
Satu minggu sudah Arin resmi belajar di akademi. Walaupun begitu hari pertamanya tak berjalan dengan baik. Sejak dia memasuki gedung pembelajaran saat itu, kepalanya sudah dipusingkan lebih dulu oleh letak kelasnya. Dia merutuki luasnya area ini dan mengapa tulisan kelas pada setiap tingkat tidak diurutkan.
Wajah cemberutnya sangat kontras dengan seragam cantiknya. Kemeja putih dengan lengan sampai siku yang dimasukkan kedalam rok bergaris-garis biru sepanjang lutut dengan warna dasar putih gading.
Akademi ini membedakan tingkatan muridnya dari warna seragam. Biru untuk tingkat satu, merah untuk tingkat dua, dan kuning untuk tingkat terakhir.
Arin hampir saja mengacak rambutnya karena frustasi kalau saja tak ingat kalau disekitarnya ada banyak orang. Dia tak mau dianggap gadis aneh. Sudah cukup dia diremehkan, dan karena alasan itulah dia malas bertanya. Namun itu hanya terjadi pada hari pertama dan sekarang dia sudah baik-baik saja.
Hari ini ada empat pelajaran utama yang wajib di ikuti oleh dirinya, atau semua siswa dikelasnya. Diantaranya adalah teori sihir, praktik sihir, teori circle, dan praktik beladiri. Namun, ada pelajaran tambahan yang bebas di pilih oleh setiap murid, contohnya sejarah atau hukum. Dan dia masih belum berminat memgambil kelas tambahan itu.
Kelas 1-C sama seperti kebanyakan kelas lain di akademi ini. Dimata Arin ruangan ini mirip dengan ruangan kelas perkuliahannya dulu daripada sekolah. Meja besar yang memanjang, dan struktur lantai yang semakin jauh semakin naik yang mempu menampung sekitar empat puluh anak. Dengan tujuan agar murid yang duduk dibelakang bisa melihat papan dan tidak terhalang oleh murid didepannya.
Sejak hari pertama, Arin duduk bersama dengan Loman. Bukan dia yang pertama kali mengajak, tapi dia diajak oleh laki-laki itu. Melihat fitur kesepiannya yang berbeda dengan teman sekelas lain yang sudah memiliki lingkup pertemanan mereka sendiri, Arin merasa kasihan dan setuju-setuju saja.
Ah, itu hanya tampilan luarnya. Di balik tampang tenangnya, Arin sudah menjerit-jerit tak karuan karena detak jantungnya yang meningkat cepat. Terpikirkan olehnya bagaimana jika laki-laki ini menyukainya dan luluh atas apa yang dia lakukan di taman malam itu.
"Selamat pagi!" Arin menyapa dengan ceria seperti biasanya.
"Pagi." Loman membalas sapaan itu sembari masih fokus pada buku ditangannya.
"Baca apa? Sepertinya seru sekali." Arin mendekatkan wajahnya pada buku yang ternyata adalah bahasan mengenai hal yang dapat membuatnya pusing.
Loman mendorong kepala Arin kesamping dengan telunjuknya. "Hal yang akan membuatmu tidur setelah sepuluh detik membacanya."
Arin mengangguk tanda menyetujui.
"Haloo, putih," sapa teman sekelasnya yang duduk di depan Arin.
Arin hanya memutar matanya untuk membalas sapaan bocah berambut merah. Jangan tertipu dengan wajah ramahnya, rambutnya yang berbeda diantara manusia lain persis seperti tabiatnya, unik. Kali ini dia penasaran ulah apa lagi yang akan dilakukan oleh putra Count Vallet padanya.
"Hm? Harus kupanggil putih atau hitam ya?" Dia tertawa kecil.
Arin hanya mendengarkan ucapan laki-laki itu. Panggilan putih itu karena warna rambutnya, sedangkan hitam karena warna circlenya.
Putra bangsawan di depannya ini terkenal atas ketidak sopanannya. Tak ada orang yang ingin berurusan dengannya, mereka lebih memilih menjauhi bocah itu. Namun, selain menggunjingkan bocah berambut merah, mereka juga menambahkan Arin kedalamnya karena si rambut merah sering kali mengganggu Arin. Mereka bilang, akan cocok jika gadis berambut putih itu dan putra Count Vallet bersama.
