The Ultimate Principality System

The Ultimate Principality System
Chapter 14 - Pangeran Yang Kesal



"Tuanku ... Apakah kau baik-baik saja?" Aisha menemukan ekspresi wajahku yang mulai menunjukan perubahan seperti dendam akan suatu hal.


"Bagus-bagus ... Sepertinya kau melakukannya dengan baik, Raz ...!" Aku mengepalkan tangan dengan keras ke arah pembicara itu.


Aku yakin, Raz pasti yang sudah merencanakan ini dan sengaja memprovokasiku.


Mungkin saja, dengan mengumumkannya ke seluruh penjuru kerajaan tentang pernikahan itu akan membuat aku yang marah datang sendiri ke dalam istana dan melakukan hal yang bodoh seperti sebelumnya.


Itu akan menjadi rencana paling licik sekaligus cerdas yang pernah aku pikirkan.


Plus, mungkin saja aku akan mempertimbangkan untuk menghabisi bajingan tua itu secara perlahan dan membuatnya kesakitan.


Sekarang, aku sudah tidak bisa berdiam diri lagi melihat istriku yang mungkin menderita disana, di istana itu.


Bisa saja pernikahan benar-benar terjadi dan diadakan bahkan sebelum aku menjadi lebih kuat.


Aku berjanji hal tersebut tidak akan aku biarkan terjadi semudah itu selama aku masih hidup.


Jadi, dengan kasar aku menjatuhkan Aisha ke atas ranjang setelah kami memasuki penginapan kamar, dan tanganku menangkap sesuatu darinya lalu mulai merobek gaun atasnya yang ketat.


Aisha pada awalnya cukup terkejut dengan perlakuanku yang tiba-tiba menjadi sekasar ini.


Dia terlihat hanya diam menatapku tanpa berbicara.


Gadis ini terlihat ingin mengatakan sesuatu, tapi aku tidak memberikan dia waktu untuk melakukannya, dan dengan mulutku aku kemudian sudah melakukan sesuatu di bibirnya.


"Mmmm...."


"Nnnn ..." Kali ini, aku melakukannya dengan emosi yang meluap-luap dan agresif.


Berbuat ini dan itu dengan bibirnya berulang kali sampai dia benar-benar merasa cukup tertanggu ketika aku mulai melalukan hal yang lebih ekstrim.


Aku kemudian melakukan pemanasan dengan gadis itu selama beberapa menit sebelum tanganku bergerak cepat ke bagian pahanya yang lembut lalu perlahan menuju ke atas.


Aku tidak berniat memberikannya waktu untuk beristirahat, jadi dengan kasar aku merobek rok nya yang pendek itu lalu mulai menanggalkan pakaianku juga.


Aku mulai memasukan sesuatu milikku ke dalam tu buh Aisha, kali ini tanpa mengenal kata "lembut."


"MmmHhh ..." Berbagai macam suara terdengar keluar dari mulut gadis itu ketika aku melakukannya pada percobaan pertama, dan aku dengan cepat membuatnya mengeluarkan bunyi itu lagi ketika aku melakukannya berulang kali.


Aku terus melakukan itu sampai wajah Aisha terlihat agak berusaha untuk menahan sesuatu.


***


[Naik Level]


Ronde itu kemudian berakhir ketika sistem mengumumkan itu kepadaku.


Aku kemudian menjatuhkan diri ke tempat lain, membiarkan Aisha yang kelelahan mengambil nafas dalam.


Dan ketika aku sadar akan perbuatanku.


Ah, sial. Aku melakukannya lagi. Aku mulai menyesali diriku yang tidak bisa mengontrol emosi ini.


Tapi aku menggangap ini hal yang benar untuk bisa meningkatkan kekuatanku.


Dan, sepertinya aku harus membelikannya gaun putih ketat lagi. Tubuh putih gadis itu terlihat dengan jelas sekarang di mataku ini.


Sejujurnya, aku memang bisa melakukannya dengan tanpa merobek.


Tapi aku mulai menyadari suatu hal, ketika aku marah tangan ini bisa melakukan sesuatu tanpa persetujuanku terlebih dahulu.


Jadi, dengan aku yang mulai naik level, aku kemudian memeriksa untuk status Aisha untuk menemukan sesuatu yang berubah.


Nama: Aisha


Ras: Manusia


Usia: 16 tahun


Jenis Kelamin: Perempuan


Pekerjaan: Ksatria Pedang


Level: 10


Status:


HP [F] | MP [F] | Pertahanan Fisik [F] | Daya Tahan Sihir [F] | Kecepatan [F] | Kelincahan [F] | Serangan Fisik [F] | Serangan Sihir [F]


Skill:


● Peningkatan Level Lv 2: Membuat siapapun yang bersetubuh dengannya naik level dua tingkat.


● Salin: Dapat menyalin pengalaman dari seseorang yang bersetubuh denganmu.


 ---


"Jadi ... Itu sudah naik level, ya?" Untuk di bagian skill Aisha, aku mulai menemukan perubahan setelah kejadian tadi.


Sepertinya perlakuanku di ranjang akan menentukan cepat atau tidaknya gadis ini naik level.


Maksudku, jika aku melakukannya dengan agresif seperti ini setiap hari, itu akan secara perlahan bisa membuatnya untuk meningkatkan skill [Peningkatan Level] bukan?


Begitu aku memikirkannya lagi, bukankah masih ada 1 level lagi yang belum aku dapatkan.


Aku kemudian mempertimbangkan untuk memulai ronde lagi.


Tapi aku tidak bisa membuat Aisha yang masih merasa cukup terkejut bertambah rasa keterkejutaannya lagi.


Jadi aku mengakhiri untuk ronde malam itu.


Tidak tahu kenapa, tapi aku merasa ini yang terbaik untuk kami.


Malam kemudian berganti menjadi pagi bersamaan ketika mataku mulai terbuka.