This Story Will Be Remake

This Story Will Be Remake
Chapter 46. Divine Beast Centimorph



Ketegangan kembali muncul begitu gadis kecil itu hadir tanpa ada yang menyadari. Walaupun Requaza dan dua pangeran lain tidak terlalu bisa merasakan hal itu. Requaza mengambil kesimpulan bahwa tingkahnya yang nampak percaya diri itu membuktikan bahwa gadis itu bisa mengalahkan monster itu. Monster yang bahkan Requaza akui sulit untuk mengalahkannya.


"Majulah. Kuberi kamu kesempatan menyerang ku duluan." Ucap gadis itu sambil menjulurkan tangannya mengarah ke monster itu. Betapa kaget nya Requaza begitu melihat tangan gadis itu. Lengan baju berwarna cokelat yang sedari tadi menutupi tangannya kini tersingsing kan tanpa sengaja dan memperlihatkan sedikit ujung tangannya.


'Itu bukan tangan!' pikir Requaza yang melihat bahwa yang keluar bukanlah jemari manusia, melainkan sebuah duri raksasa berwarna hitam pekat. Jika dilihat lebih jelas, strukturnya lebih mirip dengan kaki serangga. 'Ini tidak mungkin!'


Tanpa basa-basi, pria tua itu berlari sekuat tenaga menjauhi medan pertempuran, sambil membawa kedua pangeran yang sedang terluka. "Wujud itu, tidak salah lagi. Divine Beast." ia menyebutkan sebuah nama yang seharusnya kemunculan nya adalah kemustahilan. Apakah sosok monster itu penyebab kemunculan nya, atau ada alasan lain dibalik semua itu. Apapun itu, bisa dipastikan bahwa seluruh area ibukota kini benar-benar menjadi medan pertempuran.


"Menjauh sejauh yang kalian bisa!" Teriak Requaza kepada seluruh kesatria yang sedang bersiaga menunggu perintah dari pangeran. Begitu mereka semua melihat kondisi pangeran mereka yang seperti itu, tanpa pikir panjang mereka juga ikut mundur.


Di sisi lain, ledakan dari pertempuran kedua monster itu mulai terdengar. Walau yang sebenarnya terjadi adalah pembantaian sepihak karena adanya perbedaan kekuatan yang besar diantara Divine Beast dan monster itu. "Wahh keren. Tidak musnah sampai detik ini, kamu benar-benar kuat ya." Girang gadis itu sambil dengan mudahnya menghindari setiap skill yang monster itu keluarkan.


"Homunculus ya. Bagaimana ceritanya kamu bisa memiliki pecahan jantung Beelzebub?" Karena monster itu dari awal bukanlah sosok yang bisa diajak bicara, tentu pertanyaan itu tak dijawabnya. Monster itu kemudian menggunakan salah satu skill nya yang mulai memunculkan sosok baru di belakangnya. Perawakannya mirip seperti anak kucing, yang sama sekali tidak terlihat menyeramkan. Ukurannya juga 2 kali lebih besar dari monster itu.


"Hooo. Kali ini apa?" Ucap gadis kecil itu sambil menantikan langkah Homunculus selanjutnya. Sepertinya kali ini memang sedikit lebih berbahaya jika dilihat dari gadis itu yang mulai memasang kuda-kuda. "Meoow." Kucing besar itu mengeong dengan nada yang menggemaskan sambil menepuk kedua kaki depannya. Di saat itulah, muncul gelombang aneh yang langsung menyelimuti seluruh ibukota.


---


"Tuan Requaza! Anda tidak apa-apa?" Tanya salah satu penjaga sekolah yang melihat kehadiran pria tua itu. Melihatnya sedang membawa kedua pangeran yang terluka parah, para penjaga dan kesatria yang berada disana seakan tahu apa yang baru saja terjadi.


"Bagaimana situasi disini?" Requaza segera bertanya begitu selesai membaringkan kedua orang itu. "Para murid sudah berada di tempat yang aman, sedangkan murid tingkat tiga berjaga di dalam." Ia melihat sekitar untuk memastikan apakah yang penjaga itu katakan benar adanya. Penghalang akademi saat ini memang jauh lebih kuat, tetapi kesatria yang menjaga masih terlalu sedikit.


"Sa-saya akan segera mengirim laporan saat ini ke kerajaan." Penjaga itu pergi dengan panik setelah requaza menatapnya dengan tajam. Requaza menghela napas panjang karena situasi yang merepotkan ini. "Sekuat apapun aku, bahkan jika harus menggunakan circle putih tetap bukan tandingan Divine Beast itu."


