
Terdengar suara yang cukup bising, membuat seluruh prajurit yang bersiaga di permukaan selalu dalam kondisi waspada. Tanah yang bergetar hebat menandakan bahwa pertempuran yang terjadi dibawah sana bukanlah sesuatu yang bisa dihadapi prajurit biasa seperti mereka.
"Merunuduk, Razzak!" Requaza berteriak sambil mengambil kuda-kuda dengan kilatan di kedua tangannya. Circle merahnya langsung menyapu rata seluruh peluru dan misil yang dilancarkan para Homunculus itu. "Cih, jangan memerintahku. 'Lingkar Purnama!'" Dengan ayunan 360° tombaknya, Razzak memotong apapun yang dalam radiusnya hingga membuat Requaza dan yang lainnya harus ikut menghindar.
"Yah, setidaknya satu serangan itu membersihkan semuanya. Namun perlu diingat jika kita harus menyimpan circle kita, Razzak." Duke Whites mengkritik dengan tegas akibat kecerobohan Razzak yang menggunakan sihir tingkat tinggi dengan tidak efisien. "Terserah." Hanya itu yang keluar dari mulutnya menanggapi kritikan itu. Langkah kakinya pun turut diikuti oleh lainnya untuk melanjutkan perburuan Homunculus.
Sudah sekitar dua puluh menit mereka menelusuri jalan bawah tanah ini. Berbagai level Homunculus pun mereka jumpai, namun semua masih sanggup mereka hadapi hanya dengan circle jingga mereka. Sedangkan hawa membunuh yang saat ini mereka rasakan jauh berbeda dengan sebelumnya.
Bukan sekawanan monster yang muncul dari gelapnya gua didepan mereka, melainkan hanya dua bocah yang tampak belum dewasa. Tentu saja hal itu tidak menyurutkam kewaspadaan mereka hanya karena anak kecil. 'Anak sekecil itu memiliki niat membunuh yang besar. Sudah kuduga, mereka Homunculus.' Pikir Requaza, yang kali ini langsung menyiapkan circle jingga dan kuningnya sekaligus.
Kini kedua bocah itu dapat mereka lihat dengan jelas. Seorang laki-laki yang tampak seperti kakaknya, dan adik perempuannya. Tatapan mereka tidak berlangsung lama begitu sang kakak mulai mengucapkan sesuatu. "Selamat datang. Selamat tinggal."
Dengan senyum diwajahnya, tiba-tiba dari belakang gadis itu muncul puluhan ekor yang sangat tajam bergerak dengan cepat. Sangat cepat sampai-sampai Duke Lancelot dan Duke Whites merasa tidak bisa menghindari itu. " 'Deteksi Ruang : Pedang hampa udara.' " Dengan sigap Franz mengeluarkan circle kuningnya yang menyelimuti hampir seluruh bagian gua. Semua ekor yang berada dalam lingkar tersebut terpotong sekejap secara ajaib. Bahkan Franz tidak terlihat mencabut pedangnya sedikit pun.
"Waspadalah, level mereka berbeda." Duke Whites dan Lancelot menyusul mengeluarkan circle kuning mereka. "Keluarlah, 'Doppelganger' " Duke Whites mengeluarkan sabit keduanya, namun dengan warna hitam pekat, berbeda dengan sabit putih yang sedari tadi ia pegang. Di antara kedua sabit itu, muncul rantai penghubung yang menghubungkan keduanya.
Sedangkan Razzak berteriak kencang sambil menunjukkan sihir langkanya. "Uwaaaah. 'Order : Double Rounder!' " Muncul portal yang cukup besar diatasnya, dan ia melemparkan tombaknya hingga terserap seutuhnya. Kemudia portal itu terbagi menjadi dua lingkar kecil dengan warna berbeda, yaitu portal diamond dan portal sapphire.
"Wah wah, persiapan yang menakjubkan. Kalau begitu, giliran kami." Dio dan Sira mengaktifkan kekuatan sebenarnya dari jantung Beelzebub yang sudah tertanam dalam diri mereka. Guncangan yang sangat kuat membuat gua tempat mereka berada seakan hendak runtuh. "Saksikanlah hahaha."
