
"Jadi, aku hanya memberikan satu pertanyaan kepadamu. Untuk apa kalian datang ke kastilku?"
Aku memeriksa leherku yang sudah mendapat kebebasan sebelum menjawab pertanyaan Undead tersebut.
"Bukankah sudah jelas? Tentu saja untuk mengambil senjata kuno dan buku ini!"
"Buku tentang bagian reruntuhan yang lainnya?" Undead tersebut menoleh ke tempat yang sama yang aku tunjuk.
Sekarang apa lagi? Aku pikir itu adalah buku sihir.
"Memang, ada semacam sihir disini. Tapi, aku akan bisa menyebut mereka sebagai mantra [Teleportasi] yang bisa membawamu pergi ke suatu tempat."
"T-tunggu! Teleportasi apa katamu?!"
Jika ini memang benar, bukankah aku bisa menjadi--
"Tapi sebelum itu bisa menjadi milikmu, katakan apa yang sebenarnya menjadi tujuanmu, lalu ayo kita selesaikan lewat ujian."
Dia menendangku sampai tersungkur ke lantai bawah.
"Awww ..." Itu menyakitkan, kau tahu? Tiba-tiba aku ditendang seperti itu dan tidak memiliki waktu untuk merespon.
Undead tersebut segera menuruni anak tangga setelah bangkit dari tempat duduknya begitupun dengan aku yang mulai mengambil sikap bertahan.
[Undead] | [Level 300]
"B-betapa tingginya?!"
Aku kemudian memandanginya dengan tatapan kosong, bersamaan ketika melihat tengkorak itu seperti mengeluarkan asap kehitaman dari tubuh.
Sekarang, kesempatan aku untuk menang hanyalah sedikit.
Melihat perbedaan level kami, kurasa dialah yang aku bisa sebut sebagai ... Hmmm? Tunggu, kenapa aku bisa mudah menyerah seperti ini?
"Oh ... Ternyata tidak berhasil, ya? Untuk skill [Intimidasi] ku." Undead melihat perubahan dalam ekspresiku yang sebelumnya murung menjadi marah.
Intimidasi? "Jadi kau menggunakan itu untuk membuat lawanmu menyerah?!"
Memang, tadi aku sempat merasakan tidak berdaya karena levelnya yang tinggi.
Tunggu, apakah itu termasuk dalam skill [intimidasi]?
"Ya, secara level aku memang tiga ratus, tapi sayangnya sudah lama sejak aku bertarung dan ini adalah sisa-sisa dari kesadaranku ketika aku masih hidup."
Aku melihat, dia memang manusia dan manusia sebelumnya.
Melihat tulang-tulang itu, aku merasa heran kenapa bisa ada manusia di dalam dungeon lantai dua ratus enam ini.
"Singkat cerita, kami melakukan sebuah penjelajahan yang menteleportasi kastil kami menuju tempat lain." (Undead)
"Ternyata manusia pernah melakukan itu?!" (Lein)
Undead menggangukan kepala. "Kau tahu, ini adalah bagian dari rasa penasaranku sejak lama, apakah ada kehidupan lain selain di dunia dungeon level nol. Dan aku menemukannya, sebuah sihir yang tidak sengaja membuatku terlempar ke tempat ini bersama dengan pengikutku."
Aku tidak pernah mendengar tentang ini sebelumnya, tapi bukankah aneh untuk mempercayai ceritanya.
Yah, aku tidak peduli tentang dia yang terlempar atau apalah yang berhubungan dengan kehidupannya, tapi satu hal yang akan membuat aku sangat tertarik adalah ... Tentu benda yang dipeganginya itu.
"Bukumu terlihat mahal, dan kau tadi mengatakan tentang bagian dari reruntuhan?" (Lein)
"Ya, begitulah. Aku melakukan kesalahan pada saat menteleportasi kastil ini dan menyadari kesalahanku yang membuat bagian-bagian lain dari pasukan menyebar, bukannya bersatu." (Undead)
"Jadi ada selain dirimu?"
