
"Sekarang, kau sudah menjadi bagian dari kontrak ku."
"Ya, tentu ..."
Ular kemudian seperti bernafas lega setelah aku menghentikan rentetan serangan api ku yang membuat kebakaran di tubuhnya.
Sementara, untuk kontrak aku akan menyebut ini berhasil membuat dia menjadi semacam bawahanku.
Tapi biaya yang dibutuhkan untuk menjadikan dia bawahan tidaknya sedikit.
Aku harus mengeluarkan 16 ribu untuk bisa melakukannya, dan itu termasuk jumlah yang bisa memanggil enam belas bawahan, kau tahu?
"Ngomong-ngomong ... Emmm ..." (Ular)
"Lein, kau bisa memanggilku begitu." (Lein)
Aku kemudian fokus pada hal lain sementara Ular menstabilkan suhu tubuhnya yang masih panas dengan berenang di dalam sungai, sebelum muncul sebuah cahaya terang dihadapanku.
"Izinkan saya melayani anda, Tuanku. Namaku adalah Layla. Tolong perlakukan saya dengan baik."
Ada seorang gadis berambut pirang sekarang berada dihadapanku.
Wajahnya terlihat manis lalu dengan kulit yang berwarna putih bersih.
Dia memakai senjata tombak tapi dengan perisai berbentuk bundar.
Menurut penampilan, dia setidaknya lumayan untuk lekukan tubuh.
Lalu, memakai gaun putih di atas dengan rok di bawah.
Tapi aku bisa mengatakan itu tidak seketat yang dipakai oleh Aisha.
Justru di bagian pahanya tertutupi oleh kaus kaki putih yang panjang sampai ujung kaki, juga dilengkapi oleh baju zirah yang melindungi sebagian besar area tubuhnya.
Nama: Layla
Ras: Manusia
Usia: 16 tahun
Jenis Kelamin: Perempuan
Pekerjaan: Ksatria Tombak
Level: 20
Status:
HP [F] | MP [F] | Pertahanan Fisik [F] | Daya Tahan Sihir [F] | Kecepatan [F] | Kelincahan [E] | Serangan Fisik [F] | Serangan Sihir [F]
Skill:
● Tameng: Ketahanan perisai bertambah menjadi 10% setelah skill diaktifkan
● Menusuk: Peningkatan 5% untuk serangan tombak.
---
Tidak ada sesuatu yang spesial, tapi aku akan menggangap dia sudah level 20 meskipun ini berbeda ketika aku memanggil Aisha sebelumnya.
"Siapa dia, Lein?"
"Rekan baru kita, Layla."
Aku memperkenalkan gadis tersebut kepada ular.
"Ngomong-ngomong, aku belum mengetahui namamu."
Menurutku, akan terasa aneh jika aku terus memanggilnya "ular" karena kami sudah rekan sekarang.
"Jadi, apakah kau bersedia memberikanku nama?"
"Kau benar tidak memiliki nama sebelumnya?!"
Untuk seekor ular yang besar dan kuat sepertinya bahkan belum memiliki itu?
"Apa saja, yang penting itu kuat."
"Tunggu sebentar, aku sedang memikirkan sesuatu."
Ular kemudian memandangiku sambil memiringkan kepala dan menunggu kepalaku untuk menemukan ...
"Vargha ... Bagaimana dengan itu?"
Dia mematung selama beberapa detik setelah mendengar pertanyaanku sebelum menggangukan kepalanya.
"Lumayan, aku menyukai itu."
Aku tersenyum melihat ular ... Eh, maksudku Vargha yang sungguh senang karena aku memberinya nama.
Lalu, setelah aku selesai melihat Vargha yang sedang mencoba membiasakan diri dengan nama barunya, aku mendadak merasakan sesuatu disekelilingku berputar sebelum ...
***
"A-Tuanku ... Kau sudah bangun."
Ketika mataku terbuka, aku melihat wajah seseorang berada di depanku sekarang yang melihat ke bawah.
