The Ultimate Principality System

The Ultimate Principality System
Chapter 52 - Undead



[Undead] | [Level: 200]


"Oi, oi ... Yang benar saja?!"


Aku melihat, sudah ada puluhan mayat hidup yang mengelilingi kami, dan mereka semua bersenjata pedang dan tombak.


"Manusia ... Apa yang kalian lakukan di dalam kastil Tuanku ini?" Aku mendengar salah satu tengkorak mengeluarkan suara sebelum itu menjadi suara berikutnya. "A-Bagaimana aku bisa lupa bahwa tujuan kalian datang adalah untuk mengambil senjata kuno."


"Senjata kuno?"


Aku tidak tahu apa yang mereka sebut sebagai "senjata kuno" itu.


Tapi melihat bagaimana cara mereka mengatakannya, aku bisa bilang itu cukup istimewa.


Mataku kemudian menoleh ke arah Layla sebelum aku berdiri di belakangmya dan memulai BOM! Di depan yang menerobos barisan mayat hidup.


"Tidak! Tidak akan aku biar-"


Aku melihat salah-satu dari mereka berisik, jadi aku menebas mereka.


"AaaRrrGggHhh!"


Namun, seperti yang aku takutkan ketika melawan undead, mereka bisa pulih dari tulang-tulang yang sebelumnya hancur berantakan sekarang tersusun rapi membentuk tubuh semula.


"Mungkin aku harus mempelajari sihir cahaya untuk melawan mereka."


Ya, setidaknya begitulah yang aku tahu dari dalam game.


Mereka lemah dalam mantra jenis tersebut.


Namun, sayangnya aku tidak memiliki skill tersebut dan belum bisa menggunakannya.


[Misi: Mencari Artefak Kuno] | [Hadiah: 50.000.000 Emas]


Aku menggangukan kepala dan sedikit terkejut.


Jadi aku bisa menggangap senjata kuno adalah benda yang paling dilindungi di kastil ini sekarang.


Tapi, tetap saja.


Melawan mayat hidup ternyata cukup merepotkan, aku harus melakukan sesuatu untuk bisa mengalahkan mereka semua.


"Tombak Cahaya!"


Tanganku bergerak ke arah para undead, dan itu tidak mengeluarkan lingkaran sihir atau apapun yang bisa disebut sebagai mantra.


Bahkan, ketika aku benar ketika melantunkan mantra tersebut, dia tidak memunculkan tombak sihir seperti yang aku pikirkan.


"Ini tidak berguna!"


Kurasa aku memang harus mendapatkan skill sihir cahaya sebelum melanjutkan penjelajahan disini.


"Tuan, bagaimana sekarang?"


Aku memikirkan tentang kemungkinan terburuk ketika para mayat hidup sudah mengepung kami untuk yang kedua kalinya.


"Manusia ... Katakan apa tujuanmu?" (Undead)


"Aku hanya kebetulan lewat." (Lein)


Undead itu terkekeh.


"Mustahil ada yang memasuki kastil hanya karena pemasaran." (Undead)


Hmmm? Sepertinya aku bisa mengganggap ini sebagai alasan.


"Ya, begitulah. Aku tertarik dan kagum dengan model bangunan ini. Lalu, aku tidak tahu ternyata ada senjata kuno yang disimpan disini." (Lein)


"Jadi kau benar-benar tidak mengetahuinya?" (Undead)


Aku menggelengkan kepala, dan tengkorak mulai memperhatikan temannya satu per satu.


"Itu adalah semacam pedang legendaris dan buku sihir kuno." (Undead)


"Lalu, dimana mereka disimpan." Aku kemudian menanyakan itu kepada sistem, karena tidak mungkin mereka akan memberitahuku.


Kali ini, aku mungkin harus meminta bantuannya untuk aku bisa menyelesaikan masalah ini.


[Di ruang tahta]


Aku tertawa keras sebelum membuat Layla melakukan terobosan sekarang!


