The Ultimate Principality System

The Ultimate Principality System
Chapter 30 - Menambah Desa



"RrrOooAaaRrrghhh!" Aku melihat, dia memang naga yang memiliki sayap.


Selain itu, sama seperti yang aku temui sebelumnya, setidaknya dia bisa mengeluarkan semburan api.


Serangan itu bahkan lebih parah dari dugaanku.


Para penduduk hanya bisa lari dan berlindung.


Tapi aku segera menyadari semua nya, tentang tidak ada jalan keluar yang benar-benar bisa menyelamatkanmu dari situasi ini selain menghadapinya secara langsung.


Sekarang, hanya aku dan Aisha yang berada dijalanan desa sambil menghunuskan pedang.


"Sudah cukup! Aku tidak akan membiarkanmu merusak lebih dari ini!"


Dalam keributan itu, semuanya kemudian menjadi hening dengan aku yang mengatakan kalimat tersebut dengan lantang dan jelas sehingga hanya sedikit yang tidak bisa mendengarnya.


Apakah aku terlihat seperti pahlawan sekarang?


Ini akan membuatku bertanya-tanya apakah harus seperti ini munculnya?


Jika itu tentang mendapatkan kepercayaan warga, kurasa aku harus melakukan sesuatu yang luar biasa dihadapan banyak orang untuk menarik perhatian mereka.


Dan, kemudian ... Seperti yang diharapkan setelah menantang seekor naga untuk bertarung.


"RrrrAaaRrrGhhh!


Tanah kemudian bergetar bersamaan dengan kaki naga yang mulai menyentuh lantai. Menciptakan beberapa retakan yang segera disusul oleh lubang besar.


Itu kemudian diperburuk setelah monster itu mendekatiku dan menatapku dengan buas.


"RrrOooAaaRrrrGggHhhh!"


Aura disekitar naga berubah menjadi niat membunuh.


Suaranya bahkan lebih keras dari sebelumnya.


Ketika dia berhasil mendekatiku sampai hanya berjarak beberapa langkah, naga langsung meneriaki itu untuk membuatku gentar.


[Ras: Naga] | [Level: 100]


Wow, itu akan menjadi sesuatu yang luar biasa sekarang.


Maksudku, dia memang level seratus dan lebih tinggi dariku dua kali lipat.


Jika aku yang sekarang berada di level lima puluhan, bukankah itu berarti aku kalah menurut status dengan perbedaan yang cukup jauh?


"Tapi ... Aku tidak boleh mundur setelah melakukan ini!"


Aku tidak akan membiarkan kepercayaan Sistine terhadapku hilang dengan satu keputusan pengecut itu, lalu ... Naga kemudian melakukan sesuatu setelahnya. Dia mengangkat kakinya dan berusaha untuk menginjak tubuhku yang kecil.


Aku secara reflek menghindari itu dengan lompatan, begitupun dengan Liya.


Tubuh naga memang besar, setidaknya dia setinggi beberapa meter dengan panjang kurasa sampai belasan?


Saat aku dalam pikiran itu, naga mulai menghirup sesuatu yang segera membuat kami mengetahui itu sebagai sebuah serangan mematikan.


Kakiku langsung bergerak dengan sendirinya, melompat dan menghindar dari setiap api yang meluncur ke arahku.


"Aisha! Kita lakukan!"


Sementara naga masih sibuk untuk mempersiapkan serangan lagi, aku mengganggap itu sebagai sebuah kesempatan untuk memulai ofensif.


"Fire Ball!"


Satu bola api meledak tepat di bagian samping tubuhnya sebelum aku melihat Aisha yang berlari melompat ke depan untuk menebas sesuatu.


"Ghhhh!!!"


Naga mundur beberapa langkah sebelum menemukan sayapnya hampir saja terpisah dari tubuhnya jika dia tidak mengambil keputusan cepat untuk menghindar.


Kali ini, naga menatap kami tajam.


Dia pasti tidak mengira aku akan mengambil jalan pertarungan setelah monster itu berusaha seperti menegaskan siapa yang terkuat disini.


Ini tidak akan berakhir hanya dengan tebasan ataupun skill.


Aku memerlukan yang namanya kekuatan lain, seperti sihir mungkin?


Tapi, aku tidak tahu apa yang terbaik untuk kami lakukan agar bisa mengalahkan monster tersebut.


Dalam pikiran penuh pertanyaan itu, seseorang mendekatiku sambil menyerahkan sesuatu.


"Apa ini?"


"Tuanku, ini adalah hadiah kecil dari rekan kita, Rokie. Sebuah pedang yang dirancang untuk situasi seperti ini." Lucfier mengatakan itu sambil membuatku mengambil senjata tersebut.


Itu memang hanya pedang yang berwarna biru. "Apa yang istimewa dari ini?"


"Salah-satu senjata khusus, tuanku. Ini bisa disebut sebagai pedang sihir. Maksudku, dia bisa mengeluarkan sihir hanya dengan kau menggerakannya saja." Heh, aku baru mengetahui itu.


Kenapa baru sekarang kau mengeluarkannya?


Aku sebenarnya ingin mengatakan itu, tapi mempertimbangkan situasi, aku memutuskan membuang pertanyaan tersebut.


