The Ultimate Principality System

The Ultimate Principality System
Chapter 23 - Level 50



Ketika pikiranku dipenuhi oleh pertanyaan itu.


Nama: Lein


Ras: Manusia


Usia: 18 tahun


Jenis Kelamin: Laki-laki


Pekerjaan: Pangeran Bersenjata


Level: 50


Status:


HP [E] | MP [E] | Pertahanan Fisik [D] | Daya Tahan Sihir [F] | Kecepatan [E] | Kelincahan [E] | Serangan Fisik [D] | Serangan Sihir [E] | Keberuntungan [S]


Skill


● Ketahanan Binatang Buas level 3: Membuat seseorang kebal selama beberapa waktu.


● Menebas level 3: Membuat kerusakan serangan fisik dan senjata bertambah 6%


● Salin: Menyalin pengalaman dari seseorang yang bersetubuh denganmu.


● Bola Api Naga: Memungkinkan menggunakan sihir api.


--- 


"Ternyata memang sudah meningkat."


Itu mungkin karena aku berhasil mengalahkan beruang besar itu.


Dan, seperti biasa setelah aku berhasil mengalahkan sesuatu.


[+1 Skill: Pedang Suci: Kecepatan bertambah 10% ketika bertarung.]


Ternyata, aku mendapatkan skill baru dari daging beruang ini.


Selain itu, dia juga bisa menyembuhkan seperti kebanyakan daging monster yang aku makan.


Lalu, ummm ...


"Ada apa?!" Mataku melebar selama beberapa detik ketika sesuatu berwarna putih berada tepat di atas kepalaku.


"Aku hanya ingin menanyakan ini kepadamu, tuanku. Bagaimana jika kita membawa ini pulang?" (Aisha)


"Oh, tentu. Kita bisa membagikan ini kepada yang lainnya." Ya ampun, aku baru saja melihat sesuatu yang dipakai oleh Aisha tadi ketika dia tiba-tiba berdiri di atas kepalaku.


Ternyata itu berwarna putih. Maksudku, dalemannya.


Memang, aku selalu bisa melihatnya pada setiap malam. Tapi, entah kenapa aku bisa seterkejut itu?


"Lalu, sepertinya aku perlu melihat status kemampuannya."


Tanpa minta izin aku langsung memunculkan jendela dan memperlihatkan tentang status Aisha.


Nama: Aisha


Ras: Manusia


Usia: 16 tahun


Jenis Kelamin: Perempuan


Pekerjaan: Ksatria Pedang


Level: 15


Status:


HP [F] | MP [F] | Pertahanan Fisik [F] | Daya Tahan Sihir [F] | Kecepatan [E] | Kelincahan [E] | Serangan Fisik [E] | Serangan Sihir [F]


Skill:


● Peningkatan Level Lv 2: Membuat siapapun yang bersetubuh dengannya naik level dua tingkat.


● Salin: Dapat menyalin pengalaman dari seseorang yang bersetubuh denganmu.


● Percepatan Pedang: Kecepatan mengayun pedang bertambah 10% ketika mengaktifkan skill ini.


 ---


"Dia juga naik level."


Itu berarti gadis ini naik 3 level.


Ini akan menjadi cukup adil jika semuanya mendapatkan kemampuan secara merata.


Sementara itu, setelah kami mengangkut potongan daging beruang itu dan berjalan pulang.


"Apa-Apaan ini?!"


Di desa, ah! Bukan!


Itu sudah terdapat pintu besar yang menghalangi jalanku dan ada tembok kokohnya.


"Ah, selamat datang Tuanku. Sepertinya anda mendapatkan tangkapan yang menarik hari ini." Lucfier tiba-tiba melompat dari atas untuk menyambutku dengan gaya yang elegan.


"Sepertinya desa banyak berubah ketika aku pergi."


"Itu benar, Tuanku. Ketika Lucfier membawakan aku banyak orang-orang kuat dan baik, aku berfikir akan langsung memanfaatkan mereka untuk membangun ini." Rokie mengatakan itu sambil menunjuk tembok batu yang dibangun.


Itu masih dalam tahap setengah jadi.


