This Story Will Be Remake

This Story Will Be Remake
Chapter 45. Melawan Homunculus



"Pangeran Alexander?" Itulah kata pertama yang Loman ucapkan begitu melihat sosok pangeran Alex dibalik pusaran angin itu. Dan melihat bahwa dirinya tidak ikut terkena dampak pusaran angin itu, sepertinya memang ulahnya.


Tak lama setelah kejadian itu, terdengar suara keluhan tepat di dekat Loman. Nampaknya Loretta mulai tersadar kembali sambil mengernyitkan alisnya. Arin pun juga terlihat menggerakkan jari jemari tangannya yang menandakan ia mulai tersadar. "Arin, Loretta. Kalian baik-baik saja?" Loman mulai kembali berfokus pada mereka berdua.


"Segera bawa mereka menjauh. Jangan mengganggu!" Teriak pangeran Alex sambil mulai merapal sihirnya dengan mengeluarkan keseluruhan circle nya. "Baik!" Ucap Loman yang langsung memapah kedua gadis itu dan berlari secepat yang ia bisa.


Monster itu akhirnya mengalihkan pandangannya dari Loman menuju Alex. Terlihat ke-enam circle Alex bermunculan dengan kombinasi warna biru, ungu, dan empat sisanya berwarna merah. Angin di sekitarnya kembali bergejolak dengan keras karena berinteraksi langsung dengan energi sihir milik Alex.


"Mutiara Kabut Hitam." Ucap pangeran Alex. Alex dengan cepat di selubung i oleh semacan lapisan bola yang berisi kabut berwarna hitam. Kabut itu berputar tanpa henti dimana Alex menjadi inti dari perputaran itu.


Melihat Alex yang mulai bertindak, monster itu langsung mengeluarkan sejumlah panah api di sekitarnya, dan langsung diarahkan pada pangeran Alex. Hanya saja karena sekarang ia telah terselimuti oleh salah satu sihir andalannya tersebut, semua serangan yang masuk ke dalam lingkup sihirnya langsung diubah menjadi debu.


"Percuma saja." Ucap Alex dengan sombong nya sambil menjentik kan jarinya. Seketika itu, muncul lima angin topan di setiap sudut monster itu. Masing-masing berusaha untuk menarik monster itu dari tempatnya berpijak. Monster itu sampai berusaha cukup keras untuk menahan angin topan itu yang perlahan mulai mendekat.


"Tarian Seribu Belati." Begitu kelima pusaran angin itu sudah dekat, tubuh monster itu tersayat dengan sangat cepat. Semakin lama sayatan nya pun semakin dalam. Leonard dan Requaza yang menyaksikan itu seakan tidak percaya karena monster itu akan kalah dengan begitu mudahnya.


"Apakah ini akan berakhir?" Tanya Requaza yang saat itu menyaksikan bersama pangeran Leonard. "Semoga saja begitu. Karena aku sendiri pun tidak bisa menghindari sihir terkuat milik adikku." Balas Leonard dengan yakin. Selang beberapa detik, sayatan itu menjadi semakin tajam dan cepat hingga membuat kedua lengan dan sayap monster itu habis.


Pada detik ini, monster itu menyemburkan api hitam yang sangat besar ke atas untuk membuka celah diantara angin topan itu. Terbukanya celah itu sempat membuat Alex kewalahan karena ia memfokuskan dirinya untuk mengendalikan keempat angin topan itu. "Kakak! Jangan biarkan kabur!"


Dengan sigap, Leonard langsung terbang mengambil posisi tepat di dekat monster itu dan mengarahkan sihir skala besar untuk menghentikan pergerakannya. Keenam circle Leonard, semuanya ia gunakan untuk menekan monster itu. "Penjara Gurun Neraka."


Seakan terkena hantaman besar dari atas, monster itu terdorong dengan kuat kembali ke bawah dan tanah dibawah ya berubah menjadi pasir hisap. Bahkan kecepatan hisap nya jauh lebih cepat dibanding pasir hisap lainnya. Monster itu mengerang kesulitan dengan kombinasi kedua orang itu.


'Tampaknya aku tidak perlu turun tangan kali ini. Kemampuan kedua pangeran kerajaan Luxirous sepertinya bukan sekedar nama saja.' Pikir Requaza yang melihat keberhasilan mereka dalam melenyapkan monster itu. Di sisi lain, ia juga sudah tidak lagi merasakan keberadaan Arin dan murid lainnya. Nampaknya mereka sudah benar-benar pergi menjauhi tempat ini.