Aku mengabaikan Lucfier setelahnya dan pergi ke arah naga yang menatapku buas.


Aku menoleh pedangku untuk sekali lagi.


Jika ini adalah pedang yang berwarna biru, bukankah sudah jelas dia akan mengeluarkan sesuatu yang berhubungan dengan warna itu.


Tubuh naga membeku kemudian setelah aku menggerakan pedangku dan membuatnya menebas angin.


Sederhana saja, sesuatu yang menyerupai es sudah menenggelamkan kakinya. Dan itu sepertinya cukup keras yang akan menjadikannya tidak mudah pecah.


Naga yang menyadari ada yang tidak beres di bagian bawah mulai melakukan sesuatu terhadap itu dan perlahan mempersiapkan api.


Tepat sebelum naga berhasil melakukannya, aku membuat es lebih banyak lagi dan menutupi sekarang sudah hampir sepuluh persen bagian tubuhnya.


"Bagus, aku mulai terbiasa dengan ini."


Dan dengan senjata baru tersebut, perlahan tapi pasti aku mulai mendominasi pertarungan.


Jika saja Lucfier tidak memberiku benda ini, ada kemungkinan aku akan kalah. Tapi, tetap saja, itu masih belum 100 persen terjadi.


Pertarungan semakin sengit setelah aku memulai serangan lagi.


Kali ini, Aisha berhasil menghilangkan satu sayap naga yang kemudian membuatnya menjerit marah.


Rumah-rumah disekitarnya langsung dihujani oleh api.


Aku merasa bersalah untuk kejadian itu, jadi dengan cepat aku mendekatinya dan memberikan satu tebasan pada naga yang tidak bisa menggerakan kakinya itu.


***


Lalu, naga yang mulai terjatuh dengan sayap yang terpotong dan bagian lain yang mengeluarkan banyak darah, setelahnya beberapa pemberitahuan memenuhi pandanganku untuk beberapa waktu.


[+100.000 Emas] | [+2.500 Medali]


[+1 Skill \= Sihir Es: Memungkinkan menggunakan sihir dengan elemen tersebut.]


[+1 Skill \= Sihir Air: Memungkinkan menggunakan sihir dengan elemen tersebut.]


"Itu berarti aku sudah bisa menggunakan beberapa sihir dan elemen?"


Wow, membayangkan saja, itu berarti aku bisa menggunakan air dan api secara bersamaan bahkan es!


Jadi, itu tidak hanya terbatas pada satu elemen saja.


Mungkin pedang sihir yang membuatku mendapatkan skill tersebut.


Dan, tapi ... Sungguh sesuatu yang mengejutkan aku temukan dari senjata itu setelah pertarungan selesai.


"Dia retak?!"


"Itu akan terjadi setelah Tuan menggunakannya untuk melawan sesuatu yang kuat. Biasanya benda ini hanya sekali pakai." (Lucfier)


PRANG!


Pedang sihir kemudian pecah, bersamaan ketika Lucfier mengatakan itu.


"Jadi begitu, benda ini memang berguna tapi tidak selalu bisa digunakan?" Aku menatap potongan pedang yang sudah menjadi puluhan bagian sambil menggelengkan kepala.


"Ya, seperti itulah Tuan. Kami juga memerlukan banyak uang untuk membuatnya." (Lucfier)


"Ngomong-ngomong berapa harga untuk satu benda ini?" (Lein)


"Seratus kurasa." Aku kemudian memiringkan kepala.


"Itu terlalu murah."


Jika saja itu tidak ditambahkan kalimat "Ribu", maka aku akan menggangap dia sangat-sangat murah.


"Ah, maksudku itu berada pada seratus ribu bukan seratus emas."


Aku terkekeh mendengar itu.


"Sungguh?! B-Betapa mahalnya dia!"


Yah, itu akan menjadi harga yang setimpal berkat kemampuannya yang bisa membuatku mengalahkan naga dengan mudah.


Tapi, sepertinya setelah aku menyadarinya, dia membuat aku mengkonsumsi banyak MP dan itu membuat kepalaku sedikit pusing.


"Aku akan memutuskan, mulai dari sekarang kau tidak boleh membuat ini lagi kecuali setelah kita benar-benar memiliki banyak uang." (Lein)


"Tentu saja Tuanku! Maafkan atas kecerobohan saya!" (Lucfier)


Ya, sudahlah ... Aku juga merasa tertolong dengan itu, jadi aku tidak bisa menyalahkan ini kepada Lucfier.


Lalu, seperti biasanya ... Setelah aku berhasil mengalahkan naga, aku akan mulai mengambil sesuatu dari tubuhnya.


Mengesampingkan soal itu, sepertinya aku harus menanggapi rasa keterkejutan dari puluhan orang yang menyaksikaku ketika bertarung.


"Aku tahu ini tidak akan cukup atas apa yang sudah kau lakukan, tapi, izinkan aku untuk mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya mewakili seluruh penduduk di desa ini."


Aku melihat, seseorang pria yang terlihat tua tapi ramah menundukan kepala kepadaku sebelum itu diikuti oleh yang lain.