehkan tinggal disini beberapa hari. Dia juga sempat terluka karena kelalaianku, jadi aku ingin membantunya sebisaku untuk menebus kesalahanku." Permintaan Alex tidak membutuhkan waktu lama sampai Marquis menjawabnya. Pria tua itu menganggukkan kepalanya yang menandakan menyetujui permintaan tersebut.
'Heii.. Pangeran bodoh... Setidaknya cobahal membaca situasi.' Pikir Arin yang merasa sangat terbebani dengan hal itu. Terlihat jelas raut wajah Loretta semakin buruk karena permintaan itu, namun sepertinya hal itu tidak bisa ditangkap oleh pangeran.
'Selalu saja seenaknya..' Arin menghela nafas panjang berusaha untuk tidak terlalu memikirkannya berlebihan.