This Story Will Be Remake

This Story Will Be Remake
PROLOG : ARC Homunculus



Dalam sebuah ruang yang redup akan cahaya masuk, hanya terlihat sosok pria disana. Dirinya tampak fokus dengan puluhan lembar yang berserakan diatas mejanya. Sambil memegang kepalanya yang mulai terasa pusing, tiba-tiba terlihat bola karet kecil yang menggelinding menyenggol kaki kanannya.


“Ayah, ayo main.” Ucap gadis kecil yang membuka perlahan pintu ruangan itu, membuat cahaya dari luar masuk dengan sangat menyilaukan. Suasana yang sepi itu membuat langkah kaki gadis itu terdengar nyaring bagi pria itu. “Maaf, ayah masih banyak kerjaan. Jangan ganggu ayah.”


Pria itu berdiri dan melewati gadis itu tanpa menghiraukan nya sedikitpun. Bola karet yang menempel di kakinya juga tersenggol dan semakin jauh untuk diraih. Namun seakan ada keinginan kuat dalam hatinya, gadis itu mengikuti ayahnya yang berjalan keluar.


“Jangan ikuti aku.” Pria itu mulai merasa risih akan kehadiran gadis itu. Namun hal itu tidak membuat gadis itu berhenti melangkah. “A-ayah, tunggu.” Gadis itu mulai kesulitan untuk melangkahkan kaki karena pria itu semakin mempercepat langkahnya.


“Jangan panggil aku dengan sebutan itu! Kamu itu bukan anakku. Bahkan walau aku membuatmu hingga menyerupai mendiang anakku, kamu tidak akan bisa menggantikannya.” Perkataan pria itu kini membuat langkah gadis itu terhenti. Sambil merenungkan apa yang ayahnya katakan, ia terdiam di ruangan itu sendiri.


“Lalu, kenapa ayah membuatku?” Gadis itu bergumam sambil berlinang air mata. Isak tangisnya semakin kencang karena merasa sudah tidak dipedulikan lagi oleh ayahnya.


 


Ketika matahari bersinar dengan terang tepat di ujung timur, gadis itu terlihat sedang berjalan-jalan menyusuri pantai. Rumahnya memang tidak jauh dari lokasi pantai utara kerajaan Luxirous, jadi ia bisa bermain setiap hari ke sini seorang diri. “Bahkan jika aku hilang pun, ayah pasti tidak akan mencari ku iya kan?” Gumam gadis itu sambil melangkah kecil menyusuri pantai.


“Anak kecil? Apa yang dilakukan anak kecil sendirian di pagi hari begini?” Tak jauh dari tempatnya berdiri, ia melihat sosok wanita berdiri dari arah sampingnya. “Wah, cantiknya.” Gadis itu refleks mengatakan itu begitu melihat sosok wanita anggun itu. Rambut biru nya yang dibiarkan terurai membuatnya terlihat cantik saat tertiup oleh hembusan angin di pagi itu. Bahkan warna rambut dan matanya memiliki warna yang sama.


“Kalau begitu, bagaimana kalau kita makan sesuatu di dekat sini? Ayo, akan ku belikan apapun.” Wanita itu menggandeng dengan lembut tangan gadis itu. Mereka mampir ke sebuah rumah makan yang sederhana, namun cukup ramai di pagi hari itu. Wajah gadis itu yang tampak terkejut melihat seberapa enaknya makanan itu, perlahan membuat wanita itu mengerti akan kondisinya.


“Jadi begitulah. Karena ayah seperti tidak menyukai ku, makanya aku bermain ke sini kalau bosan.” Cerita gadis itu sambil berjalan-jalan bersama wanita itu. Tak terasa gadis itu bercerita hingga matahari kini tepat berada diatas kepalanya.


“Manusia memang begitu. Mereka selalu menginginkan sesuatu di luar kemampuan mereka. Bahkan begitu mereka berhasil mendapatkannya, akan muncul rasa kurang dan ketidakpuasan yang mereka rasakan.” Karena saat itu, gadis itu masih terlalu kecil untuk mengerti maksud dari ucapan itu, jadi dia hanya terdiam sambil menatap wajah cantik wanita itu.


“Baiklah, ini waktunya aku untuk pergi.” Tanpa menunggu gadis itu berbicara, wanita itu meninggalkannya begitu saja. “Tu-tunggu. Kapan nona akan ke sini lagi?” Wanita itu menoleh dengan ekspresi datar. Sepertinya gadis itu akan merindukan nya hingga menanyakan sesuatu seperti itu.


“Kembali ke sini? Untuk apa aku membuang waktuku demi sesuatu seperti itu?” Gadis itu merasa kecewa dengan jawaban wanita itu. Walau hanya sesaat, tapi ia sudah merasa dekat dengan wanita itu. “Kalau begitu? Apa aku boleh tahu nama nona? Kalau aku, namaku Cristya.”


Wanita itu terdiam sejenak begitu gadis itu menanyakan namanya. Ia juga merasa penasaran apakah namanya begitu penting. “Olivia. Namaku Olivia.” Sambil tersenyum, wanita itu memberitahukan namanya dan langsung menghilang dari hadapan gadis itu. Ia menghilang tanpa jejak seperti ilusi sihir.


ARC : Homunculus