
Selang beberapa menit Arin dan Ricardo berjalan, tampak seorang pemuda yang sepertinya mengenal ricardo mulai menyapa dari jarak yang cukup jauh.
"Yo Ricardo! Siapa lagi yang kamu bawa itu? Jangan bilang kamu memungut orang lagi," teriak seorang pria dari kios buah.
Ricardo mengajak Arin mendekat. Pria di kios itu masih terlihat muda. Tak berlebihan jika mengatakan wajahnya tampan, ditambah lagi dengan janggut tipis dan model rambut yang menutupi mata kanannya. Tubuhnya tegap dan mungkin saja ada otot yang tersembunyi di balik baju. Arin memperkirakan usia pria ini dua puluh lima tahun. Jika pria ini muncul di dunianya dulu dan dia masih hidup, dijamin akan menjadi tipe idealnya.
Tatapan Arin pada pria itu membuat dua orang itu bingung.
'Ah, sadar Arin. Usiamu dua belas sekarang! Masa iya naksir ke om-om.' Arin merutuki dirinya setelah melihat Ricardo dan pria itu menggeleng-gelengkan kepala mereka.
"Ah, nona mau buah ini?" pria itu menawarkan satu buah apel dagangannya.
Arin menerima apel merah gemuk itu dengan kedua tangannya. Setelah menggumamkan terimakasih, dia mencoba satu gigitan. Rasa manis dan air yang memenuhi rongga mulut membuatnya hampir menangis.
'Enak sekali! Di labirin tidak ada buah seenak ini,' ucap Arin pada dirinya sendiri.
Ricardo melihat dalam diam saat Arin menyantap apel itu. Sesaat muncul rasa iba dalam kepalanya. Keinginan kuat untuk membantu mulai tampak di balik raut wajahnya itu. 'Mungkin tidak masalah jika anak ini tinggal di rumahku bukan? Semoga saja anakku suka jika memilik seorang kakak perempuan.' Pikir Ricardo yang mulai membayangkan akan jadi seperti apa pertemuan keduanya.
"Baiklah, kalau begitu kami pamit," ucap Ricardo sambil meninggalkan pria itu dan memberi aba-aba pada Arin.
Arin mengikuti Ricardo tetapi masih menoleh kebelakang untuk melihat pria yang sudah memberinya apel. Dan respon yang di dapat gadis itu adalah lambaian tangan dengan senyum yang memikat.
'Aah, senyum pria tampan adalah pemandangan terbaik.' Kemudian Arin tertawa mendengar pikirannya yang menggelikan. "Apa nona ingin mampir kesana lagi?" Suara Ricardo membuat Arin sedikit terkejut. Tentu Arin tidak menyadari jika ternyata Ricardo mengawasinya sedari tadi. Tawa Ricardo pun pecah begitu melihat tingkah Arin yang seakan malu menyembunyikan hal itu.
---
Tak lama kemudian, Arin melihat Ricardo masuk kedalam sebuah bangunan yang cukup besar dan megah. Untuk dibilang sebuah tempat tinggal, rasanya terlalu berlebihan. Apa ini istana? Memangnya di desa ada kediaman milik Count?
"Nah kita sudah sampai Nona. Pertama kita harus membuat identitas dulu untukmu. Dengan begitu kamu bisa berkeliling dengan bebas bahkan hingga mengunjungi desa lain selama masih berada dibawah wilayah Count Raven," ucap Ricardo saat mereka berada di dalam.
Mata Arin kembali mengobservasi, ternyata bagian dalam ini tak kalah mewah dengan bagian luarnya.
"Selamat datang di Guild. Apa ada yang bisa saya bantu?" sapa seorang wanita muda yang berdiri dengan menggunakan pakaian klasik yang mirip dengan resepsionis. Ditambah dengan parasnya yang amat cantik, anggun dan berambut cokelat sebahu.
"Ah, nona kecil ini berasal dari luar desa. Dia juga yatim piatu dan tidak memliki rumah. Jadi dia ingin membuat identitas baru dan hidup disini mulai dari sekarang. Maka dari itu..." Ricardo mulai menceritakan tentang Arin pada wanita cantik itu.
