The Ultimate Principality System

The Ultimate Principality System
Chapter 6 - Pangeran Yang Mengobati Anak Yang Terluka



"Ummm ... Siapa anda?" Ketika dia sadar, itu adalah pertanyaan pertama yang aku temukan dari gadis itu.


"Hanya seseorang yang kabur dari istana. Namaku adalah Lein." Yah, sebagai perkenalan saja, aku kemudian jujur di bagian pangeran itu.


"Apa ... A-Anda adalah yang mulia pangeran?!" Sistine tentu kaget mendengar itu.


Aku bertanya-tanya kenapa dia dengan mudah mempercayainya?


Masuk akal jika dia menggangap perkataan penolongnya benar.


Tapi setidaknya dia harus memiliki batasan untuk mempercayai sampai mana.


Yah, aku tidak mempedulikan lagi dengan tatapan terkejut gadis ini dan hanya melakukan yang seharusnya.


"Ini ..." Aku memberikannya daging serigala yang sedikit di bakar. "Memang rasanya mungkin agak aneh karena tidak ada bumbu, tapi hanya itu yang aku punya sebagai makanan."


"Ah, oh ..." Ekspresi Sistine masih menegang karena pembicaraan ini.


Mungkin melihat sikapnya, bisa dikatakan dia mendekati pemalu atau sejenisnya.


Aku kemudian berdiri untuk menjelaskan tujuanku yang sebenarnya.


Sederhana saja, itu hanya perkataan untuk menegaskan akan suatu hal.


"Jadi Yang Mulia Pangeran berniat menuju ke kota terdekat." Serius? Dia bahkan masih memanggilku begitu?


"Begini Sistine ... Aku akan lebih terbantu jika kau memanggilku dengan namaku saja, Lein." Aku mengatakan itu.


Setidaknya, aku tidak ingin terlalu cepat dilacak keberadaanku oleh prajurit Kerajaan Xercia karena salah dalam hal perkenalan.


Dan, aku bahkan tidak tahu berada di wilayah kerajaan mana sekarang.


Sistem tiba-tiba melemparku ke dalam hutan tidak jelas.


Dan yang lebih parah dia tidak pernah memberitahuku detail lokasi setelahnya.


"Baik ... Yang ... Ah, Tuan Lein ..." Aku menggangukan kepala, sepertinya gadis ini harus mulai membiasakan diri dengan panggilan nama tersebut.


Lalu, karena dia sudah pulih. Aku segera bangkit dari tempat itu dan menuju ke suatu tempat.


"Oh, aku tidak akan lama ... Kau bisa duduk disana dan menungguku kembali." Sistine berhenti mengikutiku dan menundukan kepala karena perkataanku itu.


"Ano, bisakah Tuan Lein mengajakku ikut?"


Aku tidak mengerti dengan maksud perkataan anak ini.


Tapi jika mempertimbangkan resiko, itu seperti ada benarnya juga.


Tidak aman membiarkannya sendirian dengan tubuh yang masih terluka.


Aku sendiri sebenarnya masih ragu untuk mengajaknya karena mempertimbangkan betapa berbahayanya wilayah ini dan juga monster yang menghuninya.


"Dengar, aku tidak suka kau menjadi beban."


"Ah, tenang saja. Aku akan bersembunyi dan melihat pertarunganmu dari kejauhan." Baik, sepertinya itu adalah ide yang bagus.


Dengan begini kami berdua pergi untuk berburu monster.


Kali ini ada beberapa serigala yang terlihat disana.


"Baik, karena dia sudah berada pada jarak yang tidak terdeteksi." Aku dengan pedang ditanganku mendatangi para serigala dan dengan senjata ini aku menebas salah-satunya.


Serigala melompat ke arah ku dari samping kanan, aku memberikannya pukulan yang menghempaskan.


Sementara untuk di bagian kiri, aku dengan santai mengambil gerakan sederhana untuk menghindar dan menusuk.


[+100 emas] | [+2 medali]


[+100 emas] | [+2 medali]


"Tinggal dua lagi ..." Yup, mereka penuh dengan luka, tapi aku juga demikian.


Bisa dibilang kita sama-sama dalam kondisi terluka. Namun, yang menjadi perbedaannya adalah jumlah yang didapat.


Dua serigala itu berhenti bergerak untuk selama-lamanya setelah goresan yang merobek itu.


[+100 emas] | [+2 medali]


[+100 emas] | [+2 medali]


[Bonus \= +1000 emas dan 100 medali]


Wow, apa-apaan?


[Menjelaskan, itu adalah hadiah tambahan yang kamu dapat dari hasil berburu. Bisa dibilang, jika master sering mengalahkan monster, maka itu akan membuatmu menghasilkan hadiah medali dan emas.]


"Jadi seperti itu juga termasuk bisa menghasilkan banyak?" Sekarang aku sudah tidak punya alasan lagi, bukan? Untuk melewatkan setiap pertarungan dengan monster.


Setelah aku kembali ke tempat Sistine, dia menatapku tidak percaya dan menoleh ke arah mayat serigala.


"Mereka benar-benar mati, apa Tuan Lein benar-benar sekuat itu?" Sistine menanyakannya sambil menyentuh-nyentuh serigala yang tergeletak di tanah.


"Tidak, aku masih perlu meningkatkan kemampuanku lagi." Dan, sepertinya itu akan memakan waktu cukup lama.


Aku kemudian menyelesaikan urusanku untuk memanen tubuh serigala itu sebelum membawa mereka yang sudah terpotong-potong.


Ngomong-ngomong, sepertinya kami sudah tidak memiliki waktu sekarang untuk menunda-nunda perjalanan menuju kota.


"Oh, kota terdekat berada di wilayah utara sana. Ada wilayah yang bernama Kathalan, nama kota itu."


"Tunggu ... Apakah ini masih dalam wilayah Kerajaan Xercia?" Seolah-olah bingung dengan pertanyaanku. Sistine mengganguk pelan.


"Mohon maaf jika perkataanku lancang, kenapa Yang Mulia bisa berada di hutan?" Aku memasang senyuman agak canggung mendengar pertanyaan itu.


Yah, jika harus menjawabnya, aku sebenarnya tidak ingin mengatakannya bahwa aku bersiap untuk melakukan serangan ke Raja Baru kerajaan itu dan membocorkan rencana.


Memang, itu agak aneh untuk mengatakannya, bahwa pangeran sepertiku bisa ada di dalam hutan bukan di istana.


"Bisa dibilang, ini adalah bagian dari urusan penerus tahta." Aku menggaruk kepala sambil memalingkan muka ketika menjawabnya.


"A-Jadi begitu ... Yang Mulia Raja pasti memerintahkanmu berlatih di hutan supaya menjadi kuat bukan?" Sistine mengganguk-angukan kepala.


Aku membiarkan dia percaya dengan itu semua.


Nah, dengan begitu kami bisa pergi ke yang mamanya Kota Kathalan itu sekarang.