Franz langsung melompat mendekati langit-langit gua dengan deteksi ruangnya yang masih aktif. Dia sadar jika mereka tetap seperti ini, maka akan menyulitkan. Maka dari itu Franz langsung memotong-motong langit gua agar mereka semua dapat keluar dari sana. Potongan tersebut tampak sangat rapi dan cepat, bahkan hanya menyisakan kerikil keciltak ada satupun puing yang terlewat dari sihir milik Franz. "Naiklah!" Aba-aba Franz langsung diikuti oleh yang lainnya.
"U-uwaah." Para prayyang berada diatasnya tampak panik begitu menyadari tempat mereka berpijak akan segera runtuh. Saat mereka hendak mengevakuasi diri, timbul ledakan besar dari bawah tanah disusul dengan munculnya Requaza dan yang lain. Mereka berhasil mendarat dengan selamat dari bawah tanah tersebut, namun sayangnya hal itu sangat mudah bagi kakak adik Homunculus itu. Tubuh mereka bahkan sudah tidak bisa disebut manusia.
Itu merupakan situasi yang cukup tepat. Hanya saja, tiga dari mereka menghadang satu Homunculus itu, bisa dikatakan seimbang. Kata-kata "bunuh" tidak akan semudah apa yang Duke Whites ucapkan. Jadi untuk bisa menang, setidaknya dibutuhkan empat orang, bukan hanya tiga.
Tentu saja mereka sadar kalau mereka kekurangan satu orang, namun mengisi kekosongan itu adalah hal yang mustahil. Mau tidak mau mereka harus melakukannya sekarang. "Maju!" Duke Whites memulai aba-aba pada lainnya untuk segera menyerang Homunculus yang lebih kecil.
Selangkah mereka mendekati monster itu, tiba-tiba muncul sosok yang sama sekali tidak mereka duga kedatangannya. Sosok itu dengan cepat langsung menghantam Homunculus yang lebih kecil dan membuatnya terpental sangat jauh. "I-itu." Hanya melihatnya sekilas, Requaza yang sudah bertemu dan bertarung dengannya sekali menuadari siapa sosok tersebut. Ia membentangkan kedua sayap selebar-lebarnya seakan memprovokasi Homunculus itu untuk berduel.
"Harpy? Bagaimana bisa ras langka seperti itu?" Mereka berempat kebingungan dengan kemunculan Arin. Namun satu hal yang mereka sadari, walau dia monster, setidaknya untuk sekarang mereka memiliki musuh yang sama. Homunculus itu langsung adu bentrok dengan Arin dengan kecepatan yang tinggi. Setiap ekor tajamnya yang kini berukuran lebih besar diarahkan, saat itu juga Arin dengan cepat memotongnya dengan kedua pedang bulu ditangannya. Pertarungan mereka berdua juga kian menjauh seakan Arin sengaja memisahkan Sira dengan Dio.
"Kita serahkan sementara yang satu itu kepada harpy itu, fokuslah pada yang didepan." Requaza mulai mengeluarkan boneka beruangnya dengan sabit putih di kedua sisi. Beruang itu meloncat dengan sangat tinggi hingga berada diatas Dio, dan dengan cepat boneka itu langsung memulai serangan.
---
"Kita bertemu lagi, Sira." Setelah cukup lama mereka saling serang, Arin memulai pembicaraan dengan pertanyaan sederhana. Wajah Sira tampak sangat jengkel karena melihat Arin masih baik-baik saja. "Jangan harap serangan rendahanmu itu bisa melukaiku untuk kedua kalinya."
Mana milik Sira berhamburan keluar membuat udara disekitar terasa mencekik. Tekanannya jauh lebih besar dibanding sebelumnya. Namun Arin juga sudah mempersiapkan hal ini. Kartu andalan Arin yang sebenarnya belum pernah ia gunakan sekalipun semenjak ia mendapatkan wujud harpy nya.
" 'Frost Queen' " Seketika Arin diselimuti oleh angin yang sangat kencang. Suhu disekitar perlahan mulai menurun hingga membuat air yang terurai di udara mengkristal dengan cepat, dan angin yang menyelimuti Arin kini menjadi salju dan es yang sangat besar. Wujudnya kini benar-benar berubah, dengan sepasang sayap dan ekornya yang diselimuti kristal biru, cakar putih kebiruan di kedua tangan kakinya bagaikan taring yang sangat tajam. Dan perubahan terakhir adalah pupilnya yang awalnya berwarna kuning, kini berwarna biru terang.
"Majulah."