"Jadi seperti itu. Kalau begitu mari ikut saya Nona Arin." Ajak wanita itu menuju sebuah ruangan.
Di ruangan ini terdapat semacam kristal sihir berwarna perak yang cukup menyilaukan. Wanita itu mempersilahkan Arin untuk mendekati dan menyentuh kristal itu. Sesaat, Arin tahu apa yang akan terjadi. Dia mulai berfikir apakah ini benar-benar aman.
"Maaf, apakah ini untuk mengetahui informasiku? Apa saja yang bisa diketahui lewat benda ini?" tanya Arin.
Wanita itu tersenyum ramah. "Benar sekali Nona, ini adalah kristal sihir yang bisa memberitahu informasi dari orang yang memegangnya. Yang akan diperlihatkan hanyalah informasi sederhana seperti; tinggi, berat, dan circle milik nona saja, jadi tidak perlu khawatir."
Arin merasa lega karena hanya itu. Karena dia pikir bahwa ras nya juga akan diperlihatkan oleh kristal itu. Tapi, circle? Ini adalah hal baru yang Arin ketahui. Arin tidak memikirkannya terlalu serius dan mulai menyentuh kristal sihir itu.
Kristal itu mengeluarkan suara mendengung yang halus. Benda itu mengeluarkan cahaya, kemudian diatasnyan muncul semacam bola berwarna biru yang cukup besar. Wanita itu langsung mengambil sebuah kertas dan menempelkannya di atas bola biru. Kemudian muncul rentetan tulisan secara perlahan di kertas yang wanita itu tempelkan.
"Sudah selesai, Nona bisa melepas tangan nona dari kristal sihir," ucap wanita itu sambil berjalan untuk mencetak hasil yang ia dapatkan.
Tidak lama bagi Arin menunggu hasilnya, dan wanita itu memberikan kartu berwarna hitam pada Arin. Gadis itu bisa melihat bahwa terdapat nama, level, dan juga jumlah circle.
"Hm? Wah, ternyata nona sudah memiliki satu circle ya. Hebat, hebat." Ricardo mengakhiri ucpannya dengan tawa, membuat Arin sedikit penasaran.
Arin memang tidak tahu menahu soal masalah circle dan bagaimana cara mendapatkannya. Yang Arin fokuskan saat ini adalah levelnya. Di kartu identitas milik Arin, tertulis bahwa ia berada di level 9. Apa itu level yang sangat tinggi? Arin mencoba menggunakan skill matanya identify dan mengintip kartu milik Ricardo yang tersimpan di tas kecil tepat dsamping pinggangnya. Dan disana tertulis bahwa Ricardo berada di level 78.
"Tuan Ricardo, apa tuan bisa menghancurkan desa ini?" tanya Arin untuk memastikan sesuatu.
"Menghancurkan desa? Yang benar saja. Memangnya nona kecil pikir aku ini makhluk apa? Nona pasti berfikir aku sangat kuat karena aku terlihat gagah ya?" Tawa Ricardo kembali terdengar, kali ini lebih seperti menyombongkan diri.
Ternyata dugaan Arin tentang kristal sihir ini benar. Walau belum tahu mengapa, tapi sepertinya kristal sihir ini menganggap Arin lebih lemah dari Ricardo. Yah, selama itu bisa membuat Arin bisa menjalani kehidupan normal, Arin tidak mempermasalahkan hal itu.
"Benar juga. Apa kamu mau mencoba sekolah sihir? Karena kamu sudah memiliki 1 circle, kamu sudah memenuhi persyaratan untuk masuk ke sekolah sihir di ibukota. Dan jika kamu bisa menambah jumlah cricle-mu, kamu bisa menjadi kuat loh," ucap Ricardo sambil tersenyum dan mengelus kepala Arin.
Apa tadi yang barusan Ricardo katakan benar-benar membuat Arin terkejut. Bertambah kuat? Apa itu diperlukan? Padahal Arin yang sekarang bisa menghancurkan desa ini dengan mudah jika Arin mau.
Jadi... Bagaimana ya?