The Ultimate Principality System

The Ultimate Principality System
Chapter 19 - Pangeran Yang Membangun Desa



Sudut Pandang Lucfier


Aku berjalan ke sesuatu yang aku lihat sebagai reruntuhan.


"Ohoho ... Sepertinya terjadi hal yang menarik baru-baru ini."


Tuanku memang mengizinkan aku berbuat sesuatu sesuai dengan keinginanku, jadi aku mungkin akan mengambil keuntungan dari desa yang hancur ini.


"Kamu adalah ..." Seorang pria paruh baya menatapku dengan mata yang terlihat kosong, dan tidak lama jumlah orang yang menolehku meningkat setelah aku memasuki desa lebih dalam lagi.


Aku menggangap itu sebagai sebuah kesempatan untuk menarik perhatian orang-orang.


"Semuanya ... Mendekatlah ke arahku." Aku mengatakannya dengan suara keras sehingga orang-orang yang berada cukup jauh dariku masih bisa mendengarnya dengan jelas.


"Ada apa ... Tiba-tiba saja kau memanggil kami. Dan, oh, apakah kamu iblis?!" Seorang pria menunjukan keterkejutannya.


"Aku memang iblis dan iblis. Tapi, apakah itu adalah masalah?" Tanyaku sambil tersenyum lebar. "Bukankah yang kalian perlu khawatirkan sekarang adalah tentang kondisi desa ini? Maksudku, aku melihat semuanya tampak kacau disini dan kalian pasti akan kesulitan untuk hidup setelahnya, bukan?"


"Memangnya kami harus mendengar omongan iblis sepertimu?" Salah-satu pria membentak ke arahku.


Aku sudah menduga ini akan terjadi, maksudku, manusia dan iblis memang memiliki hubungan yang cukup rumit di dunia ini.


"Bagaimana jika aku membantu kalian mendapatkan tempat tinggal yang layak?" Dan dengan satu kalimat itu.


"Tunggu, apakah kau mengatakan akan menampung kami sebagai pengungsi?" Aku menggangukan kepala mendengar pertanyaan kakek tua itu.


"Kalian tahu, naga yang membakar desa kalian sudah dihabisi oleh seseorang yang adalah Tuanku."


"Maksudmu monster itu sudah dikalahkan?!" Mereka, para penduduk desa itu terlihat senang akan hal itu.


Tapi di satu sisi tentu aku melihat ada beberapa yang tidak percaya.


Aku kemudian menunjukan sesuatu kepada mereka yang menggangap perkataanku omong kosong, yang segera membuat semuanya terkejut.


***


Di dalam kamar.


Aku memasukinya dan menemukan seseorang yang cantik sudah berada di hadapanku.


Aisha yang melepaskan zirahnya melanjutkan untuk menanggalkan pakaiannya yang lain ketika aku sudah berada di dekatnya.


Mataku melebar selama beberapa detik sebelum gadis itu tiba-tiba menatapku dengan bola mata indahnya.


Sebelumnya, aku hanya bisa melihat lekukan tubuh gadis itu ketika menggunakan pakaian. Tapi kali ini mataku sudah menangkap semuanya ketika tubuhnya tidak tertutupi oleh sehelai benang pun.


Aku kemudian mendorong gadis itu ke ranjang setelah dia mengatakan, "Silahkan Tuanku." Lalu perlahan membuatnya berada dalam posisi tubuh tertidur sementara aku berada di atasnya.


Mata kami kemudian saling bertemu.


Karena dia hanya diam, aku berinisiatif untuk mencuri sesuatu darinya terlebih dahulu.


Bayangan kepala kami kemudian menyatu selama beberapa saat.


"Aku tahu kau pasti sudah mengetahui ini, Aisha. Tapi, aku akan mengatakannya sekali lagi, bahwa mulai dari sekarang mungkin aku tidak akan bersikap sama seperti pada saat kita melakukannya pertama kali."


Aisha kemudian menggangukan kepala untuk menjawab pertanyaanku.


"Aku tahu itu, Tuan. Iblis itu juga mengatakan hal yang sama." (Aisha)


Lalu, Aisha hanya menatapku diam ketika dia selesai mengatakan itu. Dan, sepertinya Aisha terlihat sudah siap untuk kemungkinan tersebut.


Aku kemudian meraih pergelangan tangan Aisha untuk mulai memasukan sesuatu pada miliknya, yang segera membuatnya mengeluarkan berbagai macam suara kecil.


[Next Level]


Pada ronde pertama, itu hanya mampu meningkatkan satu level. Namun, aku yakin itu akan muncul setelah aku melakukannya dengan lebih agresif lagi.


[Next Level]


Meskipun itu sudah selesai, yaitu mendapatkan peningkatan level, tapi aku yang menginginkan skill gadis ini meningkat melakukannya lagi dan lagi.


