
Dalam sesaknya ketakutan yang menghimpit dada, Loretta merasakan gerakan samar yang dalam pelukannya. Ketika dia menunduk, Arin memuntahkan seteguk darah padanya. Dia panik dan bingung harus melakukan apa karena guru yang tadi memberi Arin pertolongan pertama sudah pergi, tetapi gadis itu meremas lengannya seakan mengatakan dia baik-baik saja.
"Jangan bergerak dulu, lukamu-"
Arin menepuk-nepuk bahu Loretta karena sepertinya meremas lengannya masih belum membuat gadis itu tenang. Keputusan sudah diambil. Dia akan membantu mereka.
Duduk sedikit membuatnya meringis walaupun luka berat seperti organ cedera atau tulang yang patah perlahan-lahan dipulihkan dengan 'ultraspeed regeneration'. Disekanya darah di ujung mulut dengan tangan sembari memikirkan rencana yang tepat.
Arin menyalurkan mana pada telapak tangannya yang kini menempel pada tanah. Matanya terpancang pada guru dan si anjing sialan. 'Skill 'Purify', aktifkan.'
Selagi mana-nya diam-diam bergerak menuju lingkaran mana milik Hellhound, Arin menggunakan sebelah tangan untuk memunculkan sehelai bulu miliknya. Setelah membuat Reinhard terbebas dari tekanan gravitasi, Arin berniat menyerang sekaligus membalas dendam. Bulu itu kemudian melesat dengan cepat menuju si anjing dan membakarnya begitu bersentuhan.
Terjadinya dua kejadian misterius itu membuat semua orang tercengang. Semua orang bertanya-tanya bagaimana hal itu bisa terjadi atau siapa yang menolong mereka?
Agaknya, mencari tahu mengapa dan bagaimana tak bisa mereka prioritaskan untuk saat ini. Terlebih bagi Reinhard yang mempunyai circle lebih tinggi yang otomatis menjadi pemimpin diantara para domba-domba yang ketakutan. Selagi monster itu belum benar-benar mati dia tak bisa lengah. Maka, ketika si anjing meronta hebat karena terbakar, Reinhard mengeluarkan seluruh circlenya.
"Ex Barrier!" Dengan teriakan lantang itu, Reinhard mengurung dirinya bersama si anjing dalam kubah transparan.
Ancient Hellhound dikatakan monster Kelas A bukan tanpa alasan. Membunuhnya tak akan mudah. Dari bulu yang terbakar, keluar cahaya yang sedikit demi sedikit melingkupi tubuh besarnya. Api itu padam ketika cahaya aneh itu menghilang.
Sejak dia memutuskan membantu, Arin tak pernah melepaskan matanya dari pertarungan. Dia sedikit tercengang dengan aksi si anjing yang mungkin juga memiliki Purifi atau skill sejenis resistansi. 'Kalau begini, harus bagaimana?!' Dia menggigit pipi bagian dalamnya supaya tak kelepasan berteriak.
Lawan yang berhadapan saling bertatapan. Serangan pertama di lakukan oleh si monster dengan melemparkan dirinya sendiri kedepan.
Terkaman si monster berhasil di hindari oleh Reinhard yang melompat dan memijak pada Ex Barrier. Setiap sisi dinding penghalang secara serempak mengeluarkan puluhan circle dengan variasi lima warna milik pemiliknya.
"Shooting Star!" Begitu aba-aba digaungkan, puluhan peluru sihir dari circle langsung menghujani si monster secara beruntun.
Walaupun kelihatan seperti jurus mematikan, tapi itu tak cukup mematikan bagi si anjing. Monster itu masih berdiri tegak karena semua peluru tertahan oleh skill 'Shield'-nya.
Sejak awal, peluru sihir itu hanya pengalihan. Selagi anjing itu berfokus untuk menahan serangan, Reinhard merapal mantra untuk serangan lain.
Energi berkumpul pada kedua tangan pria itu yang mengarah pada si monster. Butuh lima detik sebelum energinya mencapai titik maksimal dan siap ditembakkan. "Asteroid!"
Karena cahaya dari laser energi yang menyilaukan, semua kepala berpaling demi menyelamatkan mata mereka. Ketika mereka berpaling kembali, dari Ex Barrier itu muncul satu lubang yang menganga dan dalam sekejap pecah.
