
Pada keesokan harinya. Aku buru-buru pergi meskipun dengan meninggalkan daging Orc yang masih tersisa.
Aku merasa aneh ketika memakannya, jadi aku membiarkannya disana dan membusuk.
Sebagai gantinya, aku sudah menyiapkan sedikit potongan tubuh serigala.
Itu mungkin akan cukup untuk membantuku ketika dalam kondisi yang memerlukan pengobatan.
Tapi, tetap saja ada yang kurang.
"Aku harus menemukan sebuah kota." Ya, jika terus-terusan seperti ini.
Bukan hanya aku yang akan merasa kelelahan karena kurang tidur, tapi itu akan berakibat fatal jika sampai konsentrasiku menurun karena itu.
Jadi, aku pergi ke satu arah wilayah dan mengikuti jalur sungai.
Aku pikir dengan melakukannya akan membawaku ke suatu tempat.
"Hmmmm?" Mataku berhenti sebentar untuk melihat sesuatu yang muncul dari dalam air.
Ada beberapa gelembung dan sedikit punggung sesuatu yang menampakan diri.
Aku merasa aneh dengan itu, jadi dengan tangan ini aku mengambil batu dan melemparnya ke sungai.
"AwWwuGgHhhh!!!" Mataku menoleh tidak percaya ketika suara itu muncul begitu saja tepat setelah aku mengenainya.
"Itu adalah buaya?!" Aku kemudian memutuskan untuk menjauh dari wilayah sungai.
Dan buaya berhenti mengejar.
Aku tidak tahu kenapa mereka memutuskan mundur, tapi dari yang aku lihat sepertinya makhluk ini terlihat pintar.
Ya, aku memang tidak diuntungkan ketika berada dalam air.
Dan, juga ... Akan menjadi skenario terburuk jika aku sampai dikepung oleh beberapa spesies hewan tersebut disana.
"Oh ... Ada beberapa yang muncul." Mataku mengamati.
Ada beberapa gelembung lagi yang keluar dan tentu, pemiliknya adalah kawanan buaya yang bergerak menuju ke satu arah.
Jika diperhatikan lebih teliti lagi, aku bahkan bisa menemukan mereka sedang mengincar seseorang ... Hm?
"Tunggu, apa?!"
***
Aku tidak tahu, kenapa ada seseorang di hutan seperti ini.
Tapi dari kejadian itu, aku menemukan ada seseorang yang tergeletak tidak sadarkan diri disana, tepatnya di tepi sungai.
Dia adalah seorang gadis kecil yang jika di dunia lamaku, dia terlihat seperti anak-anak dari sekolah dasar.
Aku dengan cepat berlari menghampiri gadis itu tidak peduli berapa buaya yang mendekat ke arahku sekarang.
Jarak di darat lebih pendek dibandingkan melalui air.
Jadi, aku mengungguli kecepatan bergerak buaya.
"Oi, apakah kau baik-baik saja?" Aku pikir dia tidak sedang tidur siang atau semacanya, karena di bagian tertentu aku menemukan ada noda merah di bajunya. "Gadis ini pasti dalam masalah."
Antara memilih untuk menyelamatkan atau tidak, aku akan lebih suka untuk tidak membuang waktu untuk memikirkannya.
Mau tidak mau aku harus melakukannya sampai akhir meskipun itu berarti aku harus meladeni beberapa buaya yang terlihat tidak puas.
"To-tolong ... Aku ... Sangat ..." Aku kemudian menoleh kepada seseorang yang kepalanya berada pada tangan kananku sekarang.
Mulut gadis itu berbicara dengan tidak jelas, aku mengeluarkan daging serigala dalam ukuran kecil lalu memasukannya kedalam tubuh gadis itu.
"Uhuk ..."
"Apa yang terjadi?" Seperti gadis itu menolak makanan yang masuk.
Tunggu, bukankah itu akan bekerja jika kau memasukan sesuatu ke dalam dan membuatnya menyembuhkan?
[Memberitahu, master ... Ini mungkin terdengar aneh, tapi hanya kamu yang dapat sembuh dari memakan monster buruanmu.]
Dengan kata lain, kekuatan itu khusus hanya untukku?
Di satu sisi aku merasa bangga dan merasa istimewa karena perkataan itu.
Tapi di sisi lain, diriku yang satunya justru merasa kecewa.
"GggOoAarRRgGhhh!" Buaya yang sudah mencapai jarak beberapa meter dariku langsung memulai serangannya.
Aku kemudian melompat dan membuat gadis itu berada dalam pelukanku untuk menghindar.
"Jika seperti ini, kurasa aku hanya bisa melarikan diri." Beban, maksudku, akan sulit menggunakan pedang jika kedua tangan digunakan untuk memegangi tubuh anak ini.
Setelah melewati pengepungan yang membahayakan nyawa, aku akhirnya meninggalkan wilayah pinggir sungai.
***
"Apa kau masih bisa bertahan?" Aku menoleh ke anak ini.
Dia masih sedikit sulit untuk membuka mata.
Satu hal yang bisa aku lakukan adalah membasahi bagian kepalanya dekat matanya dengan sedikit air dan memaksanya untuk bangun.
"Aku ... Ummmm ... Air ..." Aku menggangukan kepala dan memberikannya satu botol penuh dengan air.
*Catatan: Itu adalah air yang Lein kumpulkan sebelum melanjutkan perjalanan mengikuti jalur sungai.
"Siapa namamu?"
"Sistine ..." Gadis itu meskipun kesulitan berbicara, dia masih bisa mengeluarkan kalimat yang bisa ditangkap oleh telinga ini.
Aku kemudian membiarkannya beristirahat sejenak, mungkin dia memerlukan itu.
"Dan, sepertinya dia memang manusia."
Jadi begini, jika ada dia disini tentu itu berarti setidaknya disuatu tempat yang tidak jauh dari sini, pasti ada yang namanya kota atau desa.
Aku menemukan jawaban setelahnya, bahwa untuk aku bisa pergi kesana, mungkin gadis ini bisa menjadi pemandu jalanku jika dia masih bisa bertahan.
Dan, sepertinya dia hanya mengalami sedikit luka cakaran di perut dan punggung.
Itu tidak terlalu parah kurasa, sepertinya akan segera membaik beberapa hari lagi.
Jadi, dengan begini aku merasa tidak menyesal karena sudah menyelamatkannya.