"Pangeran!" Requaza mendekat dengan sangat cepat sambil mengeluarkan circle jingga nya. Namun ia terhenti begitu merasa jika nyawanya juga terancam. Satu buah ekor lainnya muncul di belakang Requaza dan langsung berupaya menikam nya tanpa Requaza sempat merapalkan sihir apapun.


Namun sepertinya Requaza tidaklah sebodoh itu yang terkena perangkap sama seperti kedua pangeran lainnya. Ekor itu memang berhasil menusuk tapi bukan tubuh pria tua itu, melainkan tubuh boneka raksasa yang berdiri di belakangnya. "Jangan meremehkan ku!" Pria tua itu langsung memotong ekor itu dengan kedua sabit putih yang dipegang oleh boneka beruang itu. Sesaat setelahnya, ia langsung melemparkan kedua sabitnya untuk memotong ekor yang menikam kedua pangeran.


Pangeran Leonard yang terjatuh berhasil ditangkap oleh boneka milik Requaza, sementara ia sendiri menangkap pangeran Alex. "Pangeran, Anda tidak apa-apa?" Tanya Requaza sambil memeriksa luka tikam itu. Perut keduanya tampak berlubang, dan itu bukanlah luka yang ringan.


"Khukhukhu." Monster itu seakan menertawai mereka karena merasa berhasil menipu lawannya. Saat itulah Requaza melihat dengan jelas bahwa dari awal monster itu sudah menancapkan ekornya tanah sebelum pertempuran dimulai. Kedua sayap dan tangannya juga ikut tumbuh lagi dengan level regenerasi yang mengerikan. "Regenerasi monster ini sehebat monster yang kuhadapi di bukit Uranus. Hanya saja kali ini, jauh lebih kuat."


Pria tua itu berusaha memutar kepalanya mencari jalan keluar. Saat ini prioritasnya adalah membawa kedua pangeran ke tempat yang aman dahulu. Karena jika mereka dibiarkan, ia tidak akan bisa mengeluarkan circle kuning dan putihnya yang memiliki dampak sangat besar.


"Uwaaah. Akhirnya ketemu. Hahaha." Ketegangan yang pria tua itu rasakan tiba-tiba menghilang karena dikagetkan oleh sebuah suara asing. Suara itu seperti seorang gadis kecil yang berteriak dengan sangat kencang. Keberadaannya cukup jauh dari dirinya dan juga monster itu. 'Si-siapa gadis itu? Mengapa dia belum menjauh dari tempat ini?' Kepanikan Requaza bertambah satu lagi begitu melihat sosok gadis kecil itu.


Karena Requaza terlalu banyak berfikir saat itu, sepertinya dirinya tidak menyadari jika monster itu juga sedang memerhatikan gadis itu dengan ekspresi terkejut. Bukan sekedar karena keberadaannya yang tiba-tiba muncul, tetapi karena insting nya mengatakan bahwa dirinya lah yang sudah dicari-cari oleh gadis itu selama ini.


"Hey manusia yang disana. Menjauhlah dari sini jika tidak ingin mati, hahaha." Ucap gadis kecil itu sambil tertawa kencang dan perlahan mendekati mereka. Requaza sama sekali tidak mengerti sedikitpun tentang apa yang terjadi, namun ia tanpa berfikir panjang langsung membawa kedua pangeran lari menuju ke tempat yang aman. Satu-satunya alasan mengapa ia berani mengambil langkah itu adalah, monster itu sangat berwaspada pada sosok gadis kecil itu.


---


'Siapa yang menyangka akan ada ledakan se dahsyat itu di ibukota. Bahkan aku sendiri tidak bisa merasakannya. Untung saja aku berhasil menempatkan beberapa helai bulu ku pada barrier yang Loman gunakan untuk memperkuat nya.' Pikir Arin yang saat ini tengah berpura-pura pingsan sambil mengamati situasi dari jauh.


'Itu sudah tidak penting lagi. Saat ini yang paling membahayakan adalah, aku tidak bisa berkata apa-apa pada gadis yang baru muncul itu. Level nya, jauh di atasku.'