This Story Will Be Remake

This Story Will Be Remake
Chapter 31. Ancient Hellhound Part 1



Perjalanan dari akademi menuju Bukit Uranus memakan waktu kurang dari satu minggu. Kereta berhenti di kaki bukit dan membiarkan para murid tingkat satu dan beberapa siswa tingkat dua, serta para guru meneruskannya dengan berjalan


"Payah!" Will melompat dari keretanya dan mendarat dengan mantap. "Masa kita hanya bertemu satu monster."


"Harusnya kamu bersyukur tidak bertemu banyak monster." Loman turun setelah Will dan membantu Arin yang berada dibelakangnya.


Arista berpikir Loman akan melakukan hal yang sama untuknya, tetapi pemuda itu bahkan tak meliriknya. Dia hanya bisa menahan kekesalan dan mengembalikan sikap anggunnya. "Tunggu sampai kita sampai di puncak bukit, kamu bisa memburu monster kelas D atau E sesukamu."


Semangat Will kembali. Matanya herbinar mengikuti Arista yang memandu jalan.


'Benar. Monster-monster itu lemah. Aku saja yang salah memilih lawan dan langsung berhadapan dengan Hellhound saat itu.' Arin mencoba menghibur dirinya karena masih tak bisa menerima kekalahan waktu itu.


"Master, apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Loretta yang memperhatikan kening Arin sedikit berkerut.


Arin menolehkan kepalanya dan tersenyum, sembari membuang jauh-jauh pengalaman traumatis itu. "Tidak ada."


Loretta tak mendesak Arin untuk menjawab. Dia mengangguk dan balas tersenyum. Namun senyumnya langsung hilang ketika Will menyesakkan dirinya diantara Loretta dan Arin. "Jalan masih luas, kenapa malah melakukan ini?!"


"Karena masih luas, jadi geser sedikit tidak apa-apa kan?" Will mengangkat sebelah alisnya dan membuat Loretta semakin kesal.


Loretta hanya mendengus tetapi tetap memberi ruang pada Will, sehingga sekarang mereka jalan bertiga.


"Eh, kenapa kamu manggil Arin, master?" Will menatap Loretta dengan penasaran.


Terpikirkan ide jahil untuk membalas Will dalam otak Loretta. Gadis itu menolehkan kepalanya pada Will dan menutup bibirnya dengan tangan sebelum tertawa ala nona-nona beradab. "Rahasia."


Arin yang menyimak perbincaan mereka itu tak bisa menahan tawa mendengar jawaban Loretta. Terlebih gadis itu bergaya seakan-akan tengah menyombongkan diri setelah mendapatkan berlian langka. Bahkan wajah Will dibuat merah padam menyerupai rambutnya lantaran geram.


Ketika mereka sampai di puncak bukit, para guru memberi intruksi bahwa mereka akan tinggal selama tiga malam. Perhitungan nilai yang didapat setiap kelompok ditentukan dari berapa banyak material berharga yang bisa mereka kumpulkan selama jangka waktu tersebut.


"Baiklah. Kalau begitu kita mulai dengan pemanasan terlebih dahulu." Reinhard mengeluarkan satu botol kecil parfum dari saku celananya.


"Pemanasan?" tanya Arin yang tidak mengerti.


"Itu parfum yang dibuat khusus. Aroma dari parfum itu akan mengundang para monster kelas E kemari karena baunya," jelas Arista dengan nada datar untuk menjawab pertanyaan Arin. "Begitu saja tidak tahu."


Arin yang satu-satunya mendengar cemoohan itu hanya bisa berpura-pura mengabaikannya. Tidak lucu jika dia bertengkar di keramaian dengan senior ini, bisa-bisa dia yang disalahkan melihat betapa bermuka duanya si pembimbing.


Tak lama setelah parfum di semprotkan, sekumpulan monster keluar dari seluruh penjuru hutan dan menuju ke arah kastil.


"Slime, Neddle Worm, Aligator." Will seakan-akan mengabsen para monster yang mulai menampakkan diri. Kemudian dia mendongak. "Sedangkan yang terbang itu Nephthys dan Blackwing. Ternyata cukup bervariasi ya."


Monster kelas E bukanlah monster yang bisa mengancam nyawa manusia. Hanya saja jika mereka datang dalam jumlah besar, bisa merusak lingkungan. Arin menyadarinya begitu melihat semua monster itu, termasuk Baby Nephthys.


