The Ultimate Principality System

The Ultimate Principality System
Chapter 18 - Pangeran Yang Mencari Informasi



Sementara, setelah seharian mengambil quest.


Aku memutuskan untuk pergi ke guild untuk mendapatkan cap yang menyatakan kami berhasil mengalahkan orc.


Meskipun itu tidak termasuk rencana, yakni melawan tujuh monster sekaligus.


Tapi, kami berhasil melewatinya dengan sedikit keberuntungan.


Aku bertanya-tanya, apakah [Keberuntungan (Lv S)] ku yang membantuku selamat dari situasi tersebut?


Ketika aku memikirkannya, tanpa sadar kami sudah berjalan dan sampai di depan penginapan.


"Sepertinya aku sudah bisa memanggil bawahan lagi."


Aku rasa itu cukup cepat jika yang menjadi lawan kami adalah orc.


Maksudku, mereka menghasilkan banyak medali ketika aku mengalahkan mereka.


Dan, itu menjadi cukup mudah. Aku hanya perlu mengalahkan mereka sebanyak 10 saja dan itu sudah membuatku memiliki 1000 medali.


Lalu, kemudian, aku berfikir untuk menanyakan pendapat Lucfier tentang menambah bawahan lagi.


Sementara itu.


Aku kemudian menemukan sebuah restoran tidak jauh dari lokasi penginapan kami, dan tanpa pikir panjang aku langsung memasukinya dan menuju ke tempat pemesanan.


"Aku memerlukan bantuanmu, pak tua."


Di depan seseorang yang sepertinya adalah pemilik restoran tersebut, seorang pria paruh baya dengan mata tajamnya menemukan aku meletakan emas dalam jumlah beberapa ratus di atas meja.


"Aku akan menambah menjadi seribu jika itu kurang." (Lein)


"Aku akan mendengarkan permintaanmu, tuan." Dia mengambil koin-koin emasku yang sekarang berjumlah 1000.


Bagus, aku sudah menduga ini akan bekerja.


Maksudku, seperti yang ada pada kebanyakan restoran, aku menemukan bahwa tempat tersebut merupakan lokasi yang bagus untuk mencari informasi.


Dan, mungkin orang ini sudah berpengalaman dalam hal itu.


"Aku hanya ingin mengetahui, bagaimana perkembangan rencana pernikahan antara Tuan Putri Ranee dengan ..." Aku benci untuk mengatakan nama calon mempelai pria tersebut, tapi aku yakin pria paruh baya tersebut menangkap apa maksudku.


"Kabar dari pelanggan, mereka berkata pernikahan akan terjadi dalam waktu satu atau dua minggu bahkan termasuk satu bulan lagi, tergantung situasi." (Pria Paruh Baya)


"Maksudmu?" (Lein)


"Yah, anda tahu bukan? Pernikahan itu akan mengundang kemarahan dari Raja Palos. Dan, ini sepertinya akan menjadi konflik jika sampai Raja Baru kita serius menjadikan Tuan Putri itu sebagai alat negosiasi."


Itu akan menjadi masuk akal untuk Raja Palos melakukan serangan ke Xercia lagi menggunakan alasan tersebut.


"Apakah kau bisa memberitahuku siapa Leon itu?" (Lein)


"Hanya anak dari mantan perdana menteri. Tidak lebih, tapi aku mendengar bahwa dia sering terlihat berada dirumah bordil." (Pria Paruh Baya)


"... Maksudmu ..."


"Dengar, tuan. Lebih baik anda tidak berusaha untuk mencari tahu. Aku juga tidak menjamin apakah informasi ini memang benar, tapi kabar dari seseorang kenalanku menyebut anak itu lumayan sering gonta-ganti wanita."


Ah, sudah aku duga.


Ternyata ayah dan anak memang mempunyai sifat yang sama.


Aku kemudian menggangukan kepala dan memesan sesuatu setelahnya.


"Oh, iya. Apakah kau bisa memberikanku minuman sedikit?"


"Tentu, tapi aku akan meminta bayaran untuk itu."


Aku kemudian menggangukan kepala dan menegak seauatu yang berwarna merah dari satu cangkir gelas kecil sambil menatap ke arah atas.


Pemilik restoran yang kemudian mengelap cangkir gelas minumanku yang kosong kemudian menatapku agak lama sebelum dia kembali bekerja.


Kemudian, aku memutuskan kembali ke penginapan.


Setelah aku memesan kamar lagi di penginapan dan makan sesuatu.


"Bagaimana dengan perlengkapanmu, Aisha? Apakah ada yang rusak?" Aku memang menemukan ada bekas goresan di zirah gadis itu.


Aisha yang tadinya hanya diam menyantap makan malamnya kemudian mencari apa maksud dari perkataanku.


"... Sepertinya ini hanya kerusakan ringan." Gadis itu menyentuh dadanya yang kemudian sedikit terangkat.


Oh, ketika aku melihatnya, tanpa sadar mataku justru menatap bagian yang terdapat dua gunung tersebut.


"Mmmm ... Sepertinya Lucfier belum memberikan laporannya." Aku kemudian mengalihkan pikiranku ke topik lain sambil menggelengkan kepala.


"Oh ... Tentang laki-laki itu."


Hm? Ada apa?


Seperti aku menemukan Aisha yang ingin mengatakan sesuatu untuk mengkomentari perkataanku tersebut.


Tapi, pada akhirnya dia hanya menyimpannya untuk seorang diri ketika aku menanyainya.


Kami kemudian pergi ke kamar kami setelah selesai dengan urusan makan.