
Pada keesokan harinya, aku membuka mataku dan menemukan Aisha sudah berada di samping ranjangku sambil berdiri.
"Selamat pagi, tuanku." Dia berlutut ketika mengatakannya.
"Oh, selamat pagi." Aku tidak terbiasa dengan ini.
Biasanya istriku yang mengatakan itu untuk pertama kali, tidak tahu kenapa ketika Aisha mengatakannya dia membuatku teringat akan kenangan masa lalu itu.
"Jadi, kita akan pergi ke kota sekarang." Aku menyuruh Aisha memakai pakaiannya, dan dia menuruti.
Sementara itu, aku kemudian bangkit dari ranjang dan melakukan gerakan pemanasan di lengan, tanpa sadar ada sebuah pemberitahuan yang tiba-tiba muncul.
[Misi: Meningkatkan Level ke 50] | [Hadiah: +50.000 emas dan +2000 medali]
Mataku menoleh tidak percaya begitu melihat semua ini.
"Jadi aku harus naik level sampai lima puluh?" Aku pikir itu akan berhasil jika aku mengandalkan Aisha untuk melakukannya.
Ah, tidak ... Aku mungkin tidak boleh terlalu bergantung dengan skill itu.
Tapi, tetap saja ... Aku merasa harus memanfaatkan dia untuk meningkatkan levelku ini.
"Saya sudah siap, Tuanku! Kita akan pergi kemana?" Aku menoleh ke belakang ketika suara Aisha terdengar sampai ke telingaku.
Mataku melebar selama dua detik sebelum kembali netral. Dia masih terlihat cantik meskipun dengan zirah itu.
"Eh? Darimana kau mendapatkannya?"
"Tuanku, ini adalah perlengkapan yang memang menjadi milikku."
"A-Jadi begitu." Maksud Aisha mungkin adalah, dia memang dilengkapi oleh zirah itu bahkan sebelum aku memanggilnya sebagai bawahan.
Ngomong-ngomong, tubuh seksinya masih terlihat meskipun bagian dadanya ditutupi oleh baju besi tersebut.
Sementara, lekukan tubuhnya masih sama dengan memakai gaun putih yang ketat sebagai tambahan.
"Baik, kita pergi sekarang?" Tujuan pertamaku mungkin adalah berkeliling kota untuk pertama kali.
Oh, aku juga sepertinya harus membeli zirah juga.
Dengan uangku yang sekarang, sekitar lima puluhan ribu emas. Apa yang mungkin bisa aku dapatkan dengan itu?
Aku pergi ke toko senjata untuk memeriksa sesuatu.
Disana, hanya satu jenis yang menarik perhatianku.
Itu adalah model zirah ringan yang membuat siapapun tidak akan merasa terlalu berat ketika memakainya.
Lalu, untuk senjata. Sepertinya aku harus membelinya satu.
Pedang yang aku dapat dari prajurit itu sudah mulai retak dan bengkok. Itu bahkan sudah tidak menyamai bentuk aslinya.
Jadi, aku membeli satu yang berwarna perak terang.
"Mereka seharga sepuluh ribu emas untuk pedang dan, dua puluh ribu emas untuk zirah." Wow, itu cukup mahal bagiku.
Tapi tidak masalah, yang pertama adalah membeli perlengkapan dulu.
"Oh, iya. Apakah kamu juga sudah memiliki satu untuk pedang, Aisha?" Aku melihat gadis disampingku yang sekarang membawa senjata pedang ... Eh? Sejak kapan?
Sementara aku masih kebingungan dengan itu. Aku menyelesaikan untuk bagian pembayaran dengan pemilik toko.
Dengan begini, pangeran yang awalnya mengenakan pakaian lusuh akhirnya memiliki baju zirah sendiri.
"Tapi tetap saja ... Aku memerlukan pekerjaan."
Seperti petualang, jika itu adalah game yang pernah aku mainkan. Memang, disana akan ada yang namanya guild jika tidak salah.
"Ah, ketemu!" Aku melihat rumah besar yang sepertinya memiliki lantai dua.