Undead menggangukan kepala. "Mereka adalah pengikutku, kau tahu? Mereka memang terlempar, tapi tidak mati karena aku menyuruh mereka membeku dan tidur panjang di dalam kapsul, sampai seseorang membangunkan mereka."
"Apakah menggunakan sesuatu yang menyerupai mesin es?"
"Ohoho ... Tentu ... Kau ternyata mengetahui banyak."
Tapi, ketika mendengar tentang kapsul, bukankah ini hanya dunia fantasi yang ada sihir dan pedang? Mengapa ada bagian Sci-Fi?
"Baiklah, bagaimana jika aku membantumu mengumpulkan semuanya?" (Lein)
"Apakah kau memiliki kemampuan itu?" Aku melihat, undead tersebut mengamatiku dengan mata merahnya sebelum aku dengan yakin menggangukan kepala.
"Maka, tolong jawab pertanyaanku yang terakhir ini, tentang alasanmu kemari."
"Balas dendam." Aku dengan berani menatap mata merah makhluk itu dan pada waktu yang sama mengepalkan tangan.
Mata undead seperti menunjukan perubahan, meskipun aku melihat dia dalam ekspresi yang sama sebelum disusul oleh kalimat lain.
"Aku membutuhkan kekuatan untuk membalaskan dendam." (Lein)
"Membalaskan dendam? Ya, ummm ... Aku juga sama, ingin membalaskan dendam atas kegagalanku." (Undead)
Sebenarnya, aku tidak menyangka dia akan memperkenalkan diri.
Tapi dia kemudian mengatakan namanya adalah Mark, yang merupakan penyihir terkenal dari dunia jauh dari zaman ini, peradaban kuno lebih tepatnya.
Tidak tahu, apakah yang menjadi tujuannya setelah berhasil dalam misi pergi menjelajahi dunia baru.
Tapi aku mendengar beritanya, tentang dia yang mati karena alasan konyol bahkan sebelum bisa menjelajah.
Maksudku, efek dari sihir [Teleportasi] itu ternyata sangat berbahaya.
Pengguna akan mati begitu menggunakannya setelah disedot habis energi sihirnya.
Semacam MP yang diperlukan sangat besar dari yang dimiliki, dan itu sama saja dengan mengorbankan nyawa.
Lalu, untuk menyelamatkan pengikutnya yang lain, dia memang menyuruh mereka untuk membekukan diri.
Aku kali ini tidak tahu alasan pria ini menyuruh mereka melakukannya, tapi aku akan menggangap ini sebagai kesempatan untuk menambah bawahan.
"Ini adalah kesalahanku, jadi aku akan menyuruhmu untuk tidak pernah sekalipun menggunakan sihir yang berbahaya ini."
Dia memberikan buku itu kepadaku sebelum dalam kalimat terakhir itu berubah menjadi butiran debu.
"Tolong rawat mereka dengan baik, pengikutku."
Pasir itu kemudian terbang terbawa angin, dan lenyap, namun aku menemukan satu benda berkilau yang terjatuh.
"Ini adalah cincin?" Lalu, "Apakah sudah selesai?"
Kupikir demikian, jadi ... Aku menyimpan benda itu di saku sebelum dengan heboh menemukan sesuatu di pemberitahuan.
[Misi Berhasil] | [Mencari Artefak Kuno] | [+50.000.000 Emas]
"Aku kaya!"
Dan, bersamaan dengan itu, Layla mendatangiku dengan bahu yang naik turun.
"Tuanku, ada yang salah dengan para undead!" Dia menunjuk ke satu arah.
Aku melihat ke arah yang ditunjuk sebelum menemukan semuanya menjadi debu.
"Yah, singkat cerita aku berhasil lulus dalam ujian." (Lein)
"Maksud Tuan, tuan berhasil mendapatkan buku kuno?"
Layla terlihat antusias mendengar pernyataanku.
"Ya, begitulah. Tapi untuk pedang itu, aku masih belum menemukannya."
Tiba-tiba, ketika aku mengatakannya, buku terbuka dan berhenti pada lembar halaman tertentu sebelum mengeluarkan cahaya putih dan menunjukan sesuatu.