Geraman rendah terdengar dari balik debu yang berterbangan. Reinhard berharap, walaupun monster itu masih hidup asalkan bisa terluka saja sudah menjadi kemenangan kecil baginya.
'Yang benar saja! Bagaimana mungkin status Hellhound itu meningkat dua kali lipat?!' Arin mengatupkan mulut rapat-rapat, mencegah untuk memuntahkan darah sekali lagi karena kesal.
Tak ingin kalah dari sang lawan, Reinhard ikut mengeluarkan seluruh energinya. Jangan kira dia akan terintimidasi dengan apa yang si anjing lakukan. Tak tanggung-tanggung, dia mengeluarkan enam circle dan membuat Arin was-was karena tiga circle terendahnya mulai memudar.
"I-itu…" Loretta tergagap.
Arin menolehkan kepalanya dan tak bisa semakin bertanya-tanya. Bahkan semua temannya tercengang. Reinhard hanya menambah satu circle dengan warna jingga, lalu apa yang membuat semua orang terkejut?
Awalnya, kedua lawan itu hanya beradu tatapan tanpa terlihat ingin menyerang. Keduanya seakan menunggu momentum yang tepat kemudian menghabisi lawannya sampai tuntas.
Ketika pada akhirnya mereka sama-sama bergerak, benturan keras terjadi dan menciptakan angin. Setelahnya, gerakan mereka tak bisa di ikuti saking cepatnya. Sehingga, monster dan manusia itu terlihat seperti dua kilatan cahaya yang saling berbenturan dan berloncatan.
Semua orang mencoba bertahan dari diterbangkan angin yang berasal dari pertarungan. Loretta menarik tubuh Arin dan memeluknya dengan erat. Beruntunglah Will dan Loman yang masih berdiri beberapa langkah dari mereka sedikit menahan angin.
'Reinhard juga menyelimuti tubuhnya dengan energi sihir. Tapi perbedaan kapasitas mereka terpaut jauh. Jika begini terus, Reinhard akan kalah.' Arin berusaha mencari cara untuk ikut campur di situasi ini.
Tanah disekitar arena pertempuran mulai meledak-ledak akibat serangan mereka. Membuat Arin memacu otaknya lebih keras dan akhirnya dia menemukan satu. Membantu tanpa diketahui siapapun. Ada sebuah skill yang tidak memerlukan Arin untuk bergerak secara langsung.
Arin mulai mengeluarkan mananya dan berhati-hati agar Loretta, yang paling dekat dengannya, tak menyadari itu. 'Terbakarlah, Skill, 'Sunstrike'.'
Tepat di atas Ancient Hellhound itu, sebuah pilar cahaya jatuh tepat mengenainya dengan kilat. Seluruh tubuhnya menghilang kedalam pilar dengan raungan yang menusuk setiap telinga yang ada.
Reinhard tercengang, begitupula semua orang. Serangan dahsyat itu bukan miliknya dan dia semakin penasaran akan apa yang sebenarnya terjadi.
Perlahan, pilar cahaya itu mengecil dan akhirnya menghilang. Yang tersisa hanyalah si anjing yang sekarat yang mau tak mau memberi perasaan lega pada semua manusia yang ada disana.
Arin merasa panik jauh di dalam hatinya. Keringat dingin yang keluar dari dahinya di artikan oleh Loretta sebagai rasa sakit karena dia memeluk Arin terlalu erat, sehingga gadis itu melepaskan pelukannya. Tatapan Arin masih terpaku pada si anjing dan tak memperdulikan Loretta yang mencoba menghapus keringatnya dengan sapu tangan. 'Segel Abyss… Barusan itu Segel Abyss. Monster itu bisa memakai skill setingkat abyss? Jika itu sampai digunakan pada Reinhard. Kematiannya sudah tak terhindarkan.'
Ancient Hellhound yang merasakan ajal telah merayapinya tak ingin mati dengan sia-sia. Dia mengarahkan tatapan pada sekumpulan manusia yang berkumpul di dekat kastil dan membuat Reinhard merasakan firasat buruk.
Begitu menyadari monster itu ingin meledakkan diri, Reinhard langsung berlari ke arah murid-muridnya. Dengan kekuatannya, tak mungkin itu hanya sebuah ledakan kecil. Paling tidak, ledakannya akan meratakan semua yang ada di dekatnya, termasuk mereka.
"Keluarlah... UNBREAKABLE BARRIER...! "