Bisa dibilang, aku bekerja dengan keras pada malam tersebut.


Dan, itu akhirnya berhenti setelah beberapa jam berlalu, bersamaan ketika matahari mulai menampakan diri.


***


"Ahaha ... Tuanku memang hebat! Kau bahkan sudah mengumpulkan seribu medali secepat ini." (Lucfier)


Dan Lucfier hanya menatapku selama beberapa waktu sebelum dia sambil memperbaiki posisi kacamatanya menegaskan suatu hal.


"Menurut penilaianku, selama ini Tuan pasti selalu mendapatkan bawahan yang istimewa bukan? Ah, maksudku adalah gadis itu. Dia memang cukup unik karena memiliki skill Peningkatan Level tersebut."


"Ya, memang ... Tapi aku merasa itu hanya kebetulan."


"Aku pikir itu tidak sesederhana seperti yang anda pikirkan. Mungkin keberuntungan level S mu yang membuat itu masuk akal, Tuan."


"Ya, kau mungkin benar."


Aku merasa keberuntunganku mendapatkan Aisha mungkin karena itu, lalu, ketika memanggil Lucfier juga.


"Jadi ... Mengapa Tuan ragu ketika anda memiliki keunggulan seperti ini?"


Aku kemudian menggangukan kepala lalu mengatakan sesuatu pada sistem.


Dia segera membalasnya dengan memberikanku pemberitahuan seperti [-1000 Medali] berkurang atau semacamnya, yang kemudian disusul oleh kemunculan seseorang pada sebuah lingkaran sihir.


"Senang bisa bertemu dengan anda, tuanku. Anda bisa memanggilku dengan namaku, Rokie." Aku kemudian mendengar sebuah suara berat yang diucapkan dari orang ini.


Dia adalah laki-laki yang terlihat berusia tua dan juga berkumis dengan janggut yang panjang.


Tapi yang membedakannya adalah, jika Lucfier terlihat tinggi menurut penampilan, sebaliknya, Rokie terlihat bertubuh pendek dengan kepalanya yang terlihat lebih besar.


Nama: Rokie.


Ras: Dwarf


Jenis Kelamin: Laki-Laki


Pekerjaan: Tukang


Level: 1


Status:


HP [F] | MP [F] | Pertahanan Fisik [F] | Daya Tahan Sihir [F] | Kecepatan [F] | Kelincahan [F] | Serangan Fisik [F] | Serangan Sihir [F] Kelihaian [S]


Skill:


● Penempa: Membuat senjata dengan kualitas terbaik.


● Arsitek: Bisa membangun rumah secara instan meskipun pekerjaan utamanya adalah penempa senjata.


 ---


"Tuanku ... Sepertinya kita sudah menemukan yang kita cari." (Lucfier)


Aku menggangukan kepala.


"Kau benar. Dan, Apakah kau bisa membantuku membuat sesuatu yang besar, Rokie?" (Lein)


"Maksudmu rumah, Tuan? Tapi aku akan mengatakan itu membutuhkan biaya yang cukup besar tergantung jenis yang Tuan minta." (Rokie)


Aku kemudian menyerahkan bagian itu kepada Lucfier dan dia menerima itu tanpa penolakan.


"Sekarang, kita sudah bisa membangun desa. Adakah tempat yang mungkin cocok untuk menjadi lokasi didirikannya ibu kota, Tuanku?" Lucfier mengatakan sesuatu yang segera membuat aku terkejut.


"Tunggu, apa? Sejak kapan kau menyebut ini berhasil?"


"Ahaha ... Sepertinya aku belum mengatakan ini kepada anda." Lucfier tertawa selama beberapa waktu sebelum mengajakku ke sebuah tempat.


Di sana, tepat pada sebuah lokasi yang dulunya adalah desa yang terbakar namun berada tidak jauh dari Kathalan, ada sekitar puluhan orang yang mendatangi kami.


"Apakah kau adalah orangnya?"


"Dia memang masih muda, tidak mungkin. Apakah kamu adalah petualang yang mengalahkan naga?" Ketika semua orang memenuhi aku dengan pertanyaan itu.


Lucfier yang merasa ini menggangu mendorong semuanya mundur beberapa langkah.


"Semuanya, beliau adalah tuan baru kalian mulai dari sekarang! Dari waktu ini, kami akan membangun sebuah negara dengan kalian sebagai warga negara pertama kami."


"Tunggu, apa?!" Sementara aku masih belum bisa mencerna perkataan Lucfier. Dia segera membungkuk hormat kepadaku sambil tersenyum bangga.


"Seperti yang anda lihat, Tuanku. Aku berhasil memengaruhi orang-orang ini untuk bergabung dalam kerajaan kita. Dan, apakah ini adalah waktunya ... Untuk melaksanakan seperti apa yang Tuan rencanakan tentang membangun sebuah negara itu?"