"Itu memang adalah rencana awalku." Juga, aku memerlukan sesuatu yang bisa membantuku untuk menemukan setiap lokasi monster.
Jadi begini, jika Sistem berfungsi untuk memberikan hadiah pada setiap monster yang aku kalahkan, guild yang bertugas untuk memberitahu aku lokasi sarang monster berada.
Dengan kata lain, itu akan saling menguntungkanku.
Selain hadiah dari sistem, aku juga mungkin akan mendapatkan uang dari guild juga.
Jadi, aku memasuki rumah itu dan seperti biasa, orang-orang menatapku dan Aisha bergiliran sebelum mereka kembali ke aktivitas masing-masing.
Ruangan guild terlihat sama seperti dalam game. Mereka ada papan quest, nah, disinilah kamu akan menerima misi pencarian.
Lalu, untuk di bagian pendaftaran.
"Permisi, adakah yang bisa aku bantu?" Aku melihat seseorang yang mengenakan pakaian pelayan di tempat resepsionis menanyakan itu ketika kami mendekat.
"Kami akan mendaftar sebagai petualang, bisakah kau membantu kami melakukan itu?"
"Ummm ... Tentu, tapi ini akan dikenakan biaya untuk bisa menjadi petualang." Aku menggangukan kepala dan merasa tidak keberatan dengan itu.
"Berapa biayanya?"
"Seribu emas per orang ..." Aku mengambil uangku dan menyerahkan koin-koin itu di atas meja.
Sekarang ada aku dan Aisha di dalam party.
Kami resmi memulai pekerjaan di guild setelah masing-masing mendapatkan kartu petualang.
Resepsionis menjelaskan, aku tidak boleh menghilangkan atau merusak kartu karena akan sulit menerima misi jika itu sampai terjadi.
"Ada beberapa peringkat dalam Guild yang akan menentukan statusmu ... F yang terendah disusul E, D, C, B, A ... Dan S yang tertinggi. Apakah kamu ada pertanyaan lagi, tuan?"
"Ah, tidak ..." Aku menggelengkan kepala. Sejujurnya, aku tidak memerlukan penjelasan ini karena aku sudah paham bagaimana itu bekerja.
Sederhana saja, peringkatku yang sekarang adalah F, itu berarti aku hanya bisa mengambil misi di peringkat tersebut saja.
Setelah selesai dengan urusan mendaftar, aku kemudian pergi ke papan pencarian untuk menemukan quest yang cocok.
"Yo, sobat. Sepertinya kau adalah petualang baru."
"Hei, bagaimana dengan bergabung dalam party kami?" Aku melihat ke samping, ada beberapa orang yang memakai zirah mendatangiku.
Mereka pasti sesama petualang.
"Aku akan mempertimbangkan jika peringkat mu berada di tingkat ..."
"Aku tidak bicara denganmu." Mataku melebar tidak percaya.
Tidak lama, kedua orang dengan tubuh kekar itu mendatangi gadis disampingku.
"Kau terlihat cocok ... Apakah kamu mau bergabung dengan kami, Nona?"
"Tidak akan ..." Aisha menjawab sambil menatap keduanya dengan dingin.
Hahaha ... Seperti yang aku duga, itu akan mendapatkan penolakan. Jadi, semua ini hanya tentang mengejar gadis cantik, bukan?
Ketika ekspresi orang itu berubah menjadi liar.
"Yang benar saja, kau berniat bertarung dengan bocah ini?"
"Kami bahkan lebih baik darinya!" Ketika mereka saling mengatakan itu dihadapanku, aku yang merasa direndahkan menaikan alis.
"Coba lihat kartu petualangmu?" Aku mengatakan itu sambil mengulurkan tangan dan mengambil benda persegi panjang itu dari tangan keduanya.
Secara keseluruhan, mereka adalah E. Jadi, itu sama saja dengan petualang baru.
"Ditolak ... Aisha tidak akan bergabung denganmu ... Begitupun aku." Setelah aku mengatakannya, mata mereka menatapku dendam seolah-olah tidak menerima keputusanku tersebut.