Selagi semua mata terfokus pada kedatangan para monster, Arista menundukkan kepalanya sehingga rambut panjangnya bisa menyembunyikan senyum miliknya. Terlebih karena berada dalam satu tim, Arin sangat dekat dalam jangkauannya. Dia mengeluarkan parfum dengan bentuk yang sama dengan Reinhard, hanya saja miliknya memiliki efek berbeda, dari tas kecilnya.


Begitu beberapa tetes air dalam parfum berpindah ke baju milik Arin, Arista berpindah dengan alaminya untuk menjauh. Matanya mengawasi warna baju yang agak gelap mulai kembali ke asalnya dan sangat puas karena bau yang dihasilkan akan sangat sulit dihilangkan.


"Kamu yakin bisa menghabisi mereka?" Arista yang berpindah ke sisi Will berbasa-basi dengan pemuda itu.


"Senior jangan meremehkanku," balas Will dengan seringai nakalnya.


"Perhatian! Misi perburuan dimulai sekarang!" Reinhard menyeru dengan lantang.


Semua murid langsung menyebar demi menjemput para monster yang juga memulai serangan. Dari tim Arin, Loman dan Will pergi terlebih dahulu. Kedua pemuda itu seakan sudah bertaruh diam-diam untuk membunuh monster paling banyak diantara satu sama lain.


"Master, ayo kita juga!" ajak Loretta yang kini menyusul mereka berdua.


Dikarenakan monster yang mereka hadapi tak akan membuat mereka terluka parah atau bahkan mati, maka wajar saja jika tak ada yang memasang sihir pelindung. Menanggapi ajakan Loretta, Arin segera menyusul dengan percaya diri.


Setelah satu jam, efek parfum pun menghilang. Terbukti dengan berhentinya kunjungan para monster. Setiap murid dengan bersemangat mengumpulkan setiap material berharga yang mereka dapatkan untuk dikumpulkan dengan tim masing-masing.


'Sihirku bisa membunuh mereka. Tidak ada perbedaan besar antara sihirku dengan yang lain. Tapi mengapa saat melawan Hellhound tidak berpengaruh?' Sembari mengambil material miliknya, Arin memikirkan kegagalannya waktu itu dalam diam. 


Loretta yang selalu berada di dekat Arin, melihat cristal mana yang tergeletak di bibir hutan. Dia bersiap mendekat tetapi berhenti begitu si master berjalan mendahuluinya.


"Biar aku yang ambil."


Loretta mengangguk dan berbalik untuk lebih dulu bergabung dengan Will dan Loman di dekat kastil. Meninggalkan Arin untuk memungut benda itu.


'Mungkin Hellhound memanglah terlalu kuat untuk murid-murid disini. Yah, soal itu biar kupikirkan nanti. Jangan diambil pusing,' pikir Arin yang selesai memungut crystal mana.


Arin berbalik dan kembali ketempat dimana timnya berada. Ketika dia melihat wajah ketiga anggota timnya, dia sedikit mengerutkan kening karena wajah mereka tampak aneh. Tiga wajah itu menampilkan satu ragam ekspresi yang sama, keterkejutan dan ketakutan.


Tiga detik setelahnya, Arin menyadari jika tatapan itu bukan terarah padanya. Melainkan sesuatu di belakangnya. Dan karena itulah Arin mengikuti insting penasarannya untuk berbalik dan melihat sendiri apa yang membuat ketiga anggota timnya menampilkan wajah seperti itu.


"Ggggrrrr…." geraman rendah itu seharusnya sudah cukup untuk memberi sinyal bahaya dan memberitahu Arin untuk lari.


Namun kedua kaki Arin tak bisa digerakkan. Seakan, ada tangan-tangan tak terlihat yang mencengkeramnya erat-erat. Membuatnya tak bisa berbalik atau lari. Dia hanya bisa mematung ketika Hellhound raksasa itu berdiri di depannya dengan air liur yang menetes-netes.


"Arin!" Will dan Loman serempak berteriak dan memacu kedua kaki mereka untuk berlari.


Teriakan dari dua pemuda itu memancing kemarahan si monster anjing. Dia menyalak untuk kedua kalinya dengan nada yang lebih tinggi dan mengayunkan sebelah cakarnya.


'Gawat...!!!'