The Ultimate Principality System

The Ultimate Principality System
Chapter 32 - Desa Welouf



Sekarang, aku sudah menemukan gadis pelayan itu sudah mengetahui siapa diriku.


Dia memang sempat memperlihatkan mata yang melebar selama beberapa detik sebelum kembali normal.


***


Sudut pandang Ellen


"Jadi dia adalah Tuan Putri yang diminta Tuan untuk diawasi." Dalam suara kecil aku mengatakannya.


Bisa dibilang, keadaan gadis ini bahkan lebih buruk dari yang pernah aku dengar.


Tunggu, mungkinkah aku bisa mengeluarkannya dari sini secara langsung?


Maksudku, bisa saja aku membawanya kabur daripada repot-repot memata-matai. Tapi, aku ragu aku masih belum memiliki kemampuan untuk melakukannya.


Aku menggangukan kepala.


Kurasa aku memerlukan perintah Tuan sebelum bertindak.


Lagipula, ini hanya tentang mengawasi dan tidak lebih.


Namun, Tuanku pernah berkata dia menyuruhku untuk melakukan sesuatu ketika Gadis itu benar-benar dalam bahaya yang memerlukan bantuan.


***


Next, kembali ke sudut pandang Lein.


Aku kemudian menemukan bahwa setidaknya sudah beberapa orang yang menundukan kepala ke arahku.


Masing-masing dengan alasan yang sama, yaitu berhutang budi.


"Tolong biarkan saya membalasnya. Apapun, silahkan minta sesuatu itu kepada kami."


"Selama kami bisa memberikannya, kamu boleh mengambil semua yang kamu inginkan, Tuan Muda!"


Yah, untuk urusan itu. Aku kemudian berencana untuk tidak menolaknya.


Sebenarnya, sebagai seorang penyelamat yang baik, seharusnya tidak perlu yang namanya "meminta" dari seseorang yang diselamatkan.


Tapi karena aku merupakan orang yang memerlukan bantuan mereka sekarang untuk misiku, yaitu membangun negara. Dengan kata lain, aku memerlukan setidaknya dukungan dari para warga.


"Untuk itulah ... Tuanku menginginkan kalian bergabung menjadi bagian dari Kerajaan kami."


"Kerajaan maksudmu?" Lucfier membuat seorang pria tua itu kebingungan.


Aku tahu, ini akan menjadi sesuatu yang sulit untuk dipenuhi karena bisa saja seseorang tidak akan tinggal diam begitu satu per satu wilayahnya hilang.


"Kalian tahu bukan? Dia adalah seorang pangeran? Maksudku, Tuanku adalah yang berhak mewarisi tahta."


"Kami sudah mendengarnya dari Fran." Pria tua menunjuk ke seseorang yang berdiri disampingnya.


Aku melihat, seseorang yang dimaksud adalah Ayah Sistine.


Oh, ya? Aku bahkan lupa untuk menanyakan tentang itu kepadanya, namanya.


"Jadi, mempertimbangkan bahwa jika kalian bisa melindungi kami mulai dari sekarang, maka aku tidak akan keberatan dengan bergabung menjadi bagian dari kekuasaanmu, Yang Mulia!" (Pria Tua)


Dan, wow! Semuanya kali ini berlutut. Apakah ini yang dinamakan menjadi seseorang penguasa?


Ah, iya. Aku akan bertindak sewajarnya, seperti menyuruh mereka, "Silahkan berdiri." atau semacamnya, lalu kemudian melihat Sistine yang terlihat menunjukan wajah bahagia.


"Tentu saja ... Kami masih berniat untuk pindah." (Sistine)


Rupanya, pria tua itu adalah kepala desa.


"Yah ... Aku tidak akan keberatan jika itu adalah keinginanmu. Lagipula, kami juga tidak bisa berbuat banyak kepada orang-orang yang sudah kehilangan rumah. Oh iya ... Maafkan atas ketidak sopananku karena belum memperkenalkan diri."


Kepala desa itu kemudian mengatakan bahwa nama dia adalah Walton. Seorang yang sudah menjadi kepala desa disini selama bertahun-tahun.


Fran kemudian menggangukan kepala setelah menerima izin dari Walton. Dia dan beberapa puluh warga sepertinya akan sibuk selama beberapa waktu.


Mari kita pergi ke tempat lain untuk membicarakan suatu hal.


***


"Jadi Tuan Walton, bagaimana dengan mengubah desa menjadi benteng?" Lucfier kemudian berkomentar setelah hanya aku, dia, Aisha dan kepala desa yang berada dalam satu ruangan.


Karena ini adalah pertemuan rahasia, jadi aku meminjam rumah pria tua itu untuk menjadi tempat diskusi.


Kepala desa menggangukan kepala. "Aku mengerti, melihat bagaimana cara naga bisa dengan mudah menghancurkan desaku adalah karena tidak adanya pertahanan yang kuat."


"Aku setuju dengan itu, Tuan Walton. Dan, bukankah anda juga memiliki sesuatu untuk dikomentari tentang ini, Tuanku?"


"Ah, iya." Tentu, Lucfier segera menyeretku dalam situasi ini.


Sungguh, aku tidak memikirkan apapun selain memperbaiki desa sekarang dan tidak lebih.


"Tunggu dulu! Aku hanya ingin menanyakan ini sebelumnya, tentang kerajaan anda yang mulia."


"Oh, itu berada tidak jauh dari tempat ini dan hanya memiliki satu kota saja." Bisa dibilang, aku baru membangunnya beberapa hari yang lalu kurasa.


Ya, pokoknya itu tidak lama dan cepat.


Lalu, ketika kepala desa mendengar itu dengan telinganya. Betapa terkejutnya dia mengetahui Rokie yang bisa membangun sesuatu secara instan.


***


"Aku akan memulainya dengan memperbaiki rumah."


Dengan skill [Arsitek] Rokie kemudian mengubah beberapa puing-puing bangunan yang tersebar di beberapa lokasi tertentu membentuk yang namanya tempat tinggal.


Para warga sekarang merasa kagum melihat itu dan menginginkan lebih banyak rumah yang diperbaiki.


Tapi, aku segera menemukan bahwa itu adalah sebuah masalah.


"Tolong hentikan itu, sahabatku. Kita tidak ingin membuat mereka mengubah keputusan tentang mengungsi ke kota kita, bukan?"


Lucfier dengan senyum yang hangat, tapi di belakangnya mengeluarkan niat membunuh segera membuat dwarf itu menggangukan kepala sambil berkeringat.


Yah, aku hanya menonton saja melihat ini. Sebenarnya, alasanku mengundang Rokie kesini bukan untuk memperbaiki saja.


"Rokie, mulai dari sekarang kita memiliki kendali atas tempat ini. Jadi, bisakah kau melakukan sesuatu untuk mempermudah kami untuk mengakses desa ini." (Lein)


Sederhana saja, aku berniat membangun sebuah jalan yang menghubungkan kota Reig City dengan desa ... Emmm ...


"Kau belum memberitahuku nama desa ini, Tuan Walton."


"Ah, benar ... Aku lupa tentang itu. Mereka biasa memanggil tempat ini dengan Welouf." Jadi desa welouf, ya?


"Baiklah, kau sudah menemukan jawabannya, Rokie! Mari kita lakukan!" (Lein)


Aku kemudian melihat Rokie yang menggangukan kepala sambil memulai pekerjaannya.


[-100.000 Emas]