Sebelumnya, aku tidak menyangka para mayat hidup ini bahkan membocorkan salah-satu hal yang paling penting yang akan mereka sesali, yaitu gambaran tentang benda yang mereka lindungi.


"Kau ... Dasar penipu ..."


Mengabaikan undead yang mengejar kami dendam.


Sekarang, aku sudah berada di depan sebuah ruangan dengan pintu ganda besar.


"Aku pikir ini adalah kamar tahta."


Karena mereka berbeda dari pintu-pintu sebelumnya, aku akan langsung masuk ke sana setelah KABOM!


Menghancurkan pintu lalu berlari ke dalam dan melihat seseorang dengan jubah hitam duduk di atas kursi sambil memegangi sesuatu.


"Itu pasti adalah buku sihir suci yang dimaksud. Ah, gawat."


Aku hampir lupa menutup pintu di belakangku, tepat ketika para undead sudah ada di depan sana.


Setelahnya, terdengar berbagai macam suara tabrakan di luar. Aku pikir itu adalah perbuatan para undead.


Mengabaikan soal mereka, kami perlahan menuju ke kursi singgahsana.


Disana memang ada buku, namun aku tidak menemukan tanda-tanda keberadaan pedang legendaris yang dimaksud, kemudian ... Disamping kanan dan kiri kami ada dua patung ksatria besar yang mulai bergerak ke arah ... Em?


[Ksatria Mayat Hidup] | [Level 220]


Mereka memang berukuran tubuh dua kali lebih besar dari kami, dan terlihat cukup kuat juga.


Seluruhnya, hanya ada zirah yang aku temukan, dan sepasang bola mata merah di bagian kepala.


"Gawat ..." Aku berfikir ini pasti akan terjadi.


Ini adalah lokasi buku kuno berada, jadi tidak heran mereka begitu melindungi kastil.


Aku kemudian menoleh ke arah Layla, kali ini gadis itu terlihat menggangukan kepala.


"Tenang Tuan, saya akan menjadi perisai anda, sementara kau bisa mengambil yang ada disana."


Aku menoleh setuju.


Karena, menurut pendapatku, jika di sana memang ada buku sihir, aku berharap mereka adalah sihir cahaya.


Namun, mempertimbangkan bahwa kastil ini dipenuhi oleh para undead, ada kemungkinan lima puluh persen itu sihir gelap.


PANG!


Pedangku kemudian beradu dengan perisai undead knight sebelum aku mencoba untuk memukul helm nya yang keras.


"Ugh ..." Itu bahkan membuat tanganku memerah.


Tapi, sepertinya dia bergetar ketika aku melakukannya.


Ksatria mulai menunjukan perubahan seperti memperbaiki helm besi nya yang terpasang longgar.


Aku melihat itu dan ternyata bagian kepala adalah paling aku harus targetkan, minimal membuat bagian itu tidak bisa melihat dengan benar, seperti memutar helm yang ada dua warna merahnya sampai ke belakang.


Dia kemudian berjalan dengan tidak seimbang sambil sembarangan mengayunkan pedang dan perisai.


Tapi aku akan dengan mudah merampas senjata dia sebelum mayat hidup ini melakukan serangan lagi.


Nmun aku tidak melakukannya dan berlari ke arah tahta, sampai ada satu ksatria yang sebelumnya disibukan oleh Layla pergi untuk menghalangi.


"Tidak akan aku biarkan ... Mengaktifkan kemampuan tombak [Menusuk]!"


"Arghh!"


Undead itu terjatuh setelah Layla melemparinya dengan senjata, aku tidak akan membuang kesempatan ini untuk bergerak lebih jauh, dan menendang monster dihadapanku sebelum mencapai tahta.


Ketika aku mengambil buku dari tangan seseorang disana.


"Siapa kau?" Tubuhku seperti merinding sendiri, tangan orang itu yang dingin sudah berada pada leherku dan sepertinya dia juga mayat hidup.


"Kau ... Lepaskan ... Dulu ..."


"Oh, maaf ... Aku terlalu terkejut melihatmu."