Karena tak mendapat respon dari gadis itu, si rambut merah mulai emosi. Dia merasa perlakuan cuek Arin padanya adalah sikap untuk merendahakannya. "Kamu benar-benar cari masalah ya. Dasar Hitam."
Putra Count Vallet menatap dengan tajam bersamaan dengan ***** membunuh yang pekat. ***** seperti itu bukanlah hal yang bisa dimiliki oleh sembarang orang.
Menurut pengalaman Arin semasa dirinya masihlah seekor Nephthys muda, orang dengan ***** membunuh paling susah ditangani. Secara refleks, hampir saja Arin terbangun dari tempat duduknya.
'Tenanglah. Sebodoh-bodohnya anak ini, dia tidak akan membunuh terang-terangan bukan?' Arin berusaha bersikap tenang menghadapi situasi ini.
Namun, tiba-tiba terdengar suara dengungan kecil. Yang berasal tepat disebelah Arin.
Ternyata Loman mengeluarkan circlenya yang berwarna biru. Mulai terdengar bisik-bisik dari seluruh kelas. Kebanyakan mereka takjub karena di usia semuda itu, laki-laki ini sudah mencapai tingkat biru. Pujian-pujian mengalir tentang betapa kerennya putra Count Raven, berbeda dengan laki-laki berambut merah.
Tak memperdulikan hal lain, Loman menatap bocah merah di depannya dengan dingin. Tak ada keramahan saat dia mengatakan, "Diam, jangan mengganggunya."
Anak itu ternyata tidak terlalu bodoh. Dia mengerti kapan harus mundur dan berhenti menggertak. Terbukti dengan dia mendecih sebelum membalikkan badannya dan kembali duduk.
Arin yang tak mengatakan apapun sejak tadi cukup takjub. Ada beberapa hal yang ingin dia katakan pada Loman, tetapi urung ketika guru memasuki ruangan.
Ketika pria itu masuk kedalam ruangan, Arin menyadari jika dia adalah pengawas ujian. Kalau tidak salah ingat, namanya adalaha Reinhard.
"Baiklah. Mari kita mulai pelajaran tentang Teori circle. Silahkan keluarkan buku masing-masing." Pria itu membenarkan kacamatanya dan pelajaran pun dimulai.
---
"Wah, ternyata pelajarannya sesulit ini ya, andai aku sempat mempelajarinya saat masih dikediaman."
"Haha... bukankah malas memang sifatmu?"
"Sudah, ayo kita makan di kantin. Aku sudah lapar."
Satu persatu siswa mulai keluar dari kelas begitu bel istirahat berbunyi. Sementara itu Arin masih duduk di tempatnya sembari menatap setiap kata pada halaman yang baru saja dipelajarinya dari buku. Dan dia akhirnya tahu mengapa circle hitam diremehkan.
'Makhluk hidup memiliki sesuatu yang disebut mana. Namun, yang bisa mengeluarkan mana hanyalah monster. Mereka memakai mana, kemudian menggunakan suatu jurus yang dinamakan skill. Manusia yang tidak bisa menggunakan mana akhirnya menggunakan lingkaran sihir yang disebut circle. Circle bisa mengubah mana dalam diri manusia menjadi sumber energi sihir. Saat wadah dari circle itu terpenuhi oleh energi sihir, manusia bisa menggunakan suatu jurus yang disebut dengan sihir. Setiap circle memiliki warna tersendiri, semakin terang warnanya, semakin besar kapasitas dan kekuatannya. Urutannya dimulai dari hitam, cokelat, biru, ungu, merah, jingga, kuning, dan putih.'
'Hm... Jadi ada delapan warna circle ya. Pantas saja aku terus-terusan di bully. Kalau begitu, apakah circle putih itu, sekuat wujud monsterku?' Pikir Arin sambil menundukkan wajahnya dan mengambil satu tarikan nafas panjang.