Baru saja Requaza merasa bisa beristirahat sebentar, tiba-tiba muncul gelombang yang menembus pelindung akademi. Saat terkena gelombang itu, sebagian besar orang yang berada disana terdiam.


"Apa yang terjadi?"


Hanya ada beberapa penjaga dan kesatria yang bisa bertahan dari gelombang itu, dan mereka dengan panik mulai menanyakan situasi pada Requaza. "Ini adalah Charm." Ucap Requaza dengan nada datar, namun ekspresi nya sangat tidak sedap dipandang.


"Ditambah ini bukanlah Charm biasa. Ini Charm yang berasal dari keluarga Marquis Fluss." Penjaga yang mendengarnya setengah tidak percaya dengan perkataan Requaza. Pasalnya Marquis Fluss termasuk pengguna sihir langka yang bisa menciptakan boneka hewan dengan berbagai kemampuan unik. Keluarga ini juga sudah menghilang akibat perang yang pernah terjadi puluhan tahun yang lalu.


Requaza adalah keturunan terakhir yang masih hidup. Hal itu diperkuat dengan sihirnya yang bisa memanggil boneka beruang, salah satu ciri keluarga Fluss. "Dan kekuatan itu, bukanlah kekuatan yang bisa dimilik oleh monster. Itu yang kalian pikirkan bukan?" Requaza sepertinya bisa membaca pikiran penjaga itu dari ekspresi nya.


'Homunculus adalah makhluk buatan. Jika ia dibuat dengan menggunakan keluarga Fluss sebagai wadah, apakah itu mungkin?' Perlahan demi perlahan, Requaza merasa bahwa ada hal lebih gawat yang nantinya akan terjadi.


---


"Oke... Ini bukan waktunya berdiam diri." Ucap Arin yang akhirnya bangun. Ia tidak perlu lagi berpura-pura pingsan karena sekarang sudah tidak ada saksi mata. Atau lebih tepatnya, semua murid disini pingsan dalam waktu bersamaan. "Padahal Loman membuka matanya. Berarti ini adalah Charm."


Arin mulai meninggalkan tempat itu dan bergegas pergi keluar. Ia bertransformasi menjadi wujud harpy nya, karena kali ini bukanlah sebuah kasus yang bisa ia selesaikan setengah-setengah. Ia mengepakkan kedua sayapnya terbang melintasi semua orang yang masih berada dalam kondisi Charm.


Begitu berhasil keluar dari akademi, Arin tidak langsung meluncur menuju tempat kedua makhluk itu berada. Karena itu tidak ada bedanya dengan bunuh diri. Maka dari itu Arin lebih memilih berputar dan mengambil tempat di sebelah timur ibukota yang merupakan dataran tinggi. "Sepertinya jika disini akan lebih aman memantau mereka." Ucap Arin begitu mendaratkan dirinya disana.


Arin melihat jalannya pertempuran dari sana. Walau sedikit tidak percaya, tapi ia melihat dengan jelas kalau gadis kecil yang menangani monster itu berada di ujung tanduk. Perutnya tertikam oleh ekor monster itu yang memanjang, kedua tangan dan kakinya dicabut paksa, serta lehernya dicekik tanpa bisa berbuat apa-apa. Padahal saat awal Arin melihatnya, ia saja tidak merasa bisa mengalahkan gadis itu.


"Apa jangan-jangan gadis itu akan kalah? Berarti monster itu lebih kuat dari perkiraan ku." Arin bergumam sendiri sambil berusaha mencari penyelesaian dari masalah ini. "Tidak. Dia tidak kalah, hanya sedang mengalah saja."


Mendengar jawaban itu, Arin merasa sedikit aneh untuk apa dia mengalah. "Memangnya itu diperlukan? Salah-salah malah dia yang akan mati kan?" Ucap Arin mempertanyakan tindakan gadis kecil itu yang menurutnya dalam bahaya itu.


Sesaat setelah itu, Arin pun sangat terkejut akan sosok yang sedang ia ajak bicara itu. Dengan panik Arin menoleh ke belakang dan sudah ada wanita dewasa berdiri di belakang Arin tanpa ia sadari sedikitpun. Arin langsung mengambil posisi siaga, mengingat hawa keberadaannya saja tidak bisa Arin tebak, berarti wanita itu pastinya lebih kuat dari perkiraannya.


"Tenanglah nak. Kita bicara santai saja. Namaku Olivia, sang Divine Beast penguasa samudra, Leviathan."