Tunggu, jadi tadi aku pingsan, ya?
Apakah itu karena efek memberikan nama pada seekor monster?
"Ah, ummm ... Tuan, jangan terlalu banyak bergerak."
Aku tidak bisa berhenti memikirkannya.
Sementara gadis ini seperti gelisah akan sesuatu, aku justru merasa sangat empuk di bagian yang menjadi bantal tempat kepalaku tidur.
Itu sungguh empuk, bahkan melebihi yang ada di penginapan kota itu.
Aku tidak bisa berhenti untuk menikmatinya, itu sungguh sangat-sangat nyaman.
"Emmm ... Pahaku."
"Jadi aku tidur di pahamu?!"
Layla menggangukan kepala.
"Maaf."
Layla segera memperlihatkan wajah semerah tomat, dan itu membuatku secara reflek bangkit dari tidur siang.
"Tidak masalah, Tuan boleh melakukan ini ... Aku tidak keberatan."
Sungguh, jika aku tidak dalam situasi yang membingungkan, maka aku akan lebih memilih tidur sekarang.
Tapi, karena kami sekarang berada di lantai 205, itu berarti ada banyak monster selain Vargha disini bukan?
"Ah, kau tidak perlu khawatir Lein. Aku sudah menghabisi yang menjadi penggangu, bisa dibilang aku adalah penguasa di bagian darat gua ini." (Vargha)
"Jika kau di bagian tersebut, berarti sungai adalah wilayah ..." (Lein)
"Memang, mereka tidak sepenuhnya berada dalam kendaliku. Untuk memastikan aku bisa makan dengan cukup, maka aku akan membiarkan ikan-ikan kecil itu berkembang biak."
Aku yang sebelumnya berniat untuk menceburkan diri ke sungai, perlahan mengurungkan niat setelah Vargha memperlihatkan ratusan ikan yang aku kenali sebagai piranha hidup disana, dan jumlah mereka terus meningkat setelah semakin teliti aku melihat.
"Tunggu, kenapa aku tidak menjadi santapan ikan sebelumnya?"
Vargha menggelengkan kepala. "Mana aku tahu, mungkin karena keberuntungan."
Eh, kenapa aku merasa dia sedang berusaha untuk mengingatkanku akan level keberuntunganku yang S itu.
"Mengesampingkan soal itu, Lein apakah kau berniat memanen mereka satu?" (Vargha)
"Maksudmu kau menyuruhku untuk menyelam?!" (Lein)
Ini konyol, aku tidak berniat dijadikan makanan oleh ikan-ikan ganas tersebut dan tidak ingin menjadi menu makan siang mereka.
"Ah, ayolah. Kau perlu meningkatkan level, bagaimana dengan mengalahkannya satu? Kupikir levelmu akan bertambah."
"Bisakah begitu?"
Aku yang masih ragu kemudian memutuskan akan melakukan yang terbaik jika sebagai gantinya adalah kekuatan.
"Dengar, kau adalah bagian dari kontrak ku. Tentu aku tidak berniat melayani Tuan yang lemah. Jadi kau mengerti bukan, tentang aku yang ingin meningkatkan levelmu dan membuatmu terlihat layak menjadi Tuanku?" (Vargha)
Aku menggangukan kepala.
Dia berkata benar.
Aku tidak boleh lebih lemah dari bawahan.
Minimal bisa setara dengannya.
"Bukan setara lagi, tapi melebihi levelku. Aku sudah memutuskannya, karena kau sudah menyerahkan banyak MP mu untuk membuatku berevolusi."
"Tunggu, jadi ketika memberikan nama, ular akan berevolusi?!"
"Ya, begitulah. Aku memang belum melakukan evolusi, tapi aku berniat untuk menunjukan perubahanku setelah kau berhasil mengatasi para piranha."
"Satu bukan?"
Jika memang hanya satu, aku akan berusaha.
Kita lihat, seberapa kuat mereka di dalam air.
[Piranha] | [Level: 105]
"Ugh, terlalu ..."