Maksudku, ada banyak kayu dan tangga disekitarnya, mungkin pekerjaan konstruksi masih berjalan.


"Lalu, tentang pertanian." Lucfier kemudian mengarahkanku pada sebuah lokasi yang luas dan tidak jauh dari desa.


"Kau bahkan menyiapkan semua ini?" Aku menoleh dan tidak percaya.


Lucfier melakukan pekerjaanya dengan baik.


Tidak hanya membantuku mengumpulkan banyak sumber daya manusia, dia bahkan sudah mempersiapkan sesuatu yang mungkin akan membantu negaraku dalam urusan pangan.


"Yah, setidaknya kita tidak akan kekurangan bahan makanan. Tapi, sepertinya itu menjadi masalah ketika ada banyak warga yang tidak bekerja." (Lucfier)


"Itu ... Bukankah kita hanya perlu membuat mereka mengurusi sawah dan ladang?" (Lein)


"Ide tersebut memang bisa membantu menghasilkan uang. Tapi tuanku, sepertinya kita tidak akan memiliki uang yang cukup untuk membayar mereka."


"Tunggu, bukankah ada cara lain untuk menambah penghasilan? Bagaimana dengan mengekspor produk kita daripada hanya membagikan kepada warga?"


"Itu ... Brilian, seperti yang aku harapkan. Tuanku memang hebat!" Lucfier dengan tertawa bangga kemudian menunduk hormat kepadaku sebelum kembali melanjutkan pekerjaannya.


Dia menghilang seperti disedot oleh bayangan setelahnya.


"Jadi, semuanya sedang dibangun, ya?"


"Itu memang benar, Tuanku. Para budak itu. Ah, maksudku para mantan ketua bandit itu bekerja dengan sangat baik." (Rokie)


Tunggu, apa?


***


"Yo, ketua!"


Aku melihat seseorang dengan tubuh kekar menaikan tangan untuk menyapaku. "Bagaimana dengan hasil kerjaku ini?"


"Lumayan ..." Pria itu terlihat bangga dan ramah ketika berbicara denganku, aku menjawabnya dengan tenang sebelum menyadari sesuatu. "Tunggu, bukankah seharusnya sifatmu berlawanan dari ini?"


"Ah, itu dulu. Berkat Tuan Lucfier aku bisa merasakan kebebasan dan menikmati hidup. Dia berkata jika aku bisa menyenangkanmu, maka keinginanku yang akan terwujud." Aku tidak tahu sampai sejauh mana Lucfier membuat orang-orang ini berada dalam kendalinya.


Maksudku, dia sungguh adalah ketua bandit sebelumnya, bukan? Lalu, kenapa bisa semudah ini? Membuatnya menjadi ramah? Dan, berhenti disana!


Sebelumnya dia juga sudah berhasil membuat penduduk desa itu bersedia menjadi warga negara pertama di kerajaanku bukan?


Apa yang sebenarnya dilakukan iblis itu untuk memengaruhi orang-orang.


Mengesampingkan soal itu.


Aku melihat semuanya, para budak itu tertawa seperti merasa status budak mereka hanya kebohongan.


Semuanya bekerja dengan baik, tanpa ada yang merasa tertekan ataupun paksaan.


Setidaknya itulah yang aku temukan dari pemandangan tersebut.


"Bukankah ini bagus, tuanku? Kita akan dengan cepat membangun dari desa menjadi kota sekarang." (Rokie)


"Apakah kau mengetahui apa yang sedang terjadi?" (Lein)


"Ummm ... Tentu, itu karena Tuan Lucfier melatih mereka dengan keras sebelum akhirnya menjadi seperti ini."


Rokie juga tidak berusaha untuk menyembunyikan rasa keterkejutaanya.


Melihat ini, dia hanya tersenyum kecil dan ikut bahagia, seolah-olah merasa terselamatkan.


Ah, aku tahu itu.


Kau pasti berharap untuk mendapatkan libur atau waktu istirahat yang banyak, bukan?


"Tunggu, tentang membangun itu. Aku akan mulai memintamu